Aset Pemkab Merangin Dipakai Bank Jambi Sejak 2011 Tanpa Perjanjian Sewa, Penyertaan Modal Rp47,5 Miliar Jadi Sorotan

Aset Pemkab Merangin Dipakai Bank Jambi Sejak 2011 Tanpa Perjanjian Sewa, Penyertaan Modal Rp47,5 Miliar Jadi Sorotan

 Merdekapost.com | Merangin - Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), terdapat lima bidang tanah milik Pemerintah Kabupaten Merangin yang dimanfaatkan pihak lain tanpa perjanjian. Salah satunya adalah tanah milik Pemkab Merangin seluas 1.541 meter persegi di kawasan Pasar Bawah Bangko yang dimanfaatkan oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi Cabang Bangko.

Dalam LHP tersebut, BPK mencatat bahwa tanah itu merupakan aset milik Pemkab Merangin yang telah dimanfaatkan Bank Jambi sejak 2011 tanpa disertai perjanjian sewa. Temuan ini menimbulkan pertanyaan mengenai tata kelola barang milik daerah. Bagaimana sebuah aset pemerintah dapat dimanfaatkan selama bertahun-tahun tanpa perjanjian yang menjadi dasar hubungan hukum antara pemilik aset dan pihak yang memanfaatkannya?

Persoalan ini bukan hanya menyangkut pembayaran sewa, tetapi juga berkaitan dengan kepastian hukum, tertib administrasi, pengawasan, dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam menjaga kekayaan milik masyarakat.

Di sisi lain, pihak Bank Jambi menyampaikan bahwa bank tidak dapat melakukan pembayaran sewa karena tidak terdapat perjanjian sewa atas tanah tersebut. Pernyataan ini perlu dilihat secara objektif. Ketiadaan perjanjian memang menjadi persoalan yang perlu ditelusuri, tetapi pemerintah daerah juga perlu menjelaskan bagaimana aset tersebut dikelola dan diawasi selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, persoalan ini tidak tepat jika langsung disimpulkan bahwa Bank Jambi pasti memiliki kewajiban membayar sewa selama 15 tahun. Namun, ketiadaan perjanjian juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan penelusuran terhadap riwayat pemanfaatan aset sejak 2011.

Pemkab Merangin Perlu Membuka Riwayat Aset Sejak 2011

Langkah Pemkab Merangin yang meminta Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) melakukan penilaian terhadap tanah tersebut merupakan bagian dari upaya penyelesaian yang perlu ditindaklanjuti. Namun, penilaian nilai aset saja belum cukup untuk menjawab seluruh persoalan yang muncul dari temuan BPK.

Pemerintah daerah perlu melakukan inventarisasi dan penelusuran dokumen secara menyeluruh. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tanah seluas 1.541 meter persegi tersebut dicatat dalam administrasi barang milik daerah, sejak kapan pemanfaatannya berlangsung, apa dasar penggunaan tanah ketika Bank Jambi mulai memanfaatkannya, dan apakah pernah terdapat dokumen persetujuan, surat-menyurat, atau bentuk kerja sama lain.

Penelusuran juga perlu mencakup dokumen selama periode pemanfaatan, termasuk kemungkinan adanya perubahan status administrasi atau kebijakan pemerintah daerah yang berkaitan dengan penggunaan tanah tersebut.

Langkah ini penting agar penyelesaian masalah tidak hanya berfokus pada keadaan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan seluruh fakta administratif dan hukum yang relevan sejak awal pemanfaatan.

Perlu ditegaskan bahwa pencatatan BPK mengenai pemanfaatan aset sejak 2011 tanpa perjanjian sewa tidak dengan sendirinya membuktikan adanya utang sewa untuk seluruh periode tersebut. Penentuan kewajiban pembayaran harus didasarkan pada dokumen, fakta yang terverifikasi, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Dengan demikian, hasil inventarisasi harus menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar memenuhi tindak lanjut pemeriksaan secara administratif.

Dasar Hukum Menuntut Tertib Pengelolaan Aset Daerah

Persoalan pemanfaatan tanah milik Pemkab Merangin oleh Bank Jambi perlu dilihat dalam kerangka hukum pengelolaan barang milik daerah. Hal ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan juga berkaitan dengan kewajiban pemerintah daerah untuk menjaga status, pencatatan, dan pemanfaatan aset yang menjadi kekayaan daerah.

Pertama, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pasal 44 menegaskan kewajiban pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang untuk mengelola serta menatausahakan barang milik negara atau daerah yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya. Sementara itu, Pasal 49 ayat (1) mengatur mengenai kewajiban sertifikasi tanah milik negara atau daerah atas nama pemerintah yang bersangkutan. Ketentuan ini memperkuat pentingnya kepastian status kepemilikan dan tertib administrasi aset daerah.

Kedua, Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2020. Peraturan ini mengatur mekanisme pemanfaatan barang milik daerah. Pasal 27 menyebutkan sejumlah bentuk pemanfaatan, termasuk sewa, pinjam pakai, kerja sama pemanfaatan, bangun guna serah atau bangun serah guna, serta kerja sama penyediaan infrastruktur. Ketentuan mengenai sewa juga diatur dalam pasal-pasal berikutnya sesuai dengan bentuk dan mekanisme pemanfaatannya.

Ketiga, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah, sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2024. Peraturan ini menjadi pedoman teknis dalam pengelolaan barang milik daerah, termasuk pemanfaatan, penentuan besaran sewa, penilaian, dan penyertaan modal pemerintah daerah atas barang milik daerah.

Keempat, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam hal ini, DPRD Kabupaten Merangin perlu menjalankan fungsi pengawasan sesuai dengan kewenangannya, termasuk mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah dan menindaklanjuti persoalan yang berkaitan dengan hasil pemeriksaan BPK.

Penerapan seluruh ketentuan tersebut harus memperhatikan waktu berlakunya masing-masing peraturan. Mengingat pemanfaatan tanah disebut telah berlangsung sejak 2011, penentuan hak dan kewajiban untuk periode sebelumnya harus didasarkan pada aturan yang berlaku saat itu, dokumen yang tersedia, dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, pemerintah daerah perlu menjelaskan dasar pemanfaatan tanah, status administrasinya, serta langkah hukum yang diperlukan untuk menertibkan pemanfaatan aset tersebut. Tujuannya bukan untuk langsung menyalahkan salah satu pihak, melainkan memastikan bahwa pengelolaan kekayaan daerah berjalan sesuai ketentuan hukum.

Penyertaan Modal Rp47,5 Miliar Perlu Disertai Transparansi

Persoalan ini semakin relevan karena Pemkab Merangin pada saat yang sama mengusulkan penyertaan modal sebesar Rp47,5 miliar kepada Bank Jambi. Rencana tersebut perlu dibahas secara terbuka agar masyarakat mengetahui dasar kebijakan, manfaat yang diharapkan, serta pertimbangan pemerintah daerah dalam menggunakan keuangan daerah.

Penyertaan modal dan pemanfaatan aset daerah merupakan dua persoalan yang berbeda secara hukum. Temuan mengenai tanah tersebut tidak secara otomatis menjadi alasan untuk menyimpulkan bahwa penyertaan modal kepada Bank Jambi tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, rencana penyertaan modal juga tidak menghapus kewajiban pemerintah daerah untuk menindaklanjuti persoalan pemanfaatan aset.

Keduanya tetap berkaitan dengan tata kelola keuangan daerah dan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kepentingan publik. Ketika pemerintah daerah berencana mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk penyertaan modal, transparansi terhadap pengelolaan aset daerah patut menjadi perhatian.

Oleh karena itu, Pemkab Merangin perlu menjelaskan dasar hukum penyertaan modal, tujuan investasi, manfaat yang diharapkan bagi daerah, serta langkah konkret dalam menyelesaikan temuan BPK mengenai tanah tersebut.

Jika penyertaan modal dilakukan dalam bentuk uang daerah kepada Bank Jambi, mekanismenya harus dibedakan dari persoalan pemanfaatan tanah. Keduanya tidak boleh dicampuradukkan, tetapi harus sama-sama dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tuntutan agar persoalan aset diselesaikan sebelum atau bersamaan dengan pembahasan penyertaan modal bukan berarti secara otomatis melarang penambahan modal. Tuntutan tersebut merupakan dorongan agar pemerintah daerah memastikan pengelolaan aset dan keuangan daerah berjalan sesuai hukum serta memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat.

DPRD Merangin Perlu Menjalankan Fungsi Pengawasan

DPRD Kabupaten Merangin memiliki peran penting dalam mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan kewenangannya. Dalam persoalan ini, DPRD perlu meminta penjelasan dari pemerintah daerah mengenai tindak lanjut temuan BPK, hasil penilaian KPKNL apabila telah tersedia, status pencatatan tanah seluas 1.541 meter persegi tersebut, serta dasar pemanfaatannya oleh Bank Jambi sejak 2011.

Selain itu, DPRD perlu memastikan bahwa pemerintah daerah mempunyai langkah penyelesaian yang terukur. Langkah tersebut dapat mencakup penertiban administrasi aset, penetapan dasar hukum pemanfaatan tanah untuk masa mendatang, dan penentuan tindak lanjut apabila hasil pemeriksaan dokumen menunjukkan adanya hak atau kewajiban yang perlu diselesaikan.

Pengawasan tidak seharusnya berhenti pada penyampaian surat, permintaan penilaian, atau pemenuhan dokumen administratif. Harus ada kejelasan mengenai hasil yang ingin dicapai dan langkah yang akan dilakukan untuk memastikan aset daerah dikelola secara tertib.

Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai perkembangan penyelesaian persoalan tersebut dengan tetap memperhatikan ketentuan keterbukaan informasi publik dan dokumen yang dikecualikan.

Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Penilaian, tetapi Kepastian Hukum

Dalam pengelolaan barang milik daerah, penilaian aset, pencatatan administrasi, dan penetapan dasar pemanfaatan merupakan bagian yang saling berkaitan, tetapi tidak dapat saling menggantikan.

Hasil penilaian KPKNL dapat menjadi salah satu dasar untuk menentukan nilai aset atau kepentingan ekonomi yang relevan. Namun, hasil tersebut tidak dengan sendirinya menjawab apakah terdapat kewajiban pembayaran untuk masa lalu, bagaimana status pemanfaatan sebelumnya, atau mekanisme hukum yang tepat untuk digunakan selanjutnya.

Karena itu, Pemkab Merangin perlu menjelaskan secara terbuka tahapan penyelesaian yang ditempuh. Pertama, melakukan inventarisasi dan penelusuran dokumen sejak awal pemanfaatan pada 2011. Kedua, memastikan status hukum dan pencatatan aset dalam administrasi barang milik daerah. Ketiga, menindaklanjuti hasil penilaian sesuai tujuan dan ruang lingkupnya. Keempat, menetapkan mekanisme pemanfaatan tanah ke depan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Kelima, menjelaskan hasil tindak lanjut temuan BPK kepada pihak yang berwenang dan masyarakat sesuai ketentuan keterbukaan informasi.

Apabila penelusuran menemukan adanya hak atau kewajiban yang belum diselesaikan, pemerintah perlu menentukan langkah penyelesaian berdasarkan dasar hukum dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, apabila tidak ditemukan dasar yang cukup untuk menetapkan kewajiban tertentu, keputusan tersebut juga harus disertai penjelasan yang jelas.

Dengan demikian, penyelesaian persoalan ini tidak boleh didasarkan pada dugaan, tetapi harus mengacu pada fakta, dokumen, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Persoalan pemanfaatan tanah milik Pemkab Merangin oleh Bank Jambi sejak 2011 tanpa perjanjian sewa menunjukkan pentingnya tertib administrasi dan pengawasan terhadap barang milik daerah. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa aset yang dimiliki tercatat dengan baik, mempunyai status hukum yang jelas, dan dimanfaatkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pada saat yang sama, usulan penyertaan modal sebesar Rp47,5 miliar kepada Bank Jambi perlu dibahas secara transparan dan berdasarkan prosedur yang berlaku. Persoalan pemanfaatan tanah dan penyertaan modal harus ditangani melalui mekanisme hukum masing-masing, tanpa mengabaikan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan daerah.

Pemkab Merangin tidak perlu terburu-buru menyimpulkan adanya kewajiban sewa selama 15 tahun. Namun, pemerintah juga tidak seharusnya membiarkan riwayat pemanfaatan aset tersebut tanpa penjelasan dan penyelesaian yang memadai.

Keberhasilan menindaklanjuti LHP BPK tidak cukup diukur dari adanya proses penilaian atau surat-menyurat. Hal yang lebih penting adalah kepastian status aset, tertib administrasi, kejelasan dasar pemanfaatan, dan perlindungan terhadap kepentingan keuangan daerah.

Sebelum keputusan penyertaan modal Rp47,5 miliar ditetapkan, Pemkab Merangin perlu memastikan bahwa persoalan pemanfaatan tanah tersebut telah ditangani secara serius, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai pembahasan mengenai penambahan modal berjalan lebih cepat daripada penyelesaian persoalan tata kelola aset daerah yang telah berlangsung bertahun-tahun. Sebab, menjaga keuangan daerah bukan hanya soal ke mana uang baru akan dialokasikan, tetapi juga tentang bagaimana aset yang sudah dimiliki dikelola, diawasi, dan dilindungi agar kepentingan masyarakat tidak terabaikan.

Catatan: Nomor pasal dan penerapan peraturan perlu diverifikasi kembali melalui sumber resmi, terutama untuk memastikan ketepatan dasar hukum yang berlaku pada periode pemanfaatan tanah sejak 2011. (Tim)

PC ISNU Merangin Siap Gelar Madrasah Kader ISNU Regional Sumatra November 2026

PC ISNU Merangin Siap Gelar Madrasah Kader ISNU Regional Sumatra November 2026

 Merdekapost.com | Merangin - Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Merangin siap menggelar kegiatan Madrasah Kader (MK) ISNU Regional Sumatra pada November 2026 mendatang. Agenda strategis ini dilaksanakan dalam rangka memperkuat integritas dan kompetensi kader sarjana NU, khususnya di wilayah Kabupaten Merangin.

Ketua PC ISNU Kabupaten Merangin, Husni Mubarok, S.Sos.I., M.H., menyampaikan bahwa rencana pelaksanaan MK ISNU Regional Sumatra yang dipusatkan di Kabupaten Merangin ini telah mendapat restu dan dukungan penuh dari Ketua PW ISNU Provinsi Jambi, Prof. Erlita, serta Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi, Dr. H. Mahbub Daryanto, M.Pd.I.

"Kegiatan yang dipusatkan di Kabupaten Merangin pada akhir tahun 2026 ini tidak hanya diikuti oleh peserta dari Merangin dan Provinsi Jambi, tetapi juga mendatangkan peserta dari luar daerah se-Sumatra," kata Husni.

Selain dihadiri peserta lintas daerah, kegiatan ini akan menghadirkan narasumber utama dari Pengurus Pusat (PP) ISNU. Agenda besar ini juga dijadwalkan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum PP ISNU, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia.  

Guna memastikan kelancaran dan kesuksesan kegiatan tersebut, PC ISNU Merangin terus menggalang komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.

"Dalam perencanaan persiapan kegiatan ini, PC ISNU Merangin akan terus membangun komunikasi serta kolaborasi dengan berbagai pihak demi mensukseskan agenda yang sangat penting bagi pengembangan kader sarjana NU ini," pungkasnya.(Tim)

Diduga Sering Cekcok dengan Isterinya, Suami di Merangin Nekat Ambil Jalan Pintas

Pria berinisial N (31) di Desa Sungai Kapas, Merangin, meninggal dunia dalam dugaan bunuh diri pada Minggu (4/10/2026), dan polisi melakukan penyelidikan berdasarkan keterangan saksi terkait persoalan rumah tangga korban.(Ilustrasi/Detik.com) 

MERANGIN, MERDEKAPOST.COM – Seorang pria berinisial N (31), warga Desa Sungai Kapas, Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi, meninggal dunia pada Minggu (4/10/2026). Korban diduga mengakhiri hidupnya setelah kerap mengalami perselisihan dalam rumah tangga.

Kapolsek Bangko, IPTU Adri Sukam, membenarkan informasi mengenai peristiwa tersebut saat dihubungi Tribun Jambi melalui sambungan telepon.

"Kami mendapatkan informasi, tadi siang ada warga Desa Sungai Kapas yang diduga mengakhiri hidupnya. Korban berinisial N (31) merupakan warga Desa Sungai Kapas, Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi," kata IPTU Adri Sukam kepada Tribun Jambi.

Setelah menerima informasi tersebut, personel Polsek Bangko mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan awal.

Polisi juga meminta keterangan sejumlah saksi, yakni istri korban berinisial Y dan adik korban berinisial A.

"Saya memerintahkan Intel dan Reskrim Polsek Bangko guna melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut di TKP. Saat datang di lokasi, korban berinisial N sudah akan dimakamkan oleh pihak keluarganya," tutur IPTU Adri Sukam.

Berdasarkan keterangan sementara dari para saksi, korban disebut kerap terlibat cekcok dengan istrinya sebelum peristiwa tersebut terjadi.

"Menurut hasil keterangan dari para saksi, korban N ini sebelumnya sudah sering cekcok dengan istrinya. Permasalahan dalam rumah tangga yang menyebabkan korban berinisial N ini mengakhiri hidupnya," ujar IPTU Adri Sukam.

IPTU Adri Sukam mengatakan keluarga korban telah menerima kepergian korban dan menyatakan tidak bersedia dilakukan autopsi terhadap jenazah.

"Dari pihak keluarga korban sudah menerima dengan ikhlas atas kematian korban dan tidak mau melakukan autopsi terhadap jenazah korban. Sudah dinyatakan di dalam surat pernyataan tertulis, korban saat ini sudah dimakamkan oleh pihak keluarga," tuturnya.

Kapolsek Bangko mengimbau masyarakat agar menyelesaikan persoalan rumah tangga melalui musyawarah dan mencari jalan keluar yang baik. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengambil tindakan yang membahayakan diri sendiri ketika menghadapi masalah.

(Adz/Source:Tribunjambi.com)

Bupati M Syukur Geram, Sidak Diruangan Setda Merangin Temukan ASN Tak Disiplin

Bupati Merangin M Syukur melakukan Inspeksi mendadak di ruangan Setda Merangin, Rabu (7/10/2026), dan menemukan sejumlah ASN dinilai tidak disiplin setelah apel pagi.(Ist) 

BANGKO  | MERDEKAPOST.COM - Bupati Merangin H. M. Syukur geram saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke ruang-ruang kerja bagian di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Merangin, Rabu (7/10/2026).

Sidak  yang dilakukan Bupati M Syukur itu bertujuan memantau secara langsung kinerja dan kedisiplinan pegawai ASN di setiap bagian ruangan kantor.

M Syukur masih mendapati banyak pegawai ASN yang belum disiplin waktu dalam bekerja dan melayani masyarakat.

"Sudah apel pagi terus balik. Ada yang langsung keluar sarapan, kemudian masuk kantornya sampai pukul 11.00 Wib," ujar M Syukur, sembari terus berjalan memeriksa ruang-ruang bagian di Setda Merangin.

Baca Juga: Karhutla Jambi dan Krisis Kearifan Lokal: Antara Penegakan Hukum dan Eksploitasi Alam

Sudah sejak lama tiap harinya M Syukur mengamati dan memperhatikan para pegawai ASN. Setelah mengikuti apel pagi, mereka langsung meninggalkan kantor dan baru kembali ke kantor lagi menjelang pelaksanaan apel sore.

Kondisi tidak disiplin dari para pegawai ASN itu membuat Bupati M Syukur merasa kecewa.

M Syukur menegaskan pegawai di lingkungan Setda Merangin semestinya dapat menjadi contoh bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun pegawai di organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

"Pegawai Setda benar-benar keterlaluan dan sama sekali tidak bisa menjadi contoh," ujar M Syukur dengan penuh kesal sembari menggenggam tangannya dan terus berlalu menuju ruang kerjanya.

Baca Juga: Terkait Dugaan BBM Pertalite Bermasalah, DPRD Sungai Penuh Hearing: Disperindag Harus Pro Aktif

M Syukur menjelaskan, kedisiplinan adalah kunci utama. Pegawai merupakan bagian penting dalam memberikan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat.

M Syukur meminta setiap pegawai wajib mematuhi ketentuan jam kerja dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Inspeksi mendadak (sidak) kepada pegawainya tersebut dilakukan Bupati M Syukur guna memastikan aktivitas pemerintahan di lingkungan Setda Merangin dapat berjalan baik sebagaimana mestinya, sekaligus menjadi evaluasi terhadap kedisiplinan pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

(Adz  | Merdekapost.com)

Pria 31 Tahun Ditemukan Tergantung di Kandang Ayam, Polres Merangin Olah TKP

Seorang pria berinisial AA (31) ditemukan tergantung di kandang ayam di Kelurahan Pematang Kandis, Merangin, Jumat (25/9/2026).(Ist) 

MERDEKAPOST.COM | BANGKO – Warga Merangin digegerkan dengan penemuan seorang pria berinisial AA (31) yang tergantung pada seutas tali yang terikat di kayu kusen atap kandang ayam yang terletak di Pasar Baru, Kelurahan Pematang Kandis, Kecamatan Bangko, Merangin, Jambi, Sabtu (26/9/2026).

Peristiwa itu terjadi pada Jum'at (25/9/2026) di sebuah lokasi kandang ayam yang terletak di belakang Pasar Baru, Kelurahan Pematang Kandis, Kecamatan Bangko.

Kapolres Merangin AKBP Kiki Firmansyah Efendi melalui Kasatreskrim Polres Merangin AKP Epy Koto membenarkan kejadian tersebut.

Baca Juga: Propam Polda Jambi Salurkan 10 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Desa Tangkit Muaro Jambi

"Benar, polisi mendapatkan informasi dari warga yang telah menemukan seorang pria berinisial AA (31) berada di lokasi kandang ayam yang terletak di Kelurahan Pematang Kandis, Kecamatan Bangko, sudah dalam kondisi meninggal dunia pada hari Jumat (25/09/2026)," tutur AKP Epy Koto.

AKP Epy Koto menjelaskan, peristiwa itu bermula pada Jumat (25/09/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saksi berinisial TN (29), yang merupakan istri korban, mengatakan korban berinisial AA (31), yang merupakan suaminya, berpamitan kepadanya untuk menjemput anaknya di sekolah.

Sekitar pukul 11.00 WIB, korban AA bersama anaknya sampai di rumah. Saat itu, korban AA lebih banyak diam dan tidak banyak berbicara kepada istrinya, TN.

Baca Juga: Rumah Warga Kampung Dalam Sungai Penuh Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp200 Juta

Kemudian, pada pukul 12.00 WIB, korban AA keluar dari rumahnya tanpa berpamitan. Saksi TN mengira korban keluar bermain seperti biasa dan tidak menanyakan ke mana tujuan korban.

Pada pukul 13.10 WIB, saksi berinisial RA (27), yang merupakan teman korban, hendak memberikan pakan ayam yang berada di kandang ayam yang lokasinya tepat di belakang rumah korban.

Saat sedang memberikan pakan ayam di kandang ayam tersebut, saksi RA melihat korban AA sudah dalam keadaan tergantung menggunakan seutas tali tambang yang melilit lehernya. Saksi RA kemudian berteriak meminta pertolongan kepada warga sekitar.

Mendengar teriakan saksi RA, istri korban, TN (29), yang sedang berada di dalam rumah langsung keluar dan menuju ke lokasi.

Selanjutnya, saksi berinisial RA (27) segera memotong tali yang melilit leher korban AA (31) dibantu rekannya berinisial MDS (22). Korban AA langsung dibawa ke RS Raudhah Bangko menggunakan sepeda motor bersama rekannya berinisial Z (45).

Sekitar pukul 13.30 WIB, korban AA tiba di rumah sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, korban AA dinyatakan telah meninggal dunia. Pada pukul 14.10 WIB, jenazah korban AA dibawa kembali ke rumah duka.

Baca Juga: Galian Tanah Proyek Kampus STKIP Diduga Ilegal, Aktifitas Dump Truk Bikin Jalan Kumun Hilir Rusak dan Berdebu 

"Mendapatkan informasi dari masyarakat, saya langsung memerintahkan anggota turun langsung bersama Tim Inafis Polres Merangin guna mengecek lokasi TKP dan memeriksa korban," ujar AKP Epy Koto.

"Tim Inafis dari Polres Merangin melakukan olah TKP, mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi, mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi, serta melakukan pemeriksaan awal terhadap korban AA," tutur AKP Epy Koto.

"Dari hasil visum terhadap korban AA tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dengan ikhlas peristiwa yang menimpa korban dan meminta kepada polisi agar jenazah korban tidak diautopsi," ujar AKP Epy Koto.

"Sekitar pukul 17.20 WIB, jenazah korban berinisial AA (31) dibawa oleh pihak keluarga menggunakan mobil ambulans menuju kampung halamannya di wilayah Pesisir, Sumatera Barat, untuk dimakamkan," tutur AKP Epy Koto.(aDZ)

Ini Sosok Tiga Kades di Merangin yang Diberangkatkan ke China Selama 10 Hari

Bupati Merangin, M Syukur, melepas tiga kepala desa untuk berangkat ke Tiongkok dalam rangka Benchmarking Study, Senin (7/9/2026). 

Merangin | Merdekapost.com - Sebanyak tiga kepala desa di Merangin diberangkatkan ke Republik Rakyat Tiongkok.

Keberangkatan itu dilepas Bupati Merangin, M Syukur bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Merangin, Deddi Candra, Senin (7/9/2026).

Para kades yang diberangkatkan ke Cina tersebut berasal dari tiga kecamatan berbeda di Merangin.

Pelepasan Sederhana

Pelepasan berlangsung sederhana di Lobi Kantor PMD Merangin.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Merangin mengatakan ketiganya akan mengikuti kegiatan Benchmarking Study di Tiongkok selama 10 hari.

Baca Juga: Kejari Sungai Penuh Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Desa Rp1,5 Miliar di Desa Tebing Tinggi Danau Kerinci

"Saya minta kepada tiga orang kades ini, untuk mengikuti Benchmarking Study dengan baik dan serius.

"Sepulangnya nanti dapat cepat menerapkan di wilayah kerjanya dan menurunkan ilmu itu ke kades lainnya,’’ujar Bupati.

Sosok Tiga Kepala Desa

Tiga kepala desa yang diberangkatkan ke Cina tersebut, yakni:

- Sukron, Kades Marus Jaya, Kecamatan Renah Pembarap

- Muhammad Agum, Kades Keroya, Kecamatan Pamenang

- Aswani Sabli, Kades Rantau Limau Manis, Kecamatan Tabir Ilir.

