Yopi-Suka Saling Serang

Pengamat : Etika Politik Terabaikan

TEBO, MP - Dua kandidat cabup dan cawabup Tebo, Yopi-Spto dan Sukandar-Hamdi, mulai saling serang, 12 hari jelang Pemilukada Tebo 5 Juni mendatang. Bahkan para tim sukses kedua kandidat saling membuat laporan ke Panwaslu Kabupaten Tebo untuk menunjukkan pelanggaran-pelanggaran lawan politiknya.

Para kandidat ini melakukan serangan dengan berbagai cara untuk menjatuhkan lawan politiknya. Mulai dari perkataan langsung, melalui spanduk hingga perang selebaran. Bahkan tak sedikit hingga adu jotos yang berujung pada pidana Pemilu yang ditangani oleh kepolisian.

M Chudori, Direktur Media Centre Suka-Hamdi, mengatakan bahwa tim mereka di lapangan sering diintimidasi oleh lawan politiknya. Bahkan bukan hanya diintimidasi, ada tim suksesnya yang dipukul oleh salah satu tim sukses kandidat. Menurut Chudori, lawan politik mereka itu sering sekali melakukan black campaign.

‘‘Di lapangan tim Suka-Hamdi banyak yang diintimidasi. Banyak tudingan-tudingan yang diarahkan ke kita. Padahal sudah jelas terbukti sekarang siapa yang curang. Kalau tidak ada kecurangan tidak mungkin Pilkada Tebo ini diulang, hal ini karena terbukti ada kecurangan,’‘ ujar M Chudori.

Dikatakan Chudori, black campaign yang dilakukan oleh lawan politiknya itu berupa penyebaran selebaran kepada masyarakat. Menurutnya banyak selebaran yang ditemukan di lapangan yang isinya menyudutkan kandidat nomor satu itu.

‘‘Banyak selebaran beredar seolah-olah Suka-Hamdi yang banyak bersalah. Padahal sudah jelas terbukti siapa yang curang pada Pilbup kemarin,’‘ jelasnya.

‘‘Masyarakat sudah cerdas sekarang. Sudah tahu siapa yang curang dan siapa yang melakukan black campaign. Kalau kami tidak pernah melakukan black campaign atau apa pun kecurangan lainnya. Tidak benar kami ada melakukan money politic, kami hanya membiayai operasional tim sukses. Kami selalu berpolitik santun,’‘ tambahnya.

Terpisah, Sugianto, Ketua Tim Pemenangan Yopi-Sapto, mengatakan bahwa pihaknya akan tetap memenangkan pemungutan suara ulang ini. Ditemui di Posko Yopi-Sapto, di Jalan Simpang Jambi, Muaratebo, dia mengatakan, saat ini lawan politik mereka sering melakukan black campaign untuk menjatuhkan Yopi-Sapto. Padahal kata Sugianto, dari awal mereka selalu berpolitik santun. Tidak ada melakukan kecurangan seperti yang dituduhkan kepada mereka.

‘‘Banyak selebaran kita temukan bahwa Yopi-Sapto telah melakukan kecurangan, padahal itu sama sekali tidak benar. Kita tidak ada melakukan kecurangan, malah sebaliknya kita selalu berpolitik santun. Yang melakukan kecurangan itu lawan politik kita,’‘ tutur Sugianto.

Untuk itu Sugianto berharap agar yang melakukan black campaign itu segera ditindak. Sebab menurutnya itu merupakan perbuatan yang tidak bertanggungjawab yang bisa merugikan kandidatnya. ‘‘Tapi masyarakat sudah cerdas juga. Apapun yang terjadi, Yopi-Sapto tetap akan menang,’‘ katanya tersenyum.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syamsu Rizal, Tim Pemenangan Yopi-Sapto. Menurutnya tim mereka sama sekali tidak pernah melakukan black campign. Begitu juga dengan menyebarkan selebaran, menurut Iday-sapaan Syamsu Rizal, red-, mereka tidak pernah menyebarkan selebaran. ‘‘Kita selalu berpolitik santun,’‘ jelasnya.

Iday menilai black campign yang dilakukan oleh lawan politiknya itu merupakan bentuk ketidaksanggupan untuk bertarung kembali. Untuk itu ia meminta agar petugas mengusut tuntas pelaku black campign itu. ‘‘Kita minta segera ditindak,’‘ pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat Hukum Jambi, Thabrani M Saleh saat dimintai tanggapannya mengenai gesekan-gesekan yang terjadi menjelang pelaksanaan pemungutan suara ulang, mengatakan, konflik ini bakal berkepanjangan.

“Saya menilai, konflik Pemilukada ulang di Tebo ini bakal berkepanjangan. Selama ada kandidat dan tim ini tidak menyadari sebab akibatnya,” ujarnya kepada harian ini kemarin (24/05).

Thabrani menambahkan, konflik antar pendukung atau para kandidat dalam Pemilukada ulang ini dampaknya tidak bagus terhadap masyarakat.

“Ini terjadi karena mereka sama-sama takut kalah, kondisi seperti ini sudah tidak kondusif dan tidak sehat lagi. Makanya mereka saling menjatuhkan,” tambahnya.

“Mereka membuat isu-isu yang buruk, saling menjatuhkan dan mencari-cari kelemahan lawannya. Jadia siapa pun yang menang nanti konflik pasti berkepanjangan, para pendukungatau kandidat yang kalah pasti tidak puas,” jelasnya.

Jadi menurutnya, dalam perebutan orang nomor satu di Tebo ini, para kandidat dan tim sudah mengabaikan etika dalam berpolitik.

“Kalau ada etika politik pasti tidak akan seperti ini. Kalau seperti ini sudah mengabaikan etika dalam berpolitik, mereka sudah jor-joran seperti ini dan menghalalkan segala cara untuk menang, siap habis-habisan dan mengeluarkan kekuatan yang ada,” sebutnya.

Untuk itu, kandidat yang bertarung harus bersama-sama kembali kepada kondisi awal demi masyarakat Tebo.

“Anggaplah siapa yang terpilih itu merupakan amanah kepadanya, ini demi masyarakat Tebo juga, “ ungkapnya.

Namun jika tetap dengan kondisi seperti ini, angka golput pada pemungutan suara ulang ini jumlahnya akan tinggi. “Kalau tetap seperti ini, besar kemungkinan angka golput akan meningkat, karena sebagian masyarakat sudah tidak simpati lagi dengan cara-cara yang dilakukan para kandidat,” tuturnya.

Pengamat lainnya, Sayuti Una mengatakan, jika sesuatu dimulai dengan konflik maka selanjutnya akan tetap terjadi konflik.

“Jadi jika sesuatu diawali dengan konflik, maka konflik ini akan berkepanjangan. Karena yang menang merasa kemenangannya tertunda gara-gara adanya yang menggugat. Begitu juga untuk yang menggugat, ia juga ingin menang. Jika sesuatu diulang seperti ini seringkali diwarnai itu,” katanya.

Selain itu, gesekan-gesekan ini terjadi karena adanya indikasi melemahnya nilai-nilai kesatuan akhir-akhir ini, berkembangnya iklim saling kurang menghargai, terutama dalam artikulasi politik.

Untuk meredam konflik ini, menurut Sayuti pihak Panwas yang mempunyai wewenang harus lebih pro aktif. “Namun sayangnya undang-undang memberikan kewenangan yang kecil kepada Panwas, karena sifatnya mereka hanya sementara,” sebutnya.

“Selain itu pemerintah daerah maupun tingat provinsi yang sedang berkuasa harus memberikan pencerahan yang fair kepada masyarakat dan pendukung serta para kandidat. Namun sekarang itu susah mau memberikan pencerahan secara fair, disebabkan pemerintah sudah terlibat politik,” sambung Sayuti.

Adanya gesekan-gesekan antar pendukung, tim sukses bahkan kandidat ini akan berdampak bagi angka golput. “Ini akan berdampak bagi para pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya. Bagi yang memilih, mereka harus jeli dalam menentukan pilihan,” tandasnya. )ald

Related Postss

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs