Air Danau Kerinci Surut Drastis: Antara Uji PLTA dan Ancaman bagi Ekonomi Warga Sekitar

KERINCI – Surutnya air Danau Kerinci dalam beberapa pekan terakhir bukan hanya memunculkan kekhawatiran soal lingkungan, tetapi juga langsung menghantam denyut ekonomi warga yang hidup di sekeliling danau. Bagi nelayan, pencari kerang, hingga pelaku wisata, penurunan muka air danau berarti hilangnya sumber penghasilan harian.

Uji coba operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci yang baru mengaktifkan satu turbin saja, disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyusutan air danau.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Aktivitas ekonomi berbasis perairan lumpuh secara perlahan, memaksa warga beradaptasi di tengah ketidakpastian.

Baca Juga: Uji Coba Pengaliran Air PLTA Disebut Jadi Penyebab Air Danau Kerinci Menyusut Drastis

Nelayan Kehilangan Tangkapan

Karim (40), nelayan tradisional di kawasan Koto Petai, mengaku pendapatannya turun drastis sejak air danau surut. Sebelum kondisi ini terjadi, ia bisa membawa pulang ikan 8 hingga 10 kilogram per hari. Hasil tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anaknya.

“Kalau air masih normal, sehari bisa dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Sekarang paling dapat Rp30 ribu, itu pun kalau ada ikan,” ujarnya.

Surutnya air membuat jalur ikan berpindah, sementara sebagian perangkap ikan tidak lagi berfungsi. Perahu kecil milik Karim bahkan harus ditarik cukup jauh karena air di tepian danau tidak lagi cukup dalam.

Pencari Kerang Kehilangan Mata Pencaharian

Kondisi serupa dialami warga yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari mencari kerang di Danau Kerinci. Biasanya, dalam sehari ia mampu mengumpulkan 15 hingga 20 kilogram kerang untuk dijual ke pengepul.

“Dulu kerang mudah didapat. Sekarang airnya terlalu kering, lumpurnya keras, kerangnya hampir tidak ada,” katanya.

Jika sebelumnya ia bisa membawa pulang penghasilan sekitar Rp100 ribu per hari, kini ia pulang dengan tangan kosong. Bagi keluarga kecilnya, kehilangan penghasilan harian berarti ancaman langsung terhadap dapur rumah tangga.

Ahan Tak Bisa Digunakan, Ikan Tak Masuk

Selain nelayan dan pencari kerang, warga yang mengandalkan alat tangkap tradisional ahan juga terdampak. Ahan, yang dipasang di jalur perairan dangkal, tidak lagi bisa digunakan karena ketinggian air tidak mencukupi.

“Kalau air surut begini, ahan mati total. Tidak ada air, ikan tidak mau masuk,” kata Sebri, warga setempat.

Ia menilai kondisi ini belum pernah terjadi separah sekarang. Menurutnya, meski Danau Kerinci pernah mengalami surut saat musim kemarau, namun tidak sampai melumpuhkan hampir seluruh aktivitas ekonomi perairan.(**)

Related Postss

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs