Korea Selatan: Keberhasilan Tangani COVID-19 Tanpa Lockdown, Ini Langkah dan Kebijakannya

Pengumuman penutupan taman wisata di sekitar Seoul, Korea Selatan. (Foto: Khiththati/acehkini) 
MERDEKAPOST.COM - Korea Selatan tanpa lockdown, hampir berada di area golden cross penanganan Virus Corona atau COVID-19. Dalam seminggu terakhir, angka mereka yang positif lebih sedikit daripada yang dinyatakan sembuh. Hal ini tak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan negara itu untuk menekan penyebaran wabah virus. 

Menurut data Korean Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), pada Kamis, 26 Maret 2020, ada 104 kasus baru dan 414 pasien yang dinyatakan sembuh. Di Korea Selatan sendiri pasien baru dinyatakan sembuh setelah kembali melewati 3 kali tes ulang. 

Data Jumat pagi, 27 Maret 2020, sudah ada 4.528 pasien yang sembuh dari jumlah kasus 9,332 sejak pemerintah mengumumkan kasus pertama pada 20 Januari 2020. Ada 4.665 orang yang sedang dirawat. Angka ini menunjukkan bahwa 44,8 persen pasien sembuh total.

Data KCDC lainnya menunjukkan bahwa 139 pasien yang meninggal dunia atau 1,42 persen, dan kebanyakan dari mereka sudah berusia lanjut, atau memiliki sakit bawaan lainnya seperti diabetes dan darah tinggi. Sejauh ini menurut data Jumat pagi, ada 376.961 orang yang sudah dites Virus Corona. 

Apa yang membuat Korea Selatan sukses menangani COVID-19 tanpa lockdown seperti negara lain? Berikut penelusuran media acehkini dari Korea Selatan: 

Tanggap  

Korea Selatan sangat cepat tanggap terhadap kasus ini. Saat kasus pertama kali diumumkan pada tanggal 20 Januari 2020 lalu, warga Korea sedang menikmati libur Seolla atau tahun baru Korea. Segera setelah itu, sekolah menambah hari libur yang hanya 4 hari menjadi seminggu sembari memberikan instruksi kepada siswa mereka.

Alat transportasi umum seperti kereta bawah tanah serta tempat umum seperti taman segera memberikan informasi terkait virus ini. Warga dianjurkan untuk menggunakan masker dan sering mencuci tangan. Tidak ada yang menganggap remeh, walaupun baru ada beberapa kasus. Pemerintah Korea belajar dari kasus virus Mers beberapa tahun lalu bahwa pencegahan merupakan yang terbaik.

Pusat belanja di Seoul, Korea Selatan. Foto: Khiththati/acehkini

Tes Cepat 

Pemerintah Korea melalui KCDC langsung melakukan tes dan investigasi terhadap mereka yang menunjukkan gejala. Setelah meledaknya kasus karena penularan super yang terjadi setelah adanya pasien ke 31, ada banyak tes dilakukan setiap harinya. Kini, dalam sehari ada sekitar 10 ribu tes dapat dilakukan.

Tes dilakukan tidak memakan waktu lama. Kini pemerintah Korea juga melakukan tes di bandara kepada penumpang pesawat yang mendarat di sana. Tes ini dilakukan untuk mengetahui lebih cepat penumpang positif COVID-19, sebelum mereka masuk ke kota-kota di Korea. Minggu ini saja, ditemukan 86 kasus positif pada penumpang yang datang dari Eropa, 45 yang datang dari Amerika dan 8 orang yang terbang dari negara Asia.

Inovasi 

Beragam penelitian dan inovasi baru juga bermunculan dan cepat. Seperti yang sudah acehkini beritakan sebelumnya. Misalnya saja, beberapa Minggu lalu telah diproduksi alat tes baru yang dapat mendeteksi virus walaupun dalam jumlah kecil, yang biasanya terlewat oleh alat biasa, hasilnya pun lebih cepat. Orang yang ingin melakukan tes, tidak harus mengantre di suatu tempat untuk menanggulangi penularan. KCDC memperkenalkan drive through, tempat tes seperti box telepon umum. Sementara yang terbaru adalah walk through yang diperkenalkan di Bandara untuk mereka yang baru mendarat.

Inovasi lainnya yang paling baru di pekan ini adalah tracing lokasi yang sudah dikunjungi oleh pasien positif COVID-19, mereka yang sudah pernah melakukan kontak dengan pasien tersebut. Beberapa minggu lalu, tracing lengkap ini paling cepat diketahui setelah 24 jam pasien dinyatakan positif. 
Namun kini KCDC menggunakan big data yang dapat melakukan tracing paling cepat 10 menit setelah pasien dinyatakan positif. KCDC bekerja sama dengan 27 lembaga publik dan privat termasuk kepolisian, asosiasi kartu kredit, 3 provider dan 22 perusahaan kartu kredit. Sehingga pemerintah bisa meminimalkan mata rantai penularan.

Berlomba Menyumbang 

Orang-orang di Korea Selatan berlomba untuk menyumbang membantu pemerintah menanggulangi dampak yang timbul dari Virus Corona. Minggu ini, setelah melakukan rapat para pejabat tinggi mulai dari Presiden, Perdana Menteri hingga menteri di bawah jajarannya, sepakat untuk mengembalikan 30 persen gaji mereka selama 4 bulan untuk membantu keluarga berpenghasilan rendah menghadapi krisis di seluruh Korea.

Selain selebritis, pemerintah dan orang-orang kaya banyak juga yang datang menyumbang walaupun dalam jumlah kecil. Mereka menamainya dengan 'small but big'. Misalnya beberapa orang mengantre menyumbangkan satu atau dua masker mereka di beberapa station subway. 

Ada pendonor tak dikenal meletakkan 500 masker di kantor Public Welfare Bupyeong dengan note minta diteruskan kepada yang membutuhkan. Roh Joon Pyo yang baru berusia 11 tahun dan ibunya menyumbang 100 masker, 200 sarung tangan latex dan 86 botol handsanitizer. Roh Joon Ryo membongkar tabungan barunya, untuk ikut menyumbang. 

Kemarin juga ada seorang nenek yang menyumbangkan hasil jualannya ke Public Welfare Namdong-gu. Choi Soon Hee, mengumpulkan uang yang diperolehnya dari berjualan spon pembersih dapur seharga 1.000 won satunya. Nenek 90 tahun ini berhasil mengumpulkan 200.000 ribu won untuk disumbangkan. 

Patuh Pada Pemerintah  

Masyarakat Korea Selatan sangat patuh atas imbauan yang diberikan oleh pemerintah mereka dalam menghadapi COVID-19. Mereka mengikuti semua anjuran pemerintah dengan baik.

Pemerintah Korea Selatan juga menganjurkan warganya untuk tetap tinggal di rumah dan keluar seperlunya sampai 5 April 2020. Sekolah diliburkan, festival dibatalkan dan rumah ibadah ditutup untuk sementara. 

Pemerintah Korea juga mengeluarkan peraturan terbaru untuk mereka yang mendarat di Korea setelah 19 April, untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Bagi yang melanggar akan didenda dan dikenakan hukuman penjara. Bagi orang asing yang melanggar akan dideportasi dari Korea Selatan.

Pemerintah dan masyarakat Korea sadar diperlukan usaha bersama untuk menanggulangi penyebaran virus corona ini. Negara ini belajar banyak dari pandemi masa lalu dan menjadikannya guru terbaik. (ald)

Sumber : Kumparan

Related Posts

0 Comments:

Post a Comment


Recent Posts

Copyright © MERDEKAPOST.COM. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Privacy Policy | Disclaimer | Peta Situs