Kondisi Pemkab Tebo Kacau, 9 Kadis Ajukan Pindah

Para Pegawai dilingkungan Pemkab Tebo saat mengikuti Apel Senin
baru-baru ini (doc/MP)


MUARA TEBO – Kondisi dilingkungan Pemerintahan Kabupaten Tebo akhir-akhir ini terlihat kacau, para staf seperti anak ayam kehilangan induk, temuan Koran ini dibeberapa dinas nampak meja-meja kosong ditinggalkan oleh para staf sementara jam dinas belum berakhir.

Kondisi seperti ini kian bertambah buruk pasca munculnya isu bahwa beberapa orang kepala dinas dan kepala kantor dilingkungan Pemkab Tebo mengajukan pindah tugas kedaerah lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa Pemilukada yang telah berlangsung beberapa waktu yang lalu menyisakan kekhawatiran beberapa Pejabat yang dirinya merasa terlibat langsung dalam politik praktis. Kondisi ini kian diperburuk lagi dengan adanya defisit senilai 40 Milyar, sungguh telah menjadi permasalahan yang komplit.

Dari informasi yang diperoleh dari sumber yang layak dipercaya menyebutkan bahwa ada 9 (Sembilan) orang Kepala Dinas atau Kepala kantor yang mengajukan pindah tugas keluar Tebo, nama-nama tersebut adalah H. Indones (Kepala DPPKAD), H. Bajuri, S.Pd (Kakan Kesbangpolinmas), Drs. Abu Bakar, M.Si (Kadis Dikbudpora), Ir. Rahansi (Kadis Pertanian), Mukhsin (Kadis Peternakan dan Perikanan), Islahudin (Kadis Perkebunan), Drs. Haflin (Kadinkes), Jalaluddin (Kadis Dukcapil) dan Ir. Eka Wijaya (Kadis Perindagkop dan UKM).

Sumber Koran ini tersebut menyebutkan bahwa 9 orang pejabat yang mengajukan pindah itu sebelumnya sudah dibantah oleh Plh Bupati dan Peltu Sekda Tebo H. Abdullah beberapa waktu lalu, dan dikatakan oleh Abdullah bahwa itu hanya isu dan tidak benar, akan tetapi dengan adanya temuan surat rekomendasi maka saya menilai bahwa itu bukan isu, pengajuan pindah itu memang benar adanya. Ungkapnya.

Pantauan Koran ini, akhir-akhir ini beberapa pejabat atau kepala dinas banyak yang jarang masuk kantor, akibatnya, para staf atau bawahannya di dinas banyak yang melalaikan tugas, seperti kondisi dibeberapa dinas instansi yang ruangannya terlihat kosong padahal jam kerja belum habis. Ini harus kita akui bahwa dampak dari ketidakhadiran dari pimpinan atau kepala dinas yang bersangkutan sehingga anak buahnya menjadi lalai dan bebas pulang kantor sebelum jam kerja habis.

Kemudian, disegi pelayanan publik juga mengalami kendala, sebab, jika seorang kepala dinas tidak berada ditempat maka bagi bawahan akan kesulitan bahkan tidak berani untuk mengambil kebijakan, beberapa rekanan mengaku kecewa karena tidak ada kejelasan serta kebijakan dalam melanjutkan kegiatan proyeknya.

Kondisi semakin parah karena Kabupaten Tebo mengalami defisit senilai 40 Milyar. Siapa yang akan menyelesaikan permasalahan ini jika para pejabat selaku pemegang anggaran dan kebijakan sudah ramai-ramai pindah. Seolah-olah tidak ada pertanggung jawaban dan meninggalkan Tebo dalam kondisi yang tidak menentu.

Sementara itu, Pj Bupati Tebo kepada sejumlah wartawan menyebutkan bahwa dirinya tidak mengagendakan untuk memindahkan pejabat, terkecuali jika memang sudah masa pension dan pejabat yang bersangkutan memang tidak bisa menjalankan tugas dengan baik, dia menghimbau kepada para pejabat, kepala bidang dan camat untuk tidak mengajukan pindah, mari bersama-sama kita membangun Tebo”, Ungkapnya.

Dikatakannya, “Tugas saya selaku Pj bupati Tebo di dalam SK dibunyikan selama 1 tahun, atau hingga Bupati Terpilih yang defenitif dilantik, namun, saya akan berusaha untuk melaksanakan dan melanjutkan pembangunan Kabupaten Tebo sebagaimana yang direncanakan, untuk itu saya mengharapakan semua elemen dapat berkerja sama membangun Tebo dan saya menghimbau kepada kita semua untuk melupakan euphoria politik pasca pelaksanaan Pemilukada Kabupaten Tebo”. Ungkap Haviz. (ald)

Yopi Sebut Polisi Berpihak ke Suka-Hamdi

MUARA TEBO – Nama Kapolda Jambi Brigjen Pol Drs Bambang Suparsono disebut-sebut dalam sidang Mahkamah Konstitusi (MK), kemarin. Nama Kapolda muncul dalam kesaksian yang diberikan Yopi Muthalib yang memberikan keterangan di penghujung sidang.

Kepada majelis hakim, Yopi mengaku mendengar Kasat Intel dan Kapolres Tebo mengeluh karena ditekan Kapolda Jambi untuk mengatasi aksi 41 preman dari Lampung yang mengganggu ketenangan dan ketertiban.

Kepada koran ini tadi malam, Yopi menyatakan apa yang disampaikan di MK adalah benar. “Saya berani bertanggungjawab atas apa yang saya katakan,” ujarnya. Menurutnya, Kapolres Tebo menyatakan ke dirinya ketakutan dan merasa serba salah. “Dia bercerita ke saya, memang begitu,” ungkapnya.

Yopi menyatakan ada pihak lain yang melakukan intervensi dalam pemungutan suara ulang di Tebo. “Itu fakta, saya tidak mengada-ada. Ini MK, ini lembaga resmi, saya tidak mengada-ada!” tegasnya. Sementara itu, Kasat Intel Polres Tebo AKP Eko Cahyo membantah tudingan Yopi. “Wah, tidak benar itu. Silahkan hubungi Pak Kapolres saja,” demikian pesan pendek yang dikirim Eko Cahyo.

Jawaban serupa disampaikan Kapolres Tebo AKBP M Arifin, SIK. Menurutnya, tidak benar pihaknya mendapat tekanan dari Kapolda untuk berpihak ke salah satu pasangan calon. “Tidak betul, Kapolres Tebo tidak pernah mengeluh tentang apa pun, dan tidak pernah merasa ditekan oleh siapa pun,” tegasnya.

“Kita Polri khususnya Polres Tebo tidak memihak kemana-mana. Polri khususnya Polres Tebo bersikap netral dalam pemilukada bupati Tebo kemarin. Tolong buktikan kalau memang ada kita memihak ke salah satu pihak,” kata Arifin.

Tudingan ini juga mendapat tanggapan pengacara Suka-Hamdi, Heru Widodo, SH. Menurutnya, kliennya tidak pernah melibatkan atau meminta dukungan dari Kapolda. “Yang kami ketahui, Polda memerintahkan seluruh Polres untuk memback up pengamanan pemungutan suara ulang, sekali lagi memback up pengamanan, bukannya mendukung pasangan tertentu. Itu yang kami ketahui,” ujar Heru.

Terkait tudingan Yopi, Heru menyatakan harus dilakukan pembuktian lebih lanjut. Akan lebih bagus jika institusi kepolisian dihadirkan untuk memberikan kesaksian langsung di sidang MK. “Itu kan baru keluhan dari orang yang punya kepentingan dan silakan dibuktikan. Saya berharap agar institusi (Polda Jambi - red) yang dihadirkan langsung dan bersaksi di persidangan agar clear.

Karena pernyataan sepihak seperti yang dikatakan Yopi tadi hanya akan menimbulkan isu di masyarakat Tebo saja,” ujarnya. Sebelum Yopi memberikan keterangan, sejumlah saksi juga diperdengarkan keterangannya. Mereka menyatakan di sejumlah TPS, para pemilih pendukung Yopi tidak mendapat undangan. Selain itu, telah terjadi money politic yang dilakukan oleh tim Suka-Hamdi.

Saksi juga mengeluhkan laporan yang dibuat Tim Yopi-Sapto tidak ditindaklanjuti oleh Panwaslu. Menanggapi kesaksian ini, Heru menyatakan setelah dilakukan pengecekan, ternyata warga yang tidak mendapat undangan karena mereka tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Soal money politic, setelah dilakukan pengecekan, pihaknya tidak mengenali pelaku yang disebutkan. “Menurut saya, bisa saja ada pihak lain yang menyuruh dia untuk bagi-bagi uang mengatasnamakan tim nomor urut 1. Yang pasti itu bukan kami yang melakukannya,” jelas Heru.

Panwaslu juga memberikan penjelasan atas keterangan saksi. Menurut anggota Panwaslu Kabupaten Tebo, Yuli Astuti, pihaknya tidak bisa menindaklanjuti sebagian laporan yang disampaikan Tim Yopi-Sapto.

Alasannya, laporan tersebut disampaikan setelah digelar pleno KPU, bukan sebelum pleno. Laporan disampaikan secara kolektif. Tim Yopi tidak menghadirkan para saksi, hanya memberikan foto copy surat pernyataan para saksi. Ketika Panwaslu meminta agar para saksi dihadirkan, hingga sidang MK berlangsung saksi tersebut belum juga dihadirkan.“Padahal, ketika kami meneruskan laporan tersebut ke polisi, pasti polisi akan menanyakan mana saksinya. Jadi susah kalau mereka tidak mau menghadirkan saksinya,” ungkapnya.

Justru, pihak Panwaslu mencatat tiga laporan Suka-Hamdi yang sudah dalam proses. Laporan tersebut terkait keterlibatan PNS, camat, dan kepala rumah tangga kantor bupati. Saat ini, rekomendasi Panwaslu sudah diserahkan ke Sekda untuk ditindaklanjuti.

“Padahal sebenarnya berdasarkan fakta dari keterangan Panwas tadi (di sidang MK, red) dari tiga laporan pelanggaran PP 53 semuanya dilakukan pasangan Yopi-Sapto,” tambah Heru lagi. (ald/joe)

Bupati Tebo ; Proyek Multi Years Sebabkan Defisit

Pj Bupati Tebo (paling kiri) bersama LSM dan Wartawan

Havis : Kedepannya Akan Kita Hapus

MUARA TEBO – Pejabat (Pj) Bupati Tebo Havis Husaini, Kamis (30/6) kemarin menggelar rapat kabinet bersama seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kabupaten Tebo bertempat di ruang aula melati Kantor Bupati Tebo. Rapat tersebut mencari solusi mengenai defisit APBD Kabupaten Tebo Tahun Anggaran (TA) 2011 sebesar Rp 40 miliar.

Bupati mengatakan salah satu langkah yang diambil Pemkab Tebo untuk mengatasi deficit anggaran tersebut adalah mengevaluasi ulang sejumlah proyek multi years. “Salah satu langkah yang akan kita ambil untuk mengatasi defisit ini adalah mengoreksi ulang daftar anggaran dan mengevaluasi ulang proyek atau program pembangunan multi years,” tukas Havis usai rapat.

Menurutnya, salah satu penyebab terjadi defisit anggaran APBD Kabupaten Tebo adalah proyek pembangunan multi years yang dinilainya menyedot anggaran APBD Kabupaten Tebo. “Untuk ke depannya mudah-mudahan tidak ada program multi years lagi, karena anggaran terlalu tersedot ke sana. Program ini nantinya akan dihapuskan,” tegasnya lagi.

Langkah lain untuk mengatasi defisit anggaran tersebut, Bupati mengatakan akan menghapus atau menunda pelaksanaan sejumlah proyek pembangunan dari daftar anggaran. “Yang dimasukkan ke dalam daftar anggaran hanya proyek pembangunan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan menyangkut hajat hidup orang banyak,” katanya.

Bupati mengatakan salah satu proyek pembangunan yang akan dipertahankan untuk masuk ke dalam daftar anggaran adalah pengembangan Pasar Tanjung Bungur Muara Tebo. Dengan tujuan agar tidak menghambat lalulintas jual beli di satu-satunya pasar tradisional yang ada di Kota Muara Tebo itu.

“Selain itu untuk perbaikan lampu jalan Kota Muara Tebo tetap akan kita coba masukkan kembali ke dalam daftar anggaran. Karena ini saya anggap penting, sebagai ibukota kabupaten tidak mungkin kita biarkan jalan di Kota Muara Tebo gelap gulita”. pungkasnya. )**

Pelebaran Jalan Km 1 Muara Tebo Telan Dana 9,8 Milyar Dikerjakan Asal Jadi

Bupati Minta Rekanan Memperbaiki Pekerjaannya

MUARA TEBO - Proyek pelebaran jalan lintas Kabupaten Tebo-Bungo yang dikerjakan oleh PT. MKS (Merangin Karya Sejati) mulai dari simpang Tugu Sultan Thaha di km 1 sampai Rumah Dinas Bupati Tebo km 3 di tuding masyarakat Tebo dikerjakan asal jadi alias asal sudah.

Kondisi proyek pelebaran jalan tersebut, kini kian parah berlobang serta bergelombang dan sangatlah berbahaya bagi pengguna jalan baik itu pengendara roda dua maupun roda empat.

Jalan tersebut sering menelan korban laka lantas dan jika terjadi hujan deras badan jalan tersebut tergenang air. padahal BPK sudah mengintruksikan PT MKS sebagai rekanan agar memperbaiki pekerjaan tersebut, namun, hingga kini intruksi BPK belum dilaksanakan.

Sijon, Salah seorang warga masyarakat Tebo yang mengaku tiap hari melewati jalan tersebut, mengatakan bahwa proyek pelebaran jalan lintas tebo-bungo yang dikerjakan oleh H.Ismail PT.MKS nampaknya seperti mengerjakan proyek jalan lingkungan saja, padahal jalan ini adalah jalan lintas yang dilewati kendaraan-kendaraan bertonase atau berbeban berat, seharusnya proyek jalan lintas harus standar nasional dan sesuai dengan bobot kendaraan yang melintasi jalan tersebut, jangan asal jadi tanpa memikirkan dampak terhadap pemakai yang menggunakan jalan tersebut". tandasnya

Sijon juga menyebutkan, "siapa yang harus bertanggung jawab jika pengguna jalan tersebut mendapat musibah? pemerintah? kontraktor?, saya mengharapkan kepada pemerintah dan penegak hukum agar tegas menjalankan tugasnya sesuai ketentuan". ujarnya.

Sementara itu Pj Bupati Tebo Ir. H. Haviz Husaini M.Si mengatakan, pihaknya segera menginstruksikan kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tebo agar memanggil kontraktor atau rekanan H. Ismail segera memperbaiki pekerjaanya.

“Saya minta Kepala Dinas Pekerjaan Umum agar mamanggil rekanan yang mengerjakan proyek jalan tersebut dan segera memperbaikinya”. Ungkapnya didepan sejumlah wartawan. (joe)

Pembangunan Terminal Tebo Terbengkalai

Kondisi Terminal Muara Tebo di KM 7 kian memprihatinkan,
selain sudah mulai hancur, juga malam harinya sering dijadikan
tempat mesum (doc/MP)

Kalau Malam Beralih Fungsi Jadi Tempat Mesum

MUARA TEBO - Proyek pembangunan terminal Kabupaten Tebo di km. 07 jalan lintas Tebo-Bungo sudah terbengkalai lebih kurang selama tiga tahun, saat ini kondisinya sangat memperihatinkan, beberapa bagian bangunan terminal kondisinya sudah rusak, kaca banyak yang pecah begitu juga pintu sudah rusak, dan dibagian belakang sudah mulai longsor karena tidak ada turap penahan tanah.

Bahkan, lebih parahnya lagi terminal ini beralih fungsi menjadi tempat mesum dan memadu kasih bagi muda-mudi, karena kondisi terminal pada malam hari tanpa penerangan.

Seperti diungkapkan oleh Haryadi warga yang tinggal disekitar lokasi terminal, “Kami seringkali melihat pasangan muda-mudi yang ditengah kegelapan malam masuk ke komplek terminal, tidak jelas apa yang mereka lakukan, dan kejadian seperti ini bukan sekali saja kami melihatnya, namun kami tidak bisa berbuat apa-apa”. Ungkapnya.

Apabila kondisi seperti ini dibiarkan lebih lama lagi maka kondisi terminal akan semakin parah karena tidak ada control dan pengawasan dari pihak terkait.

Kadishub dan Infokom Kabupaten Tebo, Hatta, S.Sos saat dikonfirmasi Koran ini Senin (27/6) lalu, menyebutkan bahwa terminal Muara Tebo tersebut saat ini tahap pekerjaannya belum rampung disebabkan belum dianggarkan untuk kelanjutan proyek tersebut.

Adapun mengenai kerusakan bangunan terminal dibeberapa bagian seperti kaca yang sudah pecah dan pintu yang sudah rusak untuk saat ini belum bisa kita perbaiki karena terminal itu sendiri belum difungsikan.

Sementara itu ditanya soal gagalnya proyek terminal pada saat Madjid Mu’az menjabat Bupati Tebo, juga banyaknya temuan dari BPK serta sejumlah kasus yang menyelimuti mega proyek pembangunan terminal ini, Hatta membantah jika proyek terminal yang terletak dijalan lintas tebo-bungo Km. 7 itu gagal, dia berdalih bahwa proyek itu belum bisa dianggarkan.

“Proyek terminal itu tidak gagal, hanya saja belum bisa dianggarkan”, Bantah Hatta.

Dilanjutkannya, “dan Insya Allah tahun depan akan dianggarkan kalau saya masih menjabat didinas perhubungan dan apabila dewan menyetujuinya”. terang Hatta.

Untuk diketahui bahwa pembangunan terminal yang terletak di km 7 ini dikerjakan sudah sejak beberapa tahun yang lalu dengan dana milyaran rupiah, namun, karena dalih keterbatasan anggaran maka sampai saat ini belum selesai seratus persen dan belum bisa difungsikan. (joe)

Memprihatinkan, Kas TP-PKK Tebo Cuma Rp. 30 Ribu

TP PKK Kabupaten Tebo dan TP-PKK Kecamatan photo bersama
dengan Bupati dan Ibu beberapa waktu yang lalu (doc/MP)

MUARA TEBO – Informasi yang sangat memprihatinkan namun ternyata memang begitulah adanya di Kabupaten Tebo, aneh, dan terbilang tidak masuk akal, baru memasuki bulan ke enam atau triwulan kedua tahun 2011 namun dana kas TP-PKK Kabupaten Tebo tersisa Cuma Rp. 30 Ribu.

Hal ini diungkapkan sumber Koran ini yang menyebutkan bahwa informasi yang berhasil diperoleh dari petinggi atau pengurus TP-PKK Kabupaten Tebo bahwa kas dari organisasinya ibu-ibu ini yang tersisa Cuma tinggal 30 Ribu Rupiah.

Ketika ditanya apakah dana yang selama ini diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan PKK Kabupaten Tebo sudah terpakai semua, sumber Koran ini kembali menyebutkan bahwa memang demikian adanya, bahkan sudah diperiksa oleh BPKP dan tidak ada temuan atas penggunaan dana PKK, kendati minimnya sisa kas TP-PKK Kabupaten Tebo mengundang tanya dari sejumlah pihak.

Sebab, kondisi saat ini, TP-PKK Kabupaten Tebo baru saja diserahterimakan dari Ketua yang lama yaitu Ibu Hj. Umi Kalsum Madjid Mu’az ke Ibu Prof. DR.Hj. Anis Mariani Haviz Husaini selaku isteri Pejabat Bupati Tebo menggantikan H.A. Madjid Mu’az yang terhitung habis masa jabatannya hingga 12 juni 2011 lalu. Adapun serah terimanya baru dilaksanakan sekitar seminggu yang lalu yaitu pada Senin (20/6) bertempat di Kantor Gubernur Jambi dipimpin oleh Ibu Hj. Yusniana Hasan Basri Agus selaku Ketua TP-PKK Provinsi Jambi.

Namun, dengan informasi yang berkembang saat ini dilingkungan TP-PKK kabupaten Tebo sebagaimana disebutkan bahwa anggaran atau kas TP-PKK Tebo yang tersisa hanya Rp. 30 Ribu tentunya akan menimbulkan keraguan dan mengundang Tanya dari masyarakat, apakah dengan dana yang sejumlah itu TP-PKK Kabupaten Tebo bisa melaksanakan kegiatannya?.

Ketika Koran ini ingin menelusuri lebih lanjut, namun belum diketahui secara jelas dan belum ada pihak yang memberikan keterangan secara resmi.

Konfirmasi Merdeka Post dengan Ketua TP-PKK Kabupaten Tebo Ibu Prof. Hj. Anis Mariani Haviz belum didapatkan informasi yang jelas, Ibu Anis panggilan akrabnya, hanya menyebutkan bahwa dirinya belum tahu banyak tentang hal itu.

Dikatakannya, “Saya belum tahu mengenai hal itu, maklum Saya baru aja seminggu di Tebo, anda kan wartawan, cari dong informasinya, saya yakin wartawan Tebo kritis-kritis orangnya”. Ungkap Ibu Anis.

Sementara itu, Aktifis kebijakan pemerintah Kabupaten Tebo yang berasal dari LSM TOPPAN Kabupaten Tebo, Muchlisin Harahap, ketika dimintai komentarnya menyebutkan bahwa kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan, dirinya menyatakan bahwa seharusnya itu tidak mesti terjadi.

Dikatakannya,“ Jika kondisi ini memang benar demikian adanya, kami sangat menyesalkan hal itu, sebab, sebagai bagian dari masyarakat Kabupaten Tebo kita seharusnya malu, masa, organisasi seperti TP-PKK Kabupaten Tebo bisa minim kas nya sampai separah itu, bagaimana mau menjalankan program kerja, kalau dana Cuma tersedia 30 Ribu Rupiah”. Ungkapnya.

“Itu patut dipertanyakan, dikemanakan dana yang sudah dianggarkan untuk PKK, kalau pengurus berganti itu sah-sah saja, tapi dana kok juga ikut habis. Kita akan mempertanyakan hal ini, disinyalir ada yang tidak beres di tubuh TP-PKK Kabupaten Tebo yang selama ini adem ayem saja kelihatannya”. Pungkas Harahap. (joe)

PKS: Popularitas SBY Turun


Photo : Wasekjen PKS, Mahfudz Siddiq


JAKARTA - Survei awal Juni ini yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia mengungkapkan popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merosot jauh. Namun, tanpa survei ini pun, Partai Keadilan Sejahtera telah melihat kemerosotan citra SBY dari sejumlah masalah yang muncul belakangan ini.

Sekalipun tidak merinci masalah yang dimaksudnya, Ketua Fraksi PKS di DPR, Mahfudz Shiddiq, mengatakan masalah tersebut telah beredar menjadi opini publik dan pembahasan di media. "Kalau kita melihat secara kompeten dan observasi, masalah yang muncul itu bisa dipastikan berdampak negatif pada popularitas Presiden SBY," ujar Mahfudz di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (27/6).

LSI mempublikasikan survei "Kepuasan Publik atas Kinerja SBY" awal Juni ini. Dari 56,7 persen pada Januari 2011, popularitas SBY turun menjadi 47,2 persen. Menurut LSI, popularitas yang di bawah 50 persen ini pertama kali sejak SBY terpilih kembali pada Pemilu 2009.

Terlepas dari penyelenggara survei maupun motif politiknya, Mahfudz mengatakan,"Faktanya memang ada sejumlah kasus yang men-down grade popularitas SBY." Hal ini harus menjadi peringatan bagi pemerintahan SBY untuk meningkatkan kinerjanya.(her/rep)

Nazaruddin: Jatah Suap untuk Demokrat Diterima Anas Urbaningrum

M. Nazaruddin tersangka kasus suap pembangunan wisma atlet Sea Games

JAKARTA - Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin kembali membuat pernyataan menghebohkan menyusul penetapan status tersangka oleh KPK dalam kasus suap pembangunan wisma atlet Sea Games, Jaka Baring, Palembang, Sumatera Selatan.

Melalui pesan singkat Blackberry Messenger (BBM), Nazaruddin menyebut Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kecipratan uang tersebut senilai Rp 9 Milyar.

"Uang Rp 9 milyar itu dari Sekjen Menpora di berikan sama Paul, dari Paul diberikan ke I Wayan Koster dari Wayan dan Angelina Sondakh diserahkan ke Mirwan Amir dari Mirwan Amir diserahkan ke pimpinan Badan Anggaran(Banggar) langsung dan ketua Fraksi Demokrat dan Mirwan Amir kalau jatah Demokrat tidak diserahkan ke saya tetapi langsung ke ketua umum Demokrat Anas langsung,"ujar Nazaruddin, Kamis(30/6/2011).

Nazaruddin juga mengaku bingung dirinya ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK. Padahal tidak ada sedikitpun keterlibatan dirinya.

Keputusan tersebut lanjut Nazaruddin dinilainya sebagai rekayasa yang sangat luar biasa.
"Saya bingung atas dasar apa KPK tetapkan saya sebagai tersangka ,padahal saya tidak pernah terima uang dari urusan Menpora. Saya lihat sudah luar biasa rekayasa yang dilakukan untuk saya,"pungkasnya.(her/tribunnews)

Perilaku Aneh Penumpang Bus ALS Sebelum Meninggal

MEDAN - Nasib tragis di alami keluarga Sudirman. Pasalnya dirinya harus kehilangan istrinya Dahniar (56) dan Assyfa Zahara.

Korban merupakan penumpang Bus ALS yang masuk lubang galian yang penuh dengan air di Aek Latong Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Minggu (26/3/2011) pagi yang menewaskan 14 orang.

Sudirman sendiri bersama istrinya Dahniar dan kedua cucunya pergi untuk liburan dan ziarah ke makam orang tuanya di Lubuak Aluang kec Sicincin Pariaman kota propinsi Sumbar.

Dahniar, Sudirman (60) berangkat bersama dua cucunya yang bernama Sifa (7) dan Lisa (10). Mereka berempat berangkat menggunakan bus ALS pada pukul 16.00 Wib pada jumat (24/6/2011).

Saat ini keluarga sedang menunggu kedatangan di rumah duka tepatnya di Jalan Bhayangkara no. 424 Kecamatan Medan Tembung, Sumatera Utara

Julita Nur (27) anak kedua dari pasangan Sudirman dan Dahniar mengaku aneh dengan kelakuan ibunya selama seminggu ini. "Akhir-akhir ini memang ibu agak aneh kelakuannya, karena dalam seminggu ini ibu sering berdandan sehabis mandi. Ibu saya juga sering minta-minta pulang kampung untuk ziarah," jelas Julita di rumah duka.

Julita juga mengatakan, sebelum mamaknya meninggal mamaknya pernah bermimpi. Dua hari sebelum meninggal, mamaknya bercerita didatangi neneknya dan mengajak pergi.

"Sebelum berangkat mamak pernah berimpi, katanya didatangi nenek saya dan diajak pergi. Lalu saya candai mamak dan saya tanya, mamak ikut rupanya, lalu mamak menjawab enggak," ucapnya mengingat perkataan ibunya

Julita juga mengatakan, jenazah mamaknya akan tiba di jln Bayangkara sekira pukul. 23.00. "Tadi saya tanya bapak, saat ini mayatnya sudah dimandikan dan selesai otopsi, kemungkinan jam 11 atau jam 12 malam sampai rumah," terangnya

Informasi yang diperoleh Tribun Medan dari rumah duka, keponakan Dahniar mengungkapkan kronologis kejadian yang mereka ketahui.

"Yang kami tahu pada saat mau naik ke jalan yang berbukit, busnya mundur dan penumpang yang terbangun disuruh kernet untuk mendorong. Lalu Sudirman turun mengajak Lisa yang masih terbangun kemudian Lisa mengajak Sifa yang dalam keadaan setengah tertidur. Namun Sifa tidak mau turun, karena Sifa mau menemani neneknya. Dan yang tak kami sangka Sifa jadi menemani neneknya selamanya," ujar keponakan Dahniar, Edi di depan rumah duka.

Edi (49) mengugkapkan bahwa Sudirman dan Lisa sedang berada di di RSU Sipirok Aek Latong. "Saat ini om saya sedang di puskesmas dan sekarang kami yakin kalau om kami pasti dalam kebingungan. Jenazah tante saya dan Sifa sekarang sudah di visum dan langsung dikafani, agar nanti malam dapat langsung tiba di Medan. Langsung dimakamkan," jelasnya. (her)

Jasad Putri Sempat Dibawa Pembunuhnya ke Kepri Mall Beli Susu

BATAM - Penyidik Polda Kepri dan Polrestabes Barelang terus menyelidiki peristiwa pembunuhan Ny Putri Mega Umboh, istri Kompol Mindo Tampubolon di rumahnya di perumahan Anggrek Mas III, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (26/6/2011) lalu.

Untuk mengungkap dan membongkar motif di balik peristiwa tersebut, polisi memeriksa sedikitnya 20 saksi dan melakukan olah TKP di lokasi kejadian, lokasi mayat Putri di buang, dan di Hotel Bali tempat dua pelaku Rosma alias Ros dan Ujang menginap.

Penyidik, Selasa (28/6/2011) kembali melakukan olah TKP di rumah korban di Anggrek Mass III, Blok A6 Nomor 2.

Dari pengakuan Rosma ke petugas, setelah melakukan pembunuhan, ia dan Ujang sempat membawa jenazah korban yang telah dimasukkan ke dalam koper ke Kepri Mall untuk membeli susu. Saat itu, anak korban, Geisha (2,3) juga turut dibawa.

Namun setelah dicek ke bagian parkir Kepri Mall, tidak ada terdaftar kendaraan dengan nomor polisi BP 24 MP milik korban masuk pusat perbelanjaan tersebut.

Dari hasil pelacakan penyidik, sebelum melakukan pembunuhan Rosma sering berkomunikasi dengan pacarnya, Ujang dengan menggunakan handphone (HP) Suprianto, sekuriti perumahan Anggrek Mas III.

Namun sejauh ini polisi masih memeriksa Suprianto sebagai saksi. (her/tri)

Penyidik Polda Kepri Periksa 20 Orang Saksi

BATAM - Direktorat Reskrim Polda Kepri masih memeriksa dua orang tersangka, Ros dan Ujang atas kasus pembunuhan terhadap Putri Mega Umboh. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup dan ketat di ruang penyidik reskrim.

Bagaimana motif sesunguhnya kasus ini? Penyidik sepertinya hanya mengarahkan informasi satu pintu melalui Kabid Humas Polda Kepri.

Tak ada satupun penyidik di Reskrim Polda Kepri yang mau memberikan keterangan. "Informasinya Lewat Kabid Humas saja ya," ungkap Direskrim Polda Kepri, AKBP Wibowo.

Namun berdasarkan informasi dari sumber di Polda, saat ini penyidik juga sedang memeriksa beberapa saksi. Menurut sumber ini, ada sekitar 20 orang yang akan diperiksa sebagai saksi, termasuk salah satunya Satpam Perumahan Anggrek Mas III.

Selain itu, setidaknya ada sekitar 23 item barang bukti yang akan digunakan polisi dalam penyelidikan kasus ini.

Barang bukti tersebut juga sudah dibawa oleh tim identifikasi Polrestabes Barelang ke Polda untuk dijadikan alat penyelidikan, di antaranya koper warna merah muda tempat mayat Putri disembunyikan, sapu pel, dan beberapa pisau yang diamankan dari beberapa tempat.

Selain itu, penyidik juga sudah menunjuk Juhrin Pasaribu SH, sebagai kuasa hukum kedua tersangka.

Juhrin yang ditemui saat keluar dari ruang Reskrim menjelaskan bahwa posisinya hanya sebagai syarat pemenuhan KUHP saja.

"Kita hanya memenuhi syarat KUHP, dimana pengacara di sini bukan sebagai pembela kesalahan tersangka, namun untuk mempercepat proses dan membuat terang suatu permasalahan," ujarnya.

Juhrin yang terlihat buru-buru saat akan meninggalkan Polda mengatakan belum bisa memberikan keterangan lebih detail. (her/tri)

Rosa dan Ujang Masih Sembunyikan Emas dan Uang Kompol Mindo

BATAM - Misteri di balik kasus pembunuhan Ny Putri Mega Umboh (25), istri Kepala Subdit II Kriminalitas Khusus, Direktorat Reskrim Polda Kepri, Kompol Mindo Tampubolon, mulai tersibak.

Kuat dugaan, Ujang dan Rosa tega membunuh majikannya dengan sadis karena ulahnya mencuri uang dan barang berharga milik keluarga Kompol Mindo Tampubolon diketahui.

Hingga Senin (27/6/2011) kemarin uang bernilai puluhan juta dan emas tersebut belum diketahui rimbanya. Polisi juga masih melakukan penyidikan terhadap Ros, si pembantu rumah tangga dan Ujang, pacarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ny Putri Mega yang dinyatakan hilang bersama anak dan pembantunya sejak Jumat (24/6) lalu, ditemukan tewas dengan sejumlah luka tusukan dan luka gorokan di leher, di sebuah jurang kawasan Punggur, Batam, Minggu (26/6/2011).

Penemuan jasad korban itu merupakan pengembangan dari penangkapan Ros dan Ujang di Hotel Bali, Batam pada Sabtu malam. Berdasarkan bukti- bukti yang dimiliki polisi, kedua orang asal Jawa Barat itu langsung ditahan guna penyidikan lebih lanjut.

Informasi yang diperoleh di lapangan, Ros secara aktif ikut terlibat dalam pembunuhan bersama kekasihnya. Bahkan pada saat Ujang beraksi menikam Ny. Putri di kamar mandi, Ros bertugas mengemas-ngemas barang berharga dan uang milik korban di ruangan lain.

Sumber lain dilapangan menuturkan, sebelum terjadi pembunuhan, Ny Putri dan Ros sempat terlibat percekcokan mulut. Hanya saja mengenai peletup masalah percekcokan tersebut belum diketahui secara lengkap, apakah karena dituduh mencuri ataukah karena perbuatan keduanya mengambil harta berharga dipergoki oleh korban.

Sumber di kepolisian menyatakan sampai kemarin Ros dan Ujang masih berbelit-belit dalam memberikan keterangan sehingga masih perlu pendalaman. "Kita kembali membawa pelaku Rosa ke rumah korban dan ke Hotel Bali untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sampai saat ini keterangan tersangka masih banyak bohongnya. Bahkan sejumlah uang dan perhiasan korban yang diduga diambilnya belum ditemukan. Belum mau dia menunjukkan di mana disembunyikan harta benda itu," ujar salah seorang petugas. (her/tri)

Putri Sempat Diperkosa sebelum Dihabisi

BATAM - Tiga sekuriti Perumahan Anggrek Mas 3, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), yakni Supriyanto, Nurdin, dan Andreas kini mendekam dalam tahanan setelah dinyatakan terlibat dalam kasus pembunuhan Putri Mega Umboh.

Seorang perwira Polda Kepri, yang turut menyelidiki kasus tersebut, mengungkapkan, Supriyanto dan Nurdin terlibat langsung dalam kasus pembunuhan Putri.

Sedangkan Andreas, saat peristiwa terjadi, bertugas di Pos II, Perumahan Anggrek Mas 3, untuk mengawasi suasana sekitar saat dua rekannya bersama Ujang, termasuk Rosma beraksi di rumah korban.

Dalam pra rekonstruksi yang digelar di rumah korban, Rabu (28/6/2011) sekitar pukul 15.00 WIB, tiga tersangka yakni Ujang, Supriyanto, dan Nurdin memperagakan bagaimana mereka beraksi menghabisi nyawa Putri, termasuk saat mereka memperkosa korban sebelum dibunuh.

Dalam adegan terakhir, terlihat bagaimana Ujang dan dua sekuriti tersebut mengangkat koper berisi mayat korban ke dalam mobil.

Setelah ketiganya masuk ke mobil, Rosma kemudian keluar membawa kain pel dan membersihkan tetesan darah di teras depan rumah.

Kain pel tersebut ikut dibawa masuk ke dalam mobil. Setelah semua masuk ke mobil korban, Rosma bergegas mengambil putri korban, Keysa (2,3) ke dalam rumah dan membawanya masuk ke dalam mobil.

"Sadis sekali aksi para pelaku ini. Sebelum dibunuh diperkosa dulu. Setelah diperkosa korban lalu ditikam tujuh kali, terakhir baru digorok lehernya," bisik perwira ini kepada Tribunnewsbatam (Tribunnews.com Network) disela-sela reka ulang.

"Selama beraksi, Rosma bertugas membersihkan lantai satu hingga lantai dua. Sedangkan Ujang dan dua sekuriti bertugas menghabisi nyawa korban," lanjut perwira tersebut.

Tak lama setelah Rosma dan Ujang dibekuk di Hotel Bali hingga penemuan mayat Putri di hutan Punggur, Minggu (26/6/2011) lalu, siangnya, Supriyanto langsung ditangkap. Sedangkan Andreas dan Nurdin masih sempat sehari menjalankan tugasnya.

Saat polisi berhasil menangkap Nurdin, pria ini sempat berbelit-belit memberikan informasi.

Namun setelah dibujuk petugas, ia akhirnya mau bicara. "Awalnya, katanya dia tidak tahu kejadian itu. Setelah kita bujuk, barulah mau ngaku. Tapi dia memberikan persyaratan bahwa dia mau cerita asal tidak ditangkap. Nah, di situ dia langsung kita amankan," cerita perwira ini.

Atas keterlibatan tiga sekuriti ini, polisi langsung memasang police line di Pos II tempat Nurdin berjaga-jaga saat peristiwa terjadi.

Hingga saat ini, jajaran Polda Kepri dan Polresta Barelang belum memberikan pernyataan resmi kepada wartawan terkait peristiwa pembunuhan yang menewaskan Putri Mega Umboh.

Penyidik sendiri masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut. Selain memeriksa sedikitnya 20 saksi, penyidik juga telah mengamankan sejumlah alat bukti. Namun, uang puluhan juta dan sejumlah perhiasan korban yang diduga dirampok pelaku hingga kini belum ditemukan. (her/tri)

Motif Pembunuhan Istri Polisi Batam Diduga karena Sakit Hati

BATAM - Juhrin Pasaribu, penasihat hukum dua tersangka pembunuhan Putri Mega Umboh (25), Ros dan Ujang, mengungkapkan bahwa motif pembunuhan yang dilakukan tersangka berlatar belakang sakit hati.

Dua tersangka, Ros dan Gugun Gunawan alias Ujang merupakan warga Garut, Jawa Barat, yang sama-sama merantau ke Batam.

Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Awalnya, menurut Juhrin, Ros yang baru dua bulan menjadi pembantu rumah tangga di rumah almarhumah Putri mengaku kerap dimarahi.

Diduga puncak kemarahan Putri terjadi ketika ia mengetahui sejumlah uang dan perhiasan miliknya hilang. (ant)

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs