![]() |
| Gubernur Jambi, Al Haris, mempertanyakan panjangnya antrean, sebab informasi yang ia dapatkan, stok BBM aman dan tercukupi.(Foto: Ilustrasi) |
JAMBI, MERDEKAPOST.COM – Gubernur Jambi, Al Haris, menanggapi antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam beberapa waktu terakhir.
Al Haris mengatakan dirinya telah berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk memastikan kondisi pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Provinsi Jambi.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, stok BBM di wilayah tersebut masih dalam kondisi aman dan tidak mengalami gangguan.
“Kemarin saya tanya ke Pertamina, katanya tidak ada masalah. Mungkin ada keterlambatan distribusi atau masuknya minyak ke SPBU,” katanya, Ahad (14/6/2026).
Meski mendapat penjelasan bahwa pasokan BBM masih tersedia, Al Haris mengaku heran melihat antrean kendaraan yang tetap panjang, terutama untuk BBM jenis solar.
Menurut dia, kondisi tersebut terlihat langsung saat dirinya melakukan perjalanan menuju Kabupaten Merangin dan Kerinci.
Antrean kendaraan, kata dia, bahkan masih terjadi dari malam hingga pagi hari.
“Saya tanya, stok masih aman atau tidak. Tapi kenapa antreannya panjang sekali.
"Saya lihat waktu perjalanan ke Merangin dan Kerinci, dari malam sampai pagi antreannya masih panjang. Ada apa ini?” ujarnya.
Ia menilai perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut guna mengetahui penyebab pasti antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU tersebut.
“Apa memang stok solar kita sedikit? Nah, ini yang akan saya tanyakan lagi kepada Pertamina. Kenapa bisa terjadi seperti ini,” jelasnya.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, Pemerintah Provinsi Jambi akan kembali berkoordinasi dengan Pertamina sekaligus melakukan pengecekan terkait ketersediaan BBM subsidi.
Langkah itu diharapkan dapat mengurai persoalan antrean yang dikeluhkan masyarakat di berbagai daerah.
Kenaikan Pertamax Dikeluhkan
Selain panjangnya antrean BBM jenis solar subsidi, kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026 mendapat respons dari sejumlah pengguna kendaraan di Kabupaten Merangin.
Dampaknya, antrean kendaraan yang mengisi Pertalite tampak memanjang.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Endang, Rabu kemarin, mengaku belum mengetahui adanya kenaikan harga Pertamax 92 saat mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.
"Belum tahu, untuk informasi kenaikan harga BBM jenis Pertamax 92 ini, jujur setelah mengetahui informasi ini. Saya sempet kaget dengan adanya kenaikan harga Pertamax 92 ini, saya merasa berat aja secara ekonomi," kata Endang.
Ia menjelaskan, sebelum terjadi kenaikan harga, dirinya biasa mengisi penuh tangki sepeda motor dengan biaya sekitar Rp45 ribu.
"Tapi setelah ada kenaikan harga Pertamax 92, untuk mengisi full tank untuk kendaraan sepeda motor, saya harus mengeluarkan biaya 60 ribu rupiah. Saya berharap agar Pertamina dan Pemerintah menurunkan harga BBM jenis Pertamax 92 ini, karena kami ini hanyalah rakyat biasa," ungkap Endang.
Keluhan serupa disampaikan Nofrizal, pengendara mobil yang ditemui saat mengisi BBM jenis Pertamax.
Ia mengaku terkejut setelah mengetahui harga Pertamax naik dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter.
"Ya, dengan kenaikan Pertamax 92 ini tentunya berdampak pada ekonomi, pemerintah dan pertamina seharusnya mengerti kondisi ekonomi dari masyarakatnya," jelas Nofrizal.
Pengendara lainnya, Jonlesvik Sinaga, juga mengaku baru mengetahui adanya kenaikan harga tersebut saat berada di SPBU.
Ia mengakui kenaikan harga BBM turut memberikan beban tambahan bagi masyarakat.
"Dengan adanya kenaikan BBM jenis Pertamax 92 ini, ya, kalau dibilang keberatan ya agak keberatan secara ekonomi, yang penting jangan ada kelangkaan BBM di Merangin," ungkap Jonlesvik Sinaga.(adz/sbr:tribunjambi)





