Kabar Baik, 91 Pasien Covid-19 Sembuh dalam Sehari di Malaysia


Ilustrasi 
Kuala Lumpur, merdekapost.com - Otoritas Malaysia melaporkan 91 pasien virus Corona (COVID-19) dinyatakan sembuh dan dipulangkan dari rumah sakit dalam sehari pada Senin (30/3) waktu setempat. Jumlah ini menjadi angka tertinggi untuk pasien sembuh dalam sehari di negara tersebut.

Seperti dilansir media lokal Malaysia, The Star, Selasa (31/3/2020), Direktur Jenderal Kesehatan pada Kementerian Kesehatan Malaysia, Dr Noor Hisham Abdullah, menyebut bahwa total sudah 479 pasien virus Corona yang dinyatakan sembuh di wilayah Malaysia.

Angka 91 pasien virus Corona yang dipulangkan setelah dinyatakan sembuh, dalam sehari itu, mencetak rekor sebagai jumlah tertinggi untuk kesembuhan dalam sehari di Malaysia. "Ini mencapai 18,2 persen dari jumlah total kasus COVID-19 di negara ini," sebut Dr Noor Hisham dalam konferensi pers.

Diumumkan juga oleh Dr Noor Hisham bahwa ada 156 kasus baru dalam sehari, sehingga total kasus virus Corona di Malaysia saat ini mencapai 2.626 kasus.

Dari jumlah tersebut, sekitar 94 pasien menjalani perawatan medis di Unit Perawatan Intensif (ICU), dengan 62 pasien di antaranya membutuhkan ventilator.

Dalam pengumumannya, Dr Noor Hisham juga menyebut tiga kematian baru dalam 24 jam terakhir. Total sudah 37 orang meninggal dunia akibat virus Corona di wilayah Malaysia.

Lebih lanjut, Dr Noor Hisham mengungkapkan bahwa korban meninggal ke-35 merupakan pasien wanita berusia 57 tahun yang memiliki riwayat penyakit diabetes. Wanita ini disebut memiliki riwayat perjalanan ke Indonesia sebelum didiagnosis virus Corona. Dia meninggal dunia pada 29 Maret sore hari.

Korban meninggal ke-36 merupakan seorang pasien pria berusia 47 tahun dan korban meninggal ke-37 merupakan seorang pasien wanita berusia 46 tahun dengan riwayat darah tinggi dan penyakit autoimmune. Keduanya meninggal dunia pada 30 Maret pagi hari. (ald)

Sumber: detik.com

Kondisinya Membaik, Menhub Budi Karya: Lawan COVID-19!

Tangkapan video yang menunjukkan kondisi Menhub Budi Karya saat ini (Dok/detikNews)
Jakarta, Merdekapost.com  - Kondisi Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, yang dirawat karena terjangkit Corona (COVID-19), kian membaik. Tampak dalam sebuah video, Budi Karya berbicara soal semangat melawan Corona.

Kabar terbaru soal kondisi Menhub Budi Karya ini disampaikan oleh Wakil Menteri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamen PDTT), Budi Arie Setiadi. Dia menyebut kondisi Budi Karya sudah semakin baik.

"Alhamdulillah Pak Budi Karya Sumadi semakin membaik. Optimis lawan Corona," ujar Budi Arie kepada wartawan, Selasa (31/3).

"Kondisi Pak Menhub semakin membaik didampingi dr Kapt Maulidi Abdillah, sebagai dokter rehab medik," sambung Budi Arie.

Budi Arie juga mengirim video yang menunjukkan dr Kapt Maulidi bersama Budi Karya. Budi Karya terlihat berbaring di ranjang rumah sakit dan sedang memakai masker. Budi Karya menyampaikan kesan dan pesan selama dirawat di RSPAD Gatot Soebroto.

"Gimana kesan pesannya?" tanya dr Kapt Maulidi, yang memakai hazmat suit dan alat pelindung diri (APD) lengkap.

"Top banget. Fisioterapisnya top. Keluargo. Dulur kito. Alhamdulillah. Semangat! Lawan COVID-19!" ujar Budi Karya dengan suara agak serak.

Sebelumnya, Menhub Budi Karya Sumadi diumumkan positif mengidap virus Corona (COVID-19) pada 14 Maret 2020. Saat ini Menhub Budi dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

"Seizin pimpinan dan juga seizin keluarga dari pasien 76 yang sudah disampaikan oleh jubir pemerintah COVID-19, benar bahwa saat ini--kalau tidak salah--pasien 76 sedang dirawat di RSPAD," kata Wakil Kepala RSPAD Gatot Soebroto Albertus Budi Sulistya di Jakarta, Sabtu (14/3/2020).

Budi Karya sempat dikabarkan mengalami sakit tifus. Budi mengalami tifus setelah melakukan rangkaian kunjungan kerja.

"Saat ini Menteri Perhubungan Bapak Budi Karya Sumadi sedang beristirahat di rumah karena gejala tifus setelah beberapa waktu lalu melakukan rangkaian kunjungan kerja ke luar kota selama beberapa hari ke Toraja, Luwuk, Wakatobi, Makassar, Parepare, Kertajati, dan Indramayu," ujar juru bicara Menhub, Adita Irawati, lewat pesan singkat, Selasa (10/3).

Adita mengkonfirmasi Budi mengalami tifus berdasarkan hasil lab. Adita memastikan Budi tetap melaksanakan tugas sebagai menteri dari rumah.

Budi diketahui berada di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jabar, pada Minggu (1/3). BIJB merupakan tempat evakuasi 69 WNI anak buah kapal (ABK) Diamond Princess. (ald)

Sumber: detik.com

Kisah Christina, Seorang Ibu di Surabaya yang Sembuh dari COVID-19

Ilustrasi Covid-19. (doc/kumparan)
Satu per satu kisah kesembuhan pasien COVID-19 di Surabaya mulai bermunculan. Setelah kita ikuti cerita Muhammad Budi Hidayat, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya, yang sudah dinyatakan sembuh dari virus corona, kini ada Christina.

Christina merupakan pasien positif COVID-19 yang telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Christina pun bercerita kronologis hingga ia dirawat di RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Saat itu, sekitar awal Maret 2020, Christina mulai merasakan perubahan suhu tubuh yang siginifikan. Ibu dua anak ini mengalami demam tinggi yang disertai rasa ngilu dan nyeri di sekujur badan. Badannya nyeri terasa seperti patah-patah, dan ia pun kehilangan nafsu makan.

Di tanggal 9 Maret 2020 dia memutuskan untuk periksa ke RS Mitra Keluarga Surabaya.

“Beberapa hari saya dirawat di RS Mitra Keluarga. Waktu itu nafas saya sudah lemas. Dada kanan warnanya abu-abu sudah bisa sembuh karena terapi. Lalu yang kiri memburuk berbentuk embun dan menutup-nutup,” kata Christina saat dihubungi via telepon tim Humas Pemkot Surabaya, Sabtu (28/3).

Kemudian pada tanggal 11 Maret, Christina dibawa ke RS Unair untuk dilakukan swab tenggorokan dan hidung. Kemudian keesokan harinya, Christina dirujuk ke RSUD Dr Soetomo dan langsung masuk dalam ruang isolasi khusus.
“Saya tahu saat dimasukkan ke ruang isolasi khusus. Dengan kondisi lemas bernafas pun sudah tidak sampai, oksigen tidak maksimal. Saya sendiri di ruang khusus itu bersama alat medis,” ungkapnya.

Christina mengatakan, selama dirinya dirawat di ruang isolasi khusus tak ada satu pun dokter dan perawat yang mengatakan kalau Christina mengidap COVID-19.

Bahkan, yang dia tahu dokter hanya menyampaikan bahwa dia harus sembuh, harus kuat dan tidak putus dalam berdoa.

“Ibu harus sembuh, ibu sehat, karena hanya ibu yang bisa membantu diri ibu sendiri, imun ibu yang membentengi ibu sendiri. Itu kata dokter pada saya. Tidak pernah sama sekali dokter dan perawat bilang pada saya tentang virus,” kata Chrstina.

Perawatan selama di ruang isolasi dirasakan Christina sebagai hari-hari yang paling berat untuk dilewati. Hingga akhirnya, Christina dipindah ke ruang isolasi tanpa peralatan medis.

“Itu lima hari yang luar biasa berat. Saya merasakan betapa sakitnya. Dokter terus mendukung saya, ibu tidak apa-apa jalan pelan-pelan selangkah dulu dan pakai oksigennya. Lalu setelah itu saya dimasukkan ke ruang yang tidak ada peralatan lagi masih di ruang isolasi juga,” papar dia.

Setelah hari kedelapan di rawat di RSUD dr Soetomo, akhirnya dia dapat bertemu dengan sang suami. Pada kesempatan itu, dokter menyampaikan bahwa kondisi Christina sudah resmi negatif COVID-19.

“Dokter bilang itu pada suami saya kalau saya sudah kembali sehat. Saya dinyatakan negatif COVID-19,” tegasnya.

Meskipun saat ini Christina sudah kembali ke rumah, ia tetap harus membatasi kegiatannya sembari menjaga pola hidup agar tetap sehat.

Tidak lupa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya juga terus memantau kondisi pasien yang sudah sembuh itu melalui puskesmas terdekat. Bahkan, pemkot juga memberikan perhatian khusus kepada Christina dengan cara memberikan vitamin, suplemen dan makanan sehat.

“Terima kasih sekali kepada Bu Risma dan jajarannya atas apa yang sudah saya terima. Bahkan selama saya sakit suami dan anak saya diperhatikan,” ucapnya.

Christina berharap, warga Kota Surabaya juga dapat mematuhi aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Terlebih, dia sebagai mantan pasien COVID-19 sudah merasakan betapa sakitnya melawan virus tersebut.

“Peraturan pemerintah itu harus didengar. Ini bukan penyakit atau virus biasa. Saya sudah mengalami ini. Untuk anak muda, sudah tidak usah lagi keluar kalau sekadar nongkrong itu tidak perlu. Kita batasi interaksi. Memang ada dokter tapi, dia juga manusia,” pungkasnya. (*)

sumber: kumparan.com

Ini 5 Camilan yang Bantu Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Selama #dirumahaja

Ilustrasi keripik ubi
Selama masa karantina #dirumahaja kayak sekarang ini kita cenderung banyak rebahan dan istirahat. Supaya enggak lemas kamu juga butuh asupan untuk meningkatkan energi. Salah satu caranya, ya dengan makan atau ngemil. 

Kegiatan makan memang diperuntukan mengisi perut yang lapar, tapi di sisi lain asupan yang masuk tersebut juga dibutuhkan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Apalagi saat ini kita sangat disarankan untuk menjaga daya tahan tubuh. 

Kamu juga bisa, kok menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi beberapa camilan enak berikut ini. Coba, yuk! 

1. Kuaci

Kuaci
Ngemil kuaci dari biji bunga matahari ternyata ada faedahnya juga, lho. Si biji mungil ini mengandung vitamin E yang dalam beberapa penelitian dinyatakan mampu menjaga daya tahan tubuh. 

Salah satunya, dalam Journal of Biological Regulators and Homeostatic Agents tahun 2013 yang menyatakan bahwa vitamin E mampu membantu tubuh melawan radikal bebas penyebab kerusakan sel. Dengan begitu, daya tahan tubuh juga dapat terjaga dengan baik. 

2. Almond

Ilustrasi kacang almond. Foto: Shutter Stock
Dalam Journal Science of Food and Agriculture tahun 2006 mengungkapkan, kalau almond merupakan jenis kacang yang kaya akan vitamin E. Selain itu, almond juga dikemas dengan lemak sehat yang juga bermanfaat menjaga kesehatan jantung. 

Agar daya tahan tubuhmu tetap terjaga, ada baiknya konsumsi 46 butir almond kupas guna memenuhi 100 persen jumlah asupan vitamin E harian. 

3. Yoghurt

Yoghurt

Untuk menjaga daya tahan tubuh kamu juga perlu asupan vitamin D, salah satunya bisa didapatkan dari secangkir yoghurt. Minuman fermentasi ini mengandung vitamin D alami yang membantu mengatur sistem kekebalan tubuh.

Minuman fermentasi lainnya yang juga baik untuk daya tahan tubuh adalah kefir. Dilansir Medical News Today, kefir kaya akan antioksidan yang dapat membantu mencegah serangan penyakit perusak sistem imun. 

4. Dark Chocolate

Chocholate (Coklat)
Dark chocolate mengandung antioksidan jenis theobromine yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang kuat juga akan melindungi kita dari kerusakan sel penyebab radikal bebas. 

5. Ubi rebus

Ilustrasi sajian ubi
Ubi mengandung beta-karoten atau senyawa nabati yang bisa diubah menjadi vitamin A oleh tubuh. Vitamin A penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh, kadar darah, dan selaput lendir di lapisan usus. 

Menurut studi yang dipublikasikan dalam US National Library of Medicine National Institutes of Health, kekurangan vitamin A bisa meningkatkan peradangan usus hingga membuat kita mudah sakit akibat daya tahan tubuh yang menurun.

(ald/sbr: kumparan)

Penanganan Covid-19 Minim APD, Perawat TKHL RSU MHAT Kerinci Gelar Aksi Mogok Kerja, Ini Tuntutannya

Aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para perawat TKHL RSU MHAT Kerinci, Jumat 27/03. (Doc/ist)

Sejumlah Perawat TKHL RSU MHAT Kerinci gelar aksi mogok kerja dan menuntut adanya pehatian khusus pemerintah daerah dan pihak rumah sakit terhadap kesejahteraan dan jaminan kesehatan perawat TKHL.

Hal tersebut disebabkan Honor yang diberikan tidak setimpal dan APD yang tidak memadai untuk TKHL dalam upaya menangani Covid-19.

Informasi yang diperoleh aksi mogok kerja itu dilakukan sekitar Pukul 08.00 Wib setelah Apel.

Pemantauan dilapangan, para perawat TKHL berkumpul depan RSU MHAT dan dilanjutkan ke ruangan aula untuk melakukan pertemuan dengan pihak rumah sakit membahas seputar tuntutan para perawat yang disampaikan dalam bentuk tulisan di secarik kertas.

Adapun isi tuntutan para perawat TKHL tersebut yakni : Meminta adanya penyediaan Alat pelindung Diri (APD) yang memadai, Penjelasan simulasi penanganan pasien Covid-19, Jaminan kesehatan dan perlindungan terahadap perawat yang bertugas dalam menangani Covid-19, meminta tidak adanya deskriminasi terhadap perawat serta ancaman dirumahkan serta dipecat khususnya yang ikut aksi damai ini dan memohon peningkatan kesejahteraan perawat TKHL dengan adanya pembagian pelayanan jasa yang setimpal serta dijadikan sebagai data perawat honorer.

Salah satu peserta aksi Rangga Adi Brata menyampaikan bahwa " Saya dan kawan2 perawat TKHL lainnya merasa pihak Rumah sakit dan Pemerintah daerah tidak begitu peduli dan menaruh perhatian khusus terhadap nasib dan kesejahteraan para perawat, sementara kami berada dibarisan terdepan dan beresiko tinggi dalam menangani Covid-19".

Dengan demikian para perawat TKHL akan tetap mengawal hasil pertemuan mereka dengan pihak rumah sakit dan mengacam akan tetap mogok kerja hingga tuntutan tersebut dikabulkan oleh pihak RSU MHAT dan Pemerintah daerah.

Hinga berita ini diturunkan belum ada konfirmasi dari pihak Rumah SAkit Umun MHAT Kerinci. (Ari)

Cegah Corona, Rizieq Minta Anggota FPI Belajar Karantina Mandiri

Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab saat tiba di Gedung Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta, 23 Januari 2017. (doc/TEMPO)
Jakarta - Imam Besar Front Pembela Islam Rizieq Shihab meminta kader FPI untuk mulai belajar mengkarantina diri sendiri di rumah untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Ia juga meminta kader memperbanyak ibadah dan berdoa agar wabah Corona segera bisa diatasi. FPI turut mengajak pengurus FPI untuk mensosialisasikan cara pencegahan penyebaran virus, baik dengan berdoa juga mengikuti petunjuk medis yang terpercaya.

Baca Juga : Malaysia Lockdown Diberlakukan, Seberapa Efektif Hambat COVID-19?

Rizieq juga meliburkan sementara kegiatan Majelis Umum Rutin Mingguan dan Bulanan yang biasa dilakukan di markasnya di Petamburan dan Mega Mendung. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Atas arahan Imam Besar Habib Rizieq Shihab, semua majelis umum rutin mingguan juga bulanan di markas syariah serta DPP FPI, baik di Jakarta atau di Megamendung diliburkan sementara sampai situasi kembali kondusif,” kata Munarman ketika dikonfirmasi soal surat tersebut, Rabu, 18 Maret 2020.

Mengutip pengumuman yang diberikan oleh Munarman, FPI juga memerintah menghentikan sementara semua majelis umum dan tabligh akbar di setiap daerah yang terpapar viru Corona atau terindikasi terpapar. Penghentian dilakukan sampai situasi dinilai kondusif. (ald/tempo.co)

Berita Terkait : Ini Daftar Seleb dan Pesohor Dunia yang Positif Virus Corona


Alasan Vape Lebih Bahaya dari Rokok, Ini Penjelasan Kemenkes

Foto: Ilustrasi cewek gunakan vape (Image/Thumbnail YouTube)
MERDEKAPOST - Penggunaan rokok elektrik (vape) di Indonesia kian hari makin marak. Padahal menurut Ketua Tobacco Control Support Center - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) Sumarjati Arjoso, mengatakan bahwa rokok elektrik ternyata lebih berbahaya daripada rokok konvensional.

Dihimpun Kalbarsatu.id dari viva.co.id, hal itu bukannya tak beralasan, ia mengatakan bahwa rokok elektrik punya beberapa jenis kandungan kimia yang mudah terhirup paru-paru.

"Karena pada cairannya sering dicampur bahan kimia, yang memicu asma, merusak paru dan jantung, serta penyebab kanker. Jika digunakan pada usia lebih muda dapat dapat menghambat perkembangan otak," papar Sumarjati seperti dirilis viva.co.id, Rabu (15/01/2020)

Namun, pengendalian rokok elektronik saat ini masih belum jelas. Belum ada larangan diperjualbelikan, larangan promosi terhadap rokok elektronik.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie juga menyebut bahwa kewenangan pelarangan rokok elektronik sendiri bukan di Kementerian.

"Ini terkait perdagangan, peredaran, periklanan, cukai, kemudian baru pada dampak kesehatan, itu kan rangkaian kita memang di sini, di dampak kesehatan," ujar Cut Putri Raianie dari P2PTM Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Sehingga, lanjut Cut upaya yg diberikan Kemenkes hanya pada dampak kesehatan. Seperti misalnya kawasan tanpa rokok. Sementara untuk peredaran sendiri perlu pihak lain yang mengatur izin peredaran.

"Nah kalau ditanya apa upaya Kementerian Kesehatan melarang atau tidak oleh terkait dengan dampak konsumsi ini sudah jelas undang-undang Kesehatan nomor 36 Tahun 2009 pasal 116 bunyinya kami meminta kawasan tanpa rokok," sambungnya.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa pelarangan tersebut semestinya juga pada sektor perdagangan, Kominfo dan sektor terkait lainnya.

"Pelarangan rokok elektronik adalah sejalan dengan visi Presiden SDM Unggul Indonesia maju, yang tentunya salah satu kriterianya adalah generasi muda tanpa rokok, termasuk rokok elektronik Agar tercapai SDM yang berperilaku hidup sehat, berkualitas dan produktif yang akan mendukung tercapainya Indonesia maju," ujarnya. (*)

Ini Dia Kanker Serviks yang Merenggut Nyawa Julia Perez

Jupe saat dirawat
JAKARTA -- Kanker serviks merupakan kanker nomor dua terbesar yang menyerang perempuan Indonesia. Berdasarkan penelitian, 99,7 persen kasus kanker serviks disebabkan Human Papillomavirus (HPV). HPV diketahui terdiri atas lebih dari 100 serotipe virus, tapi tidak semua serotipe virus tersebut dapat memicu terjadinya kanker serviks.

Diketahui, hanya 20 serotipe HPV yang dapat menyebabkan terjadinya kanker tersebut. Di antara serotipe-serotipe HPV penyebab kanker, serotipe HPV 16, dan HPV 18 yang merupakan penyebab kanker serviks terbanyak. "Penelitian membuktikan, HPV 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70 persen kasus kanker serviks di dunia," kata Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) Prof Dr dr Andrijono SpOG(K).

Ia menerangkan, meski kanker serviks merupakan penyakit ganas yang dapat mematikan, kesadaran untuk melakukan pencegahan kanker serviks di Indonesia umumnya masih kurang. Andrijono mengungkapkan sekitar 70 sampai 82,3 persen pasien baru datang ke dokter ketika kanker sudah mencapai stadium lanjut. Padahal, seperti kanker lainnya, penanganan kanker serviks pada stadium lanjut cenderung lebih sulit. "(Pada pasien stadium lanjut) Rata-rata yang bertahan hidup setelah dua tahun tinggal enam persen (berdasarkan data RSCM)," ujarnya.

Menurutnya, ada dua upaya pencegahan utama bagi kanker serviks, yang salah satunya ialah upaya pencegahan sekunder melalui skrining. Skrining kanker serviks dilakukan melalui papsmear ataupun metode IVA. Upaya pencegahan primer dari kanker serviks ialah pemberian vaksin HPV. Vaksin HPV yang digunakanan di Indonesia ialah vaksin kuadrivalen (empat serotipe virus). Vaksin ini dapat memberi perlindungan dari ancaman infeksi HPV 6, HPV 11, HPV 16, dan HPV 18.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, setiap dua menit seorang perempuan meninggal dunia akibat penyakit akibat infeksi Human Papilloma Virus (HPV) ini. Di Indonesia, angka kasus kanker serviks juga cukup tinggi. Setiap hari, tak kurang 40 orang perempuan terdiagnosis penyakit ini. Tak pelak, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menempatkan kanker serviks sebagai penyakit 'pembunuh' perempuan nomor satu.

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi munculnya penyakit kanker serviks ini. "Salah satunya adalah pembalut yang sering kita pakai," ungkap spesialis kebidanan dan kandungan di RSI Sultan Agung, Semarang, dr Yulice Soraya Nur Intan SpOG.

Dia menyampaikan, tidak semua pembalut dapat menyebabkan munculnya penyakit kanker serviks. Menurutnya, pembalut yang dibuat dari bahan-bahan, seperti kertas bekas dan serbuk kayu (pulp) berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri dan kuman pencetus kanker serviks ini. Selain itu, zat pemutih untuk memutihkan bahan tersebut (dioksin) diduga memicu kuman penyebar virus kanker serviks. "Oleh karena itu, penting mengenali bahan pembalut yang berpotensi memicu kanker serviks." ujar dia.

Yulice menyebutkan beberapa tips mencermati pembalut yang perlu diperhatian perempuan. Cara paling mudah adalah mengambil bagian inti pembalut dan dicelupkan dalam gelas berisi air. Jika terjadi perubahan warna dan hancurnya bahan inti maka besar kemungkinan pembalutnya mengandung zat pemutih. "Itu kualitas produknya buruk," kata Yulice.

Masih ada faktor lain yang menjadi penyebab munculnya penyakit kanker serviks ini, yaitu perempuan yang menerapkan pola hidup tidak sehat. Contohnya, sering berganti pasangan dalam berhubungan intim, merokok, dan faktor kekurangan vitamin. Untuk itu, dia menganjurkan tindakan penegahan kanker serviks sedini mungkin. Soalnya, kanker ini tidak menunjukkan gejala spesifik apa pun pada fase prakanker.

"Sebelum terlambat, kita mengenali berbagai faktor penyebab dan mengurangi semaksimal mungkin aktivitas yang berisiko terhadap penyakit kanker serviks ini," ujar Yulice.)*

Sumber : Pusat Data Republika

Copyright © MERDEKAPOST.COM. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Sejarah Kerinci | Peta Situs