Headlines News :

Dituduh Selingkuhi Istri Wali Kota, PNS Dianiaya hingga Babak Belur

Oleh : Heri Zaldi Pada Hari Monday, 9 May 2011 | 17:11 WIB

Korban Mengaku, Pemukulan Itu Terjadi di Rumah Dinas


Warga Kota Medan, Sumatera Utara, dalam beberapa hari ini dihebohkan oleh berita penganiayaan yang dialami Masfar (45), PNS (pegawai negeri sipil) di sana. Yang membuat heboh, Masfar mengaku dianiaya Wali Kota Medan Rahudman Harahap. Berita semakin heboh setelah beredar kabar bahwa penganiayaan itu terjadi karena Masfar diduga berselingkuh dengan istri Rahudman.

Berita menghebohkan itu semakin menjadi perbincangan di lingkungan Pemkot Medan dan Pemprov Sumatera Utara (Sumut). Maklum, berita itu menyangkut nama sang Wali Kota Rahudman Harahap (RH), dan istrinya, Ny Yusriani Siregar (YSR). Masfar sendiri sehari-hari adalah PNS di Penanaman Modal Daerah (PMD) Pemprov Sumut yang diperbantukan di PKK provinsi sebagai pengurus.

Kemarin (1/5), Masfar masih dirawat intensif di RS Columbia Asia, Jalan Listrik, Medan. Kamis pekan lalu (28/4), dia diperiksa petugas dari Polresta Medan.

Dari informasi yang dihimpun, kasus penganiayaan yang dialami Masfar itu terjadi dua kali. Yakni, pada Senin pekan lalu (25/4) dan Selasa (26/4) lalu.

Penganiayaan pertama terjadi ketika Masfar mengantar pulang YSR ke rumah dinas wali kota. Menurut pengakuan Masfar, bukan hanya YSR yang dia antarkan hari itu. “Saya tiba di rumah dinas sore karena macet,” katanya dalam sebuah wawancara yang direkam melalui video yang diperoleh Sumut Pos. Dalam rekaman video berdurasi 9 menit 37 detik itu Masfar masih terbaring di tempat tidur. Dia bercerita dengan kalimat yang terbata-bata.

Setelah tiba di rumah dinas wali kota, Masfar berniat balik. Tapi, ketika Masfar akan keluar dari rumah dinas itu, RH menyuruh satpam menutup pintu gerbang. “Satpam kemudian memanggil saya. Katanya saya dipanggil Rahudman,” ceritanya. “Karena merasa tidak bersalah, saya datangi saja. Ketika saya datang, dia berdiri dari tempat duduknya di luar rumah. Dia lalu mendatangi saya. Nah, begitu dia di depan saya, langsung dipukulnya muka saya dua kali,” lanjut Masfar dalam rekaman itu.

Ketika itu Masfar sempat berusaha melarikan diri. Namun, petugas jaga rumah dinas wali kota menghadangnya dan kembali RH menganiaya korban hingga babak belur. Dalam kondisi tak berdaya itu, masih menurut Masfar, keluarlah YSR. Perempuan 52 tahun itu lantas menarik RH, suaminya, agar masuk ke rumah. “Saya disuruh pulang oleh ajudan,” imbuhnya.

Nasib apes Masfar berlanjut esok harinya (26/4). Saat itu dia akan berangkat kerja. Ketika melintas di Jalan H Adam Malik, dekat Hotel ASEAN, Medan, Masfar diserempet dua orang tak dikenal. “Mereka naik motor dengan memakai helm,” ceritanya. Tiba-tiba wajah Masfar disemprot cairan yang membuatnya merasa perih. Bukan hanya itu. Akibat semprotan tersebut, kulit wajah Masfar melepuh. “Seperti air keras,” katanya.

Dua pria tak dikenal itu menyemprot wajah Masfar hingga dua kali. “Karena tidak tahan dengan rasa sakit, saya terjatuh tak sadarkan diri,” beber Masfar. Masfar juga tidak tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit.

Apakah dua peristiwa itu saling terkait? Artinya, dua penganiayaan itu sama-sama diotaki RH? Hingga kemarin (1/5), Polresta Medan masih menyelidiki kasus tersebut.

Yang jelas, Polresta Medan sudah menerima pengaduan dari keluarga korban dengan pelapor atas nama Sri Listrikaningsih (41), istri Masfar. Laporan penganiayaan dan penyiraman soda api itu tertuang dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: STPL/1033/IV/2011/SU/Resta Medan tertanggal 25 April 2011.

Untuk melengkapi berkas perkara, laporan pengaduan korban dilengkapi surat permohonan visum et repertum kepada pihak Rumah Sakit (RS) Columbia Asia, Jalan Listrik, Medan, dengan nomor R/169/IV/2011/Resta Medan. Kapolresta Medan Kombespol Tagam Sinaga mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim untuk mengusut kasus tersebut.

Disinggung tentang dugaan keterlibatan oknum pejabat tinggi di Medan dalam kasus itu, Tagam belum dapat memberikan keterangan. “Kalau di laporan polisinya, terlapor masih berstatus lidik. Jadi, kami belum tahu siapa pelakunya,” katanya, Jumat (29/4) lalu.

Menurut Tagam, dalam mencari kebenaran hukum pihak kepolisian memerlukan alat bukti dan fakta-fakta. “Kita tidak membutuhkan pengakuan atau pernyataan. Dalam penyelidikan untuk membuktikan kebenaran itu kita hanya butuh bukti dan fakta-fakta, nggak perlu ada pengakuan,” lanjutnya. Dia mengakui, polisi tidak berwenang memeriksa Rahudman Harahap sebagai wali kota kecuali atas persetujuan presiden.

Sebelumnya, ketika dikonfirmasi Sumut Pos, Rahudman membantah berita yang melibatkan namanya itu. “Apa kau percaya kalau abang kau ini seperti itu? Itu kerjaan orang-orang sirik yang nggak senang dengan abangmu ini,” kata Rahudman sambil menuju mobil dinasnya Rabu pekan lalu (27/4).

Sumut Pos sebenarnya sudah berusaha mengonfirmasi peristiwa yang dialami Masfar kepada YSR. Namun, istri wali kota itu sejak Jumat lalu dikabarkan meninggalkan Medan. Sumut Pos sempat dihubungi seorang pejabat di Pemkot Medan yang mengaku mendampingi YSR. “Informasi yang disebar di Medan, Ibu (YSR) umrah. Tapi, sebenarnya di KL (Kuala Lumpur). Saya dan istri ikut mendampinginya. Di KL ibu menenangkan diri,” katanya.

Lantas, bagaimana sebenarnya kabar perselingkuhan antara YSR dan Masfar? Seorang kepala dinas di lingkungan Pemkot Medan menceritakan, hubungan khusus antara YSR dan Masfar sudah menjadi gunjingan di kalangan pejabat Pemprov Sumut dan Pemkot Medan. “Kami mendapat kabar, awal 2010 Pak Wali pernah mengamuk karena mengetahui perselingkuhan itu. Saat itu Bu Wali sampai ditampar,” ceritanya.

Di bagian lain, kabar tersebut sudah sampai ke Kantor Kementerian Dalam Negeri. Kapuspen/Jubir Kemendagri Reydonnyzar Moenek menjelaskan, dalam kasus seperti itu Kemendagri akan mengirim tim gabungan dari inspektorat jenderal (itjen), direktorat jenderal otonomi daerah (dirjen otda), dan biro kepegawaian. “Tim ini untuk meneliti benar tidaknya kasus ini,” terang Reydonnyzar kemarin (1/5). Tim tersebut diturunkan karena ada dugaan bahwa pelakunya adalah pejabat dan korbannya PNS.

Doni, panggilan Reydonnyzar, mengaku prihatin jika benar pelakunya adalah petinggi di Pemkot Medan. “Seorang pejabat mestinya bisa menahan diri, tidak emosional. Itu ranah hukum, mengapa harus emosi?” cetus Doni.

Karena perkara ini terkait dengan dugaan penganiayaan sehingga masuk ranah pidana, kata Doni, pihak kepolisian harus mengusutnya secara cepat. “Dari delik aduan, karena ada dugaan penganiayaan, ya jadi ranah pidana. Biar jelas siapa pelaku dan siapa korbannya, harus cepat diproses dan biar pengadilan yang membuktikan agar tidak jadi pergunjingan terus-menerus,” harap Doni. (ald/sumut pos)

0comments:

Tinggalkan Komentar...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...