Kerinci – Pengerjaan proyek normalisasi sungai di wilayah Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, memicu sorotan tajam dari masyarakat. Meski proyek dikabarkan telah rampung, hasil akhir di lapangan justru menyisakan kondisi memprihatinkan yang dinilai dikerjakan asal jadi.
Pantauan langsung di lokasi aliran sungai di Siulak menunjukkan tanggul darurat berupa karung plastik berukuran besar (jumbo bag/geobag) kini dibiarkan hancur, robek parah, dan terbengkalai begitu saja. Ketiadaan pembersihan pasca-konstruksi (site clearance) membuat pemandangan di bantaran sungai tampak berantakan.
Robeknya anyaman karung-karung tersebut mengakibatkan material kerikil serta tanah urukan di dalamnya tumpah dan tercerai-berai. Kondisi ini membuat fungsi tanggul darurat menjadi tidak optimal, sehingga memicu kekhawatiran warga akan terjadinya erosi susulan saat debit air sungai kembali naik.
Selain masalah ancaman erosi, hamparan material karung plastik yang melapuk di dasar dan pinggiran sungai ini juga memicu masalah pencemaran lingkungan. Serat-serat plastik yang terurai berpotensi menjadi sampah mikroplastik yang merusak ekosistem perairan dan mencemari pasokan air ke wilayah hilir.
Baca Juga: Monadi dan Pahrizal Dampingi Perjuangan Kafilah Kerinci, Tujuh Peserta Lolos ke Final
Warga dan sejumlah aliansi masyarakat di Kabupaten Kerinci mendesak instansi terkait, termasuk pihak kontraktor pelaksana, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI-memperketat fungsi pengawasan teknis dan mutu material agar anggaran negara miliaran rupiah tidak terbuang sia-sia untuk hasil yang rapuh.
Hingga berita ini diturunkan, Kamis (5/11/2026), Belum ada keterangan resmi dari BWS, masyarakat mendesak pihak kontraktor segera turun ke lapangan untuk membersihkan sampah material proyek yang terbengkalai demi menyelamatkan fungsi sungai dan kelestarian lingkungan.(ADZ/sbr: explorenews.id)
