- Jelang Pemilukada Ulang 5 Juni
JAMBI – Pasangan nomor urut tiga Yopi Muthalib-Sri Sapto Edi (Yopi-Sapto) mengutuk keras black campain (kampanye hitam) dalam bentuk selebaran dengan menyudutkan pasangan kandidat jelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) ulang Kabupaten Tebo 5 Juni mendatang. “Pemilukada adalah ajang menunjukkan program kepemimpinan seorang kandidat, bukan malahan menjadi ajang saling merusak citra dengan menyebarkan fitnah dan membongkar aib lawan politik.
Kita mengutuk perbuatan tersebut,” tegas Irwan Suhanto, Direktur Eksekutif Social and Political Strategic Center (SPACE) Yopi-Sapto, kemarin (22/5). Biasanya, dalam Pemilukada ulang, setelah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dikeluarkan, maka beberapa kandidat langsung saja melakukan kampanye hitam dengan cara menyebarkan pamflet, spanduk, dan lian-lain. “Masyarakat pemilih sebaiknya segera diinformasikan tentang kondisi faktual kenapa Pemilukada diulang, disinilah fungsi KPU dan aparat pemerintah daerah terkait,” katanya.
Kampanye hitam sebutnya, juga dapat dipergunakan sebagai alat mendakwa seorang kandidat dengan telah melakukan kecurangan. Bahkan, yang terburuk adalah dilakukannya praktik-praktik kontra propaganda seperti merusak rumah atau posko pemenangan sendiri. “Dan atau melakukan intimidasi sendiri dengan harapan agar pemilih menganggap mereka telah didzolimi oleh kandidat lain,” cetusnya.
Hal yang terburuk adalah ketika seorang kandidat atau tim pemenangannya membuat selebaran yang mengajak pemilih agar tidak memilih karena perkara suku, ras dan agama, dengan target pemilih marah pada kandidat lain karena dianggap melakukan kampanye berbau sentimen suku, ras dan agama.
“Dalam logika demokrasi modern maka praktik-praktik ini bukan saja menyesatkan, tetapi juga dapat menciptakan konflik horizontal. Kandidat yang gemar mengadu domba rakyatnya hanya untuk sekedar meraih suara sebanyak-banyaknya dan memenangkan Pemilukada jelas tidak layak dipilih. “Karena praktik ini pasti akan dimainkan kembali untuk melanggengkan kekuasaannya apabila terpilih. Walaupun demikian, saya masih yakin bahwa masih ada kandidat yang memiliki etika politik dan rakyat pemilih diyakini sudah cukup pintar dalam memilih pemimpinnya,” cetusnya lagi.
Untuk itu, kepada kandidat yang melakukan kampanye hitam untuk bisa membuktikan bahwa dirinya lebih layak dipilih rakyat ketimbang lawan-lawannya. Dengan catatan dilakukan dengan cara yang bersih dan beretika. “Saat mereka mencalonkan diri sudah berpikir tentang masa depan rakyatnya. Bukan hanya sekedar berpikir tentang kepentingan politik kekuasaan semata,” tukasnya. )joe