Selain mengikuti kegiatan dengan serius, Bupati Syukur juga meminta ketiga kepala desa tersebut menjaga nama baik Indonesia selama berada di Cina.

Baca Juga: Viral Rekaman Video Anak SD Angkat Rantang Makan Gratis, Sopir Mobil Operasional Disorot Warga

Ia berharap ketiganya dapat menjaga sikap dan sopan santun serta membawa nama baik Provinsi Jambi, khususnya Kabupaten Merangin.

Bupati juga berpesan agar ketiga kades menunjukkan karakter Merangin sebagai daerah yang menjunjung nilai keimanan dan budaya.

Baca Juga: Asap Kian Pekat di Kerinci dan Sungai Penuh, Aktivis Lingkungan Desak Pemerintah Daerah Terapkan PJJ

Sementara itu, Kepala Dinas PMD Merangin Dedy Candra menjelaskan, keberangkatan tiga kepala desa tersebut ke Tiongkok berdasarkan surat dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.

"’Surat pemberitahuan tersebut nomor B-1731/HMS.02.01/IX/2026 tanggal, 02 September 2026, Perihal Pemberitahuan keikutsertaan Kades dalam Benchmarking Study di Tiongkok". Jelas Kadis PMD Merangin.(***)

Siapa Dalang Dibalik Aktivitas PETI Beralat Berat di Pulau Baru? Nama Bur dan Anton Muncul dari Keterangan Warga

Siapa Dalang Dibalik Aktivitas PETI Beralat Berat di Pulau Baru? Nama Bur dan Anton Muncul dari Keterangan Warga

MERDEKAPOST.COM | BANGKO — Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang diduga menggunakan alat berat jenis excavator kembali menjadi sorotan. Kali ini, aktivitas tersebut diduga berlangsung di wilayah Desa Pulau Baru, Kecamatan Batang Masumai, Kabupaten Merangin, Jambi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini dari lapangan, sejumlah alat berat jenis excavator disebut masih beroperasi di kawasan yang diduga menjadi lokasi aktivitas PETI. Kondisi tersebut menjadi perhatian masyarakat, terlebih aparat penegak hukum saat ini tengah gencar melakukan penertiban terhadap aktivitas pertambangan emas tanpa izin di wilayah Kabupaten Merangin.

Seorang warga setempat yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyebut, setidaknya terdapat sejumlah alat berat yang diduga digunakan untuk kegiatan penambangan emas tanpa izin di kawasan tersebut.

“Ya bang, alat berat excavator yang sedang bekerja itu punya seseorang bernama Bur, warga Desa Sungai Pinang. Kemudian satu lagi alat berat merek Sumitomo itu punya Anton,” ujar warga tersebut kepada media ini.Referensi Geografis

Menurut keterangan warga lainnya, tidak jauh dari lokasi tersebut juga disebut terdapat alat berat lain yang diduga digunakan untuk aktivitas penambangan emas tanpa izin.

“Di sekitar situ ada juga alat berat excavator yang digunakan untuk penambangan. Informasinya milik Idris dan Cuncun. Alat beratnya merek Hitachi,” ungkap warga lainnya.

Apabila aktivitas tersebut benar merupakan kegiatan penambangan emas tanpa izin dan menggunakan alat berat, keberadaannya tentu menjadi persoalan serius yang patut mendapat perhatian aparat.

Pasalnya, penggunaan excavator dalam kegiatan pertambangan tanpa izin bukan lagi aktivitas berskala kecil. Keberadaan alat berat menunjukkan adanya kegiatan yang relatif terorganisasi dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar.

Sorotan masyarakat semakin menguat karena aktivitas PETI tersebut disebut berlangsung ketika jajaran kepolisian, baik Polda Jambi maupun Polres Merangin, tengah gencar melakukan penertiban terhadap aktivitas pertambangan emas tanpa izin.

Masyarakat pun mempertanyakan bagaimana mungkin aktivitas yang diduga menggunakan sejumlah alat berat dapat berlangsung apabila memang berada di lokasi yang diketahui dan terpantau.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah penertiban PETI hanya menyasar para pekerja atau pelaku kecil di lapangan, sementara pihak yang diduga menjadi pemodal atau pemilik alat berat luput dari penindakan?

Pertanyaan ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi aparat penegak hukum untuk memberikan penjelasan secara terbuka.

Jika benar ditemukan aktivitas PETI menggunakan excavator, masyarakat berharap proses hukum tidak berhenti pada pekerja lapangan. Penegakan hukum semestinya dilakukan secara menyeluruh berdasarkan alat bukti dan ketentuan hukum yang berlaku, termasuk menelusuri pihak yang menguasai, menyediakan, atau memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut apabila memang terbukti memiliki keterlibatan.

Keberadaan alat berat di lokasi yang diduga menjadi tempat aktivitas PETI kini menjadi sorotan. Publik menunggu langkah konkret aparat, khususnya Polres Merangin dan Polda Jambi, untuk memastikan apakah informasi tersebut benar atau tidak.Referensi Geografis

Masyarakat tentu tidak ingin penertiban hanya berhenti pada aktivitas PETI berskala kecil, sementara kegiatan yang diduga menggunakan alat berat justru tidak tersentuh.

Karena itu, publik menunggu keberanian aparat untuk turun langsung melakukan pengecekan, mengidentifikasi alat berat, memeriksa legalitas kegiatan, serta menindak tegas apabila ditemukan pelanggaran.

Beranikah aparat menindak dugaan PETI yang menggunakan alat berat?

Pertanyaan tersebut kini menjadi perhatian masyarakat. Apalagi jika benar terdapat excavator merek Sumitomo dan Hitachi yang beroperasi di lokasi tersebut sebagaimana disampaikan warga.

Hingga  berita ini diterbitkan, media ini belum memperoleh konfirmasi resmi dari pihak yang disebut bernama Bur, Anton, Idris maupun Cuncun mengenai dugaan kepemilikan alat berat dan keterkaitannya dengan aktivitas PETI tersebut.Berita

Kini publik menunggu: apakah aparat akan turun dan membuktikan informasi warga tersebut, atau aktivitas PETI menggunakan alat berat di wilayah Pulau Baru akan terus berlangsung tanpa tersentuh hukum?.(*)

*Editor: Aldie Prsaetyo | Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Daftar 3 Calon Dewas Perumda Tirta Merangin yang Dinyatakan Kompeten

Potongan pengumuman tiga calon dewan pengawas Perumda Tirta Merangin yang dinyatakan kompeten, diambil dari laman Pemkab Merangin, Sabtu (5/9/2026). Selanjutnya, tiga peserta itu akan mengikuti proses wawancara dengan Bupati Merangin.(Ist) 

MERDEKAPOST.COM | BANGKO - Panitia Seleksi Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Merangin mengumumkan tiga nama yang dinyatakan kompeten dan disarankan.

Pengumuman itu dibagikan melalui laman resmi Pemerintah Kabupaten Merangin pada Sabtu (5/9/2026).

Para peserta yang dinyatakan kompeten tersebut setelah asesmen tentang hasil uji kelayakan dan kepatutan tanggal 21 Agustus lalu.

"Pengumuman Nomor 015/Pansel/2026 tentang Pengumuman Hasil Uji Kepatutan dan Kelayakan (UKK) Calon Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Merangin Tahun 2026."

"Berdasarkan Berita acara Asesmen Calon Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Merangin Tanggal 21 Agustus 2026 tentang Hasil Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) dan Berita Acara Nomor 14/Pansel/2026 Tanggal 2 September 2026 tentang hasil penilaian Presentasi Makalah dan wawancara dengan Panitia Seleksi Calon Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Merangin," demikian bunyi pengumuman Nomor: 15/Pansel/2026 tersebut.

Dari UKK tersebut, muncullah tiga nama yang selanjutnya akan mengikuti tahapan wawancara dengan Bupati Merangin, M Syukur.

Daftar 3 Nama Calon Dewan Pengawas PDAM Tirta Merangin

Berikut daftar calon dewas PDAM Tirta Merangin:

- Abdullah Alamudi, 

- Ermanto

- Muhammad Japri, S,Sos    

Ketiganya dinyatakan kompeten dan disarankan untuk menjadi dewan pengawas pada BUMD yang menangani air minum di Merangin tersebut.

Setidaknya, ada tiga komponen yang menjadi rujukan panitia seleksi, yakni:

- Uji kelayakan dan Kepatutan

- Presentasi Makalah

- wawancara dengan Pansel Calon Dewan pengawas Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Merangin:

Wawancara dengan Bupati

Peserta yang dinyatakan kompeten dan disarankan sebagaimana tercantum di atas selanjutnya akan mengikuti wawancara dengan Bupati Merangin.

Adapun, Waktu wawancara disesuaikan dengan jadwal bupati.

Tempat pelaksanaan di Rumah Dinas Bupati Merangin

"Demikian pengumuman seleksi Uji Kelayakan dan kepatutan (UKK) Calon Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Merangin, atas perhatiannya diucapkan terima kasih," tertulis pada surat yang ditandatangani Pansel Dewas Perumda Tirta Merangin, Zulhifni.(Adz)

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs