![]() |
| Pengasungan Sko pada Kenduri Sko Lima Desa Tanjung Pauh Mudik, Kecamatan Danau Kerinci Barat, seakan menghidupkan kembali jejak para leluhur.Minggu (05/07). (Istimewa) |
MERDEKAPOST.COM – Tanjung Pauh Mudik pada Minggu pagi (5/7/2026), Langkah demi langkah para pemangku adat berjalan perlahan seperti mengikuti irama sakral yang tercipta sendiri. Wajah mereka teduh, tangan mereka kokoh mengusung pusaka yang selama ini tersimpan rapi dalam penjagaan adat.
Di hadapan ribuan pasang mata, Pengasungan Sko pada Kenduri Sko Lima Desa Tanjung Pauh Mudik, Kecamatan Danau Kerinci Barat, seakan menghidupkan kembali jejak para leluhur.
Tak ada hiruk-pikuk. Yang terdengar hanya lantunan petatah-petitih adat, suara langkah yang teratur, dan sesekali bisik takjub dari masyarakat yang memadati lokasi prosesi.
Ketika pusaka adat mulai diangkat dan diarak, aroma kemenyan perlahan menyeruak di udara. Wanginya lembut, namun cukup menghadirkan suasana yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sejumlah warga mengaku merinding. Bukan karena takut, melainkan karena merasakan kuatnya aura sakral dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu.
Bagi masyarakat Lima Desa Tanjung Pauh Mudik – Kerinci, Pengasungan Sko bukan sekadar mengeluarkan benda pusaka. Ia adalah peristiwa budaya yang mempertemukan masa lalu dan masa kini. Di dalamnya tersimpan pesan tentang penghormatan kepada leluhur, tentang amanah yang harus dijaga, dan tentang identitas yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
![]() |
| Bagi masyarakat Lima Desa Tanjung Pauh Mudik – Kerinci, Pengasungan Sko bukan sekadar mengeluarkan benda pusaka. Ia adalah peristiwa budaya yang mempertemukan masa lalu dan masa kini.(Istimewa) |
Di tengah derasnya arus modernisasi, Kenduri Sko Lima Desa Tanjung Pauh Mudik kembali membuktikan bahwa adat masih memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakatnya. Pusaka boleh diusung hanya sesekali, namun nilai-nilai yang dikandungnya terus dipikul setiap hari oleh anak negeri.
Di bawah langit Tanjung Pauh Mudik yang mendung Pengasungan Sko bukan hanya sebuah prosesi adat. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa sebuah kampung akan tetap tegak selama masyarakatnya tidak melupakan akar dan leluhurnya.(adz)

