![]() |
| Rabu atau Kamis Awal Puasa Ramadan? Tinggi Hilal Masih Minus, Ini Penjelasan Dr. Zufriani ahli Ilmu Falaq dosen IAIN Kerinci.(Ist) |
KERINCI, MERDEKAPOST.COM – Penentuan awal bulan Hijriah dalam kajian ilmu falak sangat bergantung pada kondisi hilal secara astronomis. Tiga parameter utama yang menjadi acuan adalah konjungsi (ijtimak), tinggi hilal, dan sudut elongasi bulan.
Konjungsi geosentrik atau ijtima’ merupakan peristiwa ketika nilai bujur ekliptika bulan sama dengan nilai bujur ekliptika matahari dengan asumsi pengamat berada di pusat bumi. Untuk wilayah Kerinci dan Sungai Penuh (Lintang -02° 04’ LS dan Bujur 101° 24’ BT), konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.02.52 WIB.
Namun, berdasarkan perhitungan astronomis, tinggi hilal pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026 M atau bertepatan dengan 29 Syakban 1447 H masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
Tinggi hilal di Indonesia berkisar antara minus 01° 01’ 14” (tertinggi di Tua Pejat, Sumatera Barat) hingga minus 02° 13’ 43” (terendah di Jayapura). Sementara di Sungai Penuh, tinggi hilal tercatat minus 00° 42’ 47”, yang berarti belum berada di atas ufuk.
Padahal, kriteria Imkanur Rukyat yang ditetapkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.
Sudut elongasi sendiri merupakan jarak sudut antara pusat piringan bulan dengan pusat piringan matahari saat matahari terbenam di lokasi pengamatan. Pada 17 Februari 2026, sudut elongasi di Indonesia berkisar antara 01° 53’ 24” (terbesar di Jayapura) hingga 00° 56’ 19” (terkecil di Lhoknga, Aceh). Untuk wilayah Kerinci dan Sungai Penuh, sudut elongasi tercatat sekitar 01° 00’ 41”, masih jauh di bawah batas minimal yang ditetapkan.
Baca Juga:
Jelang Ramadan 2026, Hiswana Migas Jambi Ingatkan Agen Soal HET Gas LPG 3 Kg
“Berdasarkan data hisab tersebut, hilal belum wujud di atas ufuk dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat yang berlaku di Indonesia. Karena itu, secara perhitungan falak, awal Ramadhan 1447 Hijriah belum dapat ditetapkan pada 18 Februari 2026,” jelas Dr. Zufriani, M.HI.
Ia menambahkan, metode yang digunakan dalam kondisi ini adalah istikmal atau menggenapkan bulan Syakban menjadi 30 hari.
“Jika hilal belum memenuhi kriteria, maka bulan Syakban digenapkan 30 hari. Dengan demikian, 1 Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026,” ujarnya.
Dr. Zufriani merupakan Dosen Ilmu Falak dan Wakil Dekan I FEBI IAIN Kerinci
Dengan demikian, secara astronomis hilal belum memenuhi kriteria awal bulan Hijriah yang digunakan pemerintah. Keputusan resmi tetap menunggu sidang isbat yang akan digelar pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.
