Dugaan Penyebab Turunnya Popularitas Demokrat

Massa Demokrat beberapa waktu yang lalu, Kini popularitas PD
dinilai sedang mengalami penurunan drastis

BANDUNG - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Presiden RI dinilai kurang tegas terkait penyelesaian kasus korupsi.

Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab menurunnya popularitas partai penguasa itu seperti terungkap dalam penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Kasus korupsi saat ini masih menyita perhatian publik. Tak pelak publik menjadikan korupsi sebagai parameter keberhasilan pemerintahan yang saat ini dipegang Partai Demokrat.

“Menurunnya popularitas karena ketidaktegasan (SBY) ditambah tidak jalannya mesin politik,” jelas pengamat hukum Universitas Padjajaran, Yesmil Anwar saat dihubungi okezone, Senin (13/6/2011).

Menurut dia, kasus terakhir yang menonjol melibatkan mantan Bendahara Umum PD Muhammad Nazaruddin.

Pemerintah dianggap kalah cepat sehingga Nazaruddin lebih dulu lari ke luar negeri. Terlebih, masih banyak koruptor yang saat ini masih berada di luar negeri dan belum ada kejelasan penyelesaian hukum, termasuk Nunun Nurbaeti.

“Seharusnya dari dulu SBY sudah melakukan perjanjian ekstradisi dengan Singapura misalnya. Kasus dengan luar negeri ini adalah tiket untuk mendongkrak popularitas SBY, namun tidak dilakukan,” paparnya.

Yesmil juga menilai, mesin produk SBY seperti Satgas Mafia Hukum, tidak berfungsi maksimal.

Mesin tersebut, lanjut dia, belum terlalu dirasakan manfaatnya dalam menciptakan rasa keadilan masyarakat. Karena itu, sisi penegakan hukum cenderung jalan di tempat.

“Kasus lama belum tuntas muncul kasus baru. Jika ke depan masih saja tidak tegas, popularitas akan terus menurun,” tegasnya.

Dalam survei yang dirilis Minggu kemarin, LSI menyebutkan popularitas PD turun dari 20,85 persen pada 2009 menjadi 15,5 persen pada Juni 2011. Sementara Partai Golkar naik dari 14,45 persen menjadi 17,9 persen. PDIP juga menunjukkan kenaikan elektabilitas, yakni dari 14,03 persen menjadi 14,5 persen.

Survei dilakukan pada 1 hingga 7 Juni 2011 melibatkan 1.200 responden dari seluruh Indonesia. Margin of error plus-minus 2,9 persen.(ol/her)

Related Postss

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs