Air Danau Semakin Menyusut, Ekomoni Masyarakat Sekitar Semakin Mengkhawatirkan

Air Danau Semakin Menyusut Ekomoni Masyarakat Sekitar Semakin Mengkhawatirkan

Kerinci – Kondisi Danau Kerinci, Jambi, saat ini tengah berada dalam status waspada. Dalam beberapa pekan terakhir, permukaan air di danau kebanggaan masyarakat Kerinci ini terpantau mengalami penurunan debit secara drastis. Fenomena ini mulai berdampak serius pada sektor perikanan dan aktivitas transportasi air warga setempat (28/01/2026).

Penyusutan air terlihat jelas di sepanjang bibir danau. Wilayah yang biasanya terendam air kini berubah menjadi hamparan lumpur yang mengering dan retak-retak. Di beberapa titik dermaga, kapal-kapal nelayan tampak kandas karena air telah menjauh hingga puluhan meter dari garis pantai semula.

Baca Juga: Air Danau Kerinci Surut Drastis: Antara Uji PLTA dan Ancaman bagi Ekonomi Warga Sekitar

Tokoh muda Kerinci, Zalmianto atau yang biasa dipanggil Anto Black mengatakan ” Karna uji coba turbin PLTA yg sumber air nya dari danau, Secara ekonomi nelayan semakin susah cari ikan otomatis Rumah makan makin susah cari penjual ikan, Kemudian Sungai yg jadi penyuplai air Danau akan cepat tersedot dan mengering . Bagi petani yg mengandalkan air sungai untuk bersawah akan kesulitan memanfaatkan air dari aliran sungai. Seumuran saya yg sudah 45 thn hidup di pinggir danau kerinci baru kali ini melihat danau air nya sekecil ini”.

Menurut Salah satu aktivis kerinci Ilham juga mengatakan “penurunan ini merupakan salah satu yang tercepat dalam beberapa tahun terakhir. Faktor cuaca ekstrem dan berkurangnya intensitas hujan di wilayah hulu dituding menjadi penyebab utama hilangnya volume air secara masif”.

Bacaan Lainnya: Kasus Guru dan Siswa, Polda Jambi Audiensi dengan PGRI Provinsi dan Dorong Jalur Mediasi

Dampak dari fenomena ini mulai dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat:

1. Mengeluhkan kematian bibit ikan akibat suhu air yang meningkat dan kadar oksigen yang menurun seiring dangkalnya air.

2. Petani di sekitar danau mulai khawatir pasokan air untuk sawah mereka akan terhenti jika tren penurunan ini terus berlanjut.

3. Nelayan tangkap tidak bisa melaut .

4. Investasi pakan dan bibit hilang begitu saja karena kondisi alam yang tidak mendukung.

Pemerintah daerah bersama dinas terkait diharapkan segera turun tangan untuk melakukan kajian mendalam terkait fenomena ini, serta menyiapkan langkah mitigasi bagi warga yang mata pencahariannya bergantung sepenuhnya pada Danau Kerinci. (*adz)

Air Danau Kerinci Surut Drastis: Antara Uji PLTA dan Ancaman bagi Ekonomi Warga Sekitar

KERINCI – Surutnya air Danau Kerinci dalam beberapa pekan terakhir bukan hanya memunculkan kekhawatiran soal lingkungan, tetapi juga langsung menghantam denyut ekonomi warga yang hidup di sekeliling danau. Bagi nelayan, pencari kerang, hingga pelaku wisata, penurunan muka air danau berarti hilangnya sumber penghasilan harian.

Uji coba operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci yang baru mengaktifkan satu turbin saja, disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyusutan air danau.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Aktivitas ekonomi berbasis perairan lumpuh secara perlahan, memaksa warga beradaptasi di tengah ketidakpastian.

Baca Juga: Uji Coba Pengaliran Air PLTA Disebut Jadi Penyebab Air Danau Kerinci Menyusut Drastis

Nelayan Kehilangan Tangkapan

Karim (40), nelayan tradisional di kawasan Koto Petai, mengaku pendapatannya turun drastis sejak air danau surut. Sebelum kondisi ini terjadi, ia bisa membawa pulang ikan 8 hingga 10 kilogram per hari. Hasil tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anaknya.

“Kalau air masih normal, sehari bisa dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Sekarang paling dapat Rp30 ribu, itu pun kalau ada ikan,” ujarnya.

Surutnya air membuat jalur ikan berpindah, sementara sebagian perangkap ikan tidak lagi berfungsi. Perahu kecil milik Karim bahkan harus ditarik cukup jauh karena air di tepian danau tidak lagi cukup dalam.

Pencari Kerang Kehilangan Mata Pencaharian

Kondisi serupa dialami warga yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari mencari kerang di Danau Kerinci. Biasanya, dalam sehari ia mampu mengumpulkan 15 hingga 20 kilogram kerang untuk dijual ke pengepul.

“Dulu kerang mudah didapat. Sekarang airnya terlalu kering, lumpurnya keras, kerangnya hampir tidak ada,” katanya.

Jika sebelumnya ia bisa membawa pulang penghasilan sekitar Rp100 ribu per hari, kini ia pulang dengan tangan kosong. Bagi keluarga kecilnya, kehilangan penghasilan harian berarti ancaman langsung terhadap dapur rumah tangga.

Ahan Tak Bisa Digunakan, Ikan Tak Masuk

Selain nelayan dan pencari kerang, warga yang mengandalkan alat tangkap tradisional ahan juga terdampak. Ahan, yang dipasang di jalur perairan dangkal, tidak lagi bisa digunakan karena ketinggian air tidak mencukupi.

“Kalau air surut begini, ahan mati total. Tidak ada air, ikan tidak mau masuk,” kata Sebri, warga setempat.

Ia menilai kondisi ini belum pernah terjadi separah sekarang. Menurutnya, meski Danau Kerinci pernah mengalami surut saat musim kemarau, namun tidak sampai melumpuhkan hampir seluruh aktivitas ekonomi perairan.(**)

Uji Coba Pengaliran Air PLTA Disebut Jadi Penyebab Air Danau Kerinci Menyusut Drastis

Uji Coba Pengaliran Air PLTA Disebut-sebut  Jadi Penyebab utama Air Danau Kerinci Menyusut Drastis beberapa minggu terakhir.(mpc)

Kerinci Merdekapost.com - Fenomena penurunan muka air Danau Kerinci dalam beberapa minggu terakhir membuat warga di Kabupaten Kerinci, Jambi, terkejut.

Air yang biasanya memenuhi badan danau kini surut cukup jauh hingga menampakkan area dasar yang jarang terlihat sebelumnya.

Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra, menyebut perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas uji coba Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dikelola PT Kerinci Merangin Hidro (KMH).

Ia menjelaskan bahwa sejak awal Januari, terjadi pengaliran air dari danau menuju turbin pembangkit.

“Mulai tanggal 1 sampai 16 Januari 2026 itu dilakukan pengaliran air ke turbin. Dari tiga pintu air, satu pintu dibuka sekitar 20 sentimeter untuk proses uji coba,” ujar Joni, Selasa (27/1/2026).

Menurutnya, tahap ini masih merupakan rangkaian percobaan sebelum PLTA beroperasi penuh. Pihak perusahaan, kata Joni, juga berjanji meninjau semua dampak yang muncul selama proses uji coba berlangsung.

Bacaan Lainnya: Pastikan Penyebab Meninggalnya Rafi Pemuda Koto Tebat Kerinci, Keluarga Setuju Jenazah Diotopsi

“Pengaliran ini masih tahap percobaan. Pihak PT KMH menyampaikan bahwa setiap dampak yang muncul akan menjadi dasar perbaikan sebelum operasional permanen diterapkan,” jelasnya.

BWSS mencatat bahwa dalam 16 hari masa pengaliran, volume air Danau Kerinci menunjukkan penurunan signifikan. Warga pun merasakan langsung efeknya.

Sebagian masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga, sementara petani khawatir terhadap pasokan irigasi untuk sawah mereka.

PT KMH, menurut Joni, telah menyatakan kesiapan untuk mendata wilayah yang terdampak sekaligus menyiapkan bantuan darurat jika kondisi semakin kritis.

“Informasinya, mereka akan menyediakan tandon air sebagai langkah sementara apabila dibutuhkan,” ujarnya.

Penampakan air danau Kerinci yang susut drastis.(adz)

Terkait legalitas uji coba tersebut, Joni menegaskan bahwa izin pengaliran dikeluarkan langsung pemerintah pusat melalui sistem perizinan nasional. BWS Sumatera VI baru dilibatkan setelah pelaksanaan uji coba berjalan.

“Kewenangannya ada di pusat. Kami diundang untuk pembahasan setelah proses uji coba berlangsung, mengikuti agenda dari pemerintah pusat,” katanya.

Selain faktor PLTA, kondisi cuaca kering juga memperburuk penurunan volume air danau. Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Kerinci hampir tidak diguyur hujan dan suhu udara relatif panas.

“Cuaca yang panas dan minim hujan sangat mungkin ikut mendorong turunnya muka air danau dalam waktu singkat,” ungkap Joni.

Baca Juga: Gaungkan Penguatan Ekoteologi, Kemenag Kerinci H Pahrizal Aksi Nyata Tanam Pohon di Kayu Aro

Fenomena penyusutan air ini kembali memunculkan perdebatan publik mengenai pentingnya keseimbangan antara pengembangan energi terbarukan dan keberlanjutan lingkungan.

Meskipun PLTA termasuk energi ramah lingkungan, pengelolaan debit air harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat sekitar.

Sebagai salah satu ikon daerah, Danau Kerinci berperan penting bagi pertanian, perikanan, pariwisata, dan kebutuhan air warga.

Penurunan drastis permukaannya dikhawatirkan akan menimbulkan dampak jangka panjang jika tidak ditangani dengan kebijakan yang sensitif terhadap kondisi lokal.(adz)

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs