Merdekapost.com - Konflik antara aktivitas stockpile pasir di Penyengat Olak, dinilai salah seorang tokoh masyarakat Jambi Nasrul Yasir, harus cepat disikapi. Khusus Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS) jangan tutup mata dengan penderitaan warga akibat aktivitas stockpile pasir itu.
Dijelaskan Nasrul Yasier, keluhan warga setempat yang rumahnya sangat dekat dengan lokasi stockpile pasir, jangan dipandang sebelah mata.
Apalagi, jabatan Bupati Muaro Jambi sangat penting perannya bagi perjuangan warga korban stockpile pasir tersebut.
"Bupati Muaro Jambi jangan cuek soal penderitaan warga. Harus bergerak cepat selesaikan masalah ini," ungkap Datuk Nasrul -sapaan akrab Nasrul Yasier, kepada media, Jumat (25/9/2026).
Selain itu, sambungnya, kinerja Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Muaro Jambi, harus dievaluasi oleh Bupati BBS. Alasannya, setelah turun mengecek lokasi, sampai sekarang tak ada aksi oleh Dinas LH Muaro Jambi.
"Izin lingkungan untuk stockpile pasir itu harus dievaluasi, kalau perlu dicabut. Ini demi kepentingan masyarakat. Jangan sampai malah berpihak ke pengusaha, kalau iya, Kadis LH harus diganti," tambah Datuk Nasrul.
Dia juga mengingatkan aparat hukum tidak ikut campur atau malah berpihak seperti membeking pengusaha stockpile pasir.
"Kalau memang ada oknum aparat yang membekingi stockpile yang sedang berkonflik dengan warga itu, dapat dilaporkan ke Bidang Propam Polda Jambi. Warga jangan takut sampaikan aspirasi," tutupnya.
Untuk diketahui, dampak yang dirasakan masyarakat tidak hanya bersifat fisik, tetapi telah merambah ke ranah sosial, kesehatan, dan ekonomi. Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya ada tiga dimensi krisis yang tengah dihadapi warga:
Dampak Lingkungan dan Infrastruktur
Operasional alat berat dan getaran yang dihasilkan ekskavator telah menyebabkan kerusakan struktural yang masif pada rumah warga. Laporan menyebutkan banyak rumah mengalami dinding retak, tiang penyangga miring, tembok batas bergeser, hingga genteng yang bocor dan pecah. Guncangan yang diibaratkan seperti “gempa” ini juga memicu tanah longsor (terbis), patahnya pipa air, dan yang paling krusial adalah rusaknya pondasi pagar serta tercemarnya air sumur warga. Timbunan pasir yang melebihi atap rumah dan tidak disiramnya jalan menambah buruk kondisi sanitasi lingkungan.
Dampak Kesehatan dan Kenyamanan
Pencemaran udara akibat debu pasir yang beterbangan menjadi keluhan utama. Warga melaporkan bahwa debu tidak hanya mengotori rumah, tetapi juga terhirup oleh anak-anak, memicu gangguan pernapasan. Selain itu, kebisingan operasional alat berat dan mobil pasir yang melintas ugal-ugalan telah merampas hak warga atas waktu istirahat. Waktu istirahat siang dan malam menjadi terganggu, bahkan aktivitas ibadah (azan) pun tidak luput dari kebisingan mesin. Anak-anak yang sedang demam pun turut terganggu ketenangannya.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Mobilisasi warga menjadi korban. Jalan lintas yang digunakan untuk mengangkut pasir menjadi macet, dan banyaknya kendaraan berat yang melintas meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Aktivitas alat berat yang terlalu dekat dengan pemukiman juga menimbulkan rasa was-was yang konstan. Dari sisi ekonomi, meskipun ada janji kompensasi, kenyataannya warga hanya menerima dampak negatif tanpa perbaikan fasilitas umum yang memadai.
Sampai berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan dari Bupati Muaro Jambi BBS, Kadis LH Muaro Jambi maupun dari pengusaha stockpile pasir.(red)
