Begini Pengakuan Istri di Bungo yang Sewa Pembunuh Bayaran Habisi Suaminya, Baru 2 Minggu Menikah Sudah KDRT

Dua tersangka kematian Budi Lestari, warga Kuamang Kuning, Kabupaten Bungo, yaitu M istri korban dan J mertua korban.(Doc.Tribunjambi)

BUNGO| MERDEKAPOST.COM - Kematian Budi Lestari, warga Kuamang Kuning, Kabupaten Bungo, memasuki babak baru setelah polisi menetapkan sejumlah tersangka. Tiga tersangka, yaitu M istri Budi, J mertua Budi, dan MU sebagai eksekutor.

Tirai kasus kematian Budi Lestari yang mayatnya ditemukan di kebun sawit kawasan Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, mulai tersingkap.

Dilansir dari Tribun Jambi, yang berkesempatan mewawancarai dua tersangka, M dan J, yang kini telah menjadi tahanan Polres Merangin.

Dalam pengakuannya, M istri Budi Lestari menuturkan perjalanan rumah tangganya selama 14 tahun.

Dia mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sejak awal pernikahan.

Dia juga mengaku keputusan yang berujung pada kematian suaminya dilakukan dalam kondisi yang ia sebut sebagai kekhilafan.

Bagaimana pengakuan M, sang istri yang jadi tersangka kematian suaminya Budi Lestari? Berikut petikan wawancara Jurnalis Frengky Widarta bersama M:

Apa yang sebenarnya menyebabkan Ibu sampai terlibat dalam kasus ini?

M: Sebenarnya saya tidak berniat melakukan perencanaan pembunuhan ini.

Saya melakukan perbuatan ini karena khilaf.

Pernikahan saya sudah berjalan 14 tahun. Itu bukan waktu yang sebentar.

Awalnya, sebelum menikah, dia terlihat baik.

Dia sering memberikan makanan kepada keluarga dan bersikap baik kepada keluarga saya.

Setelah pernikahan berjalan sekitar dua minggu, baru terlihat bagaimana sikap suami saya.

Dia sering memukul, termasuk ketika ingin berhubungan dengan saya.

Saya tetap sabar dan ikhlas karena saya menikah untuk ibadah.

Saya bertahan sampai sekitar setengah tahun, kemudian saya pulang ke Jawa, ke rumah mertua.

Di sana kekerasan juga terus terjadi.

Saya pendam sendiri dan tidak pernah menceritakannya kepada orang lain.

Saya memilih merasakan semuanya sendiri.

Kapan kondisi tersebut mulai semakin berat?

M: Saya kemudian memiliki anak.

Saat hamil, dia juga kurang peduli kepada saya.

Saya tetap ikhlas menjalani semuanya.

Ketika melahirkan, saya juga mengaku mendapat perlakuan yang tidak baik.

Saya dimaki-maki dan tidak ditunggu.

Saat berada di ruang persalinan, saya bersama keluarga.

Saya sedang berjuang melahirkan anak kami, tetapi saya justru mendapat perlakuan yang menurut saya menyakitkan.

Setelah melahirkan, selama sekitar 40 hari saya tidak boleh melakukan banyak aktivitas.

Saat itu saya melihat suami saya menyentuh ibu saya.

Ibu saya kemudian langsung menolak.

Saya diam karena berpikir mungkin suami saya khilaf.

Bagaimana hubungan rumah tangga setelah itu?

M: Suami kemudian merantau.

Sekitar setahun kemudian dia pulang ke Jawa.

Kami kembali mengalami pertengkaran hebat.

Pertengkaran itu disaksikan mertua dan tetangga, tetapi mereka diam.

Saya sempat berkonsultasi dengan bapaknya, tetapi tidak mendapat banyak tanggapan.

Saya juga pernah berbicara dengan sepupunya.

Dia mengatakan kepada saya agar bersabar karena semua itu merupakan ujian.

Saya akhirnya bertahan karena anak.

Setelah itu suami kembali merantau ke Sumatra.

Ibu tadi menyebut mengalami kekerasan selama 14 tahun. Seperti apa yang Ibu maksud?

M: Perlakuan suami selama 14 tahun sangat memengaruhi mental dan fisik saya.

Bukan hanya kekerasan berupa pukulan.

Saat saya datang bulan, saya mengaku tetap dipaksa berhubungan seksual dengan cara yang tidak saya inginkan.

Saya sudah menangis dan menolak, tetapi dia tetap memaksa.

Saya hanya bisa menangis.

menurut saya, suami mengalami dorongan seksual yang sangat tinggi.

Bagaimana karakter Budi di mata Ibu ketika berada di luar rumah dan ketika berada di rumah?

M: Kalau di depan orang, dia pintar.

Dia manis dan bisa berbicara dengan orang lain.

Tetapi kalau di rumah, dia lebih banyak diam.

Kalau saya bertanya mengenai masa depan anak, sekolah, atau masalah keuangan, dia diam.

Saya juga tidak tahu dia memiliki utang di mana saja.

Untuk utang di toko, justru saya yang diminta mengambil.

Apakah Budi memiliki kebiasaan lain yang Ibu ketahui?

M: Dia sering minum alkohol dan berjudi.

Bagaimana dengan dugaan perlakuan Budi terhadap ibu Ibu?

M: Soal itu, ibu saya yang menceritakannya setelah suami meninggal.

Ibu mengatakan suami saya memperlakukannya seperti suami istri sebanyak dua kali.

Saya benar-benar syok.

Saya kaget bagaimana hal seperti itu bisa terjadi kepada ibu saya sendiri.

Bagaimana Ibu mengetahui persoalan keuangan Budi?

M:  Saya juga pernah ditanya polisi mengenai kebun yang atas nama suami.

Polisi juga menanyakan soal uang Rp50 juta yang katanya dikirim dari Jawa untuk membeli lahan.

Saya tidak tahu soal uang tersebut.

Kalau soal keuangan, saya tidak tahu siapa yang mengirim uang kepada almarhum.

Apa yang Ibu rasakan setelah ditangkap polisi?

M: Saya menangis dan merasa hancur.

Saya merasa berdosa kepada Allah.

Saya juga merasa semuanya campur aduk.

Setelah almarhum meninggal, setiap malam saya merasa seperti diganggu.

Saya juga menjalani ibadah selama berada di tahanan.

Saya menjalankan puasa sunah karena selama Ramadan sebelumnya saya banyak meninggalkan puasa.

Saat Ramadan, saya mengaku sering dilarang berpuasa oleh suami.

Dia mengatakan saya harus mengikuti suami.

Kalau saya berada di penjara, saya ingin memperbaiki diri.

Saya ingin lebih taat beribadah dan membayar kewajiban kepada Allah. 

(Editor: Aldie Prasetya| Source: Jambi.Tribunnews.com) BERSAMBUNG... 

Related Postss

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs