Peringati Harlah ke-90, GP Ansor Kerinci & Sungai Penuh Gelar Shalawatan

Pengurus Cabang GP Ansor kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh, melaksanakan shalawatan dan Doa bersama di Sekretariat GP Ansor Sungai Penuh, pada Rabu (24/04/2024). (Istimewa)

KERINCI, MERDEKAPOST.COM - Dalam rangka Hari Lahir (Harlah) Gerakan Pemuda Ansor (GP ANSOR) ke- 90 tahun, Pengurus Cabang GP Ansor kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh, melaksanakan shalawatan dan Doa bersama di Sekretariat GP Ansor Sungai Penuh, pada Rabu (24/04/2024).

Turut hadir, Dewan Penasehat GP Ansor Kerinci, Rektor IAIN Kerinci Prof Dr Asa'ari Husein, Wakil Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, Kumaini, M. Pd, Ketua PC GP Ansor Sungai Penuh serta Seluruh Kader GP Ansor Kerinci dan Sungai Penuh.

Ketua PC GP Ansor, Kerinci M. Hanil, dalam sambutannya menyampaikan bahwa GP Ansor sudah berumur 90 tahun, hari ini tanggal 24 April 2024 PC GP Ansor Kerinci dan Sungai Penuh melaksanakan Doa bersama.  

"Hari ini GP Ansor sudah berumur ke 90 tahun, momentum ini kita melaksanakan Syukuran dan Doa bersama yang ikuti seluruh kader Ansor di Kerinci dan Sungai Penuh,"jelasnya.

Dewan Penasehat GP Ansor Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, M. Si

Dewan Penasehat GP Ansor Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, M. Si, yang juga Warek II IAIN Kerinci, dalam sambutan menyampaikan kepada seluruh Kader Ansor untuk terus membesarkan organisasi GP Ansor di Kerinci dan Kota Sungai Penuh.

"Dalam mengurus organisasi Ansor, cukup banyak berkahnya, karena sudah banyak para senior yang telah mendapatkan berkah dari berorganisasi di Ansor ini,"katanya.

Maka dari itu, kata Warek II IAIN Kerinci, mengajak kepada seluruh kader Ansor untuk Berbuat lah untuk organisasi secara ikhlas dan Istiqomah. "Agar organisasi ini bisa besar dan maju kedepan yakin lah dalam mengurus organisasi akan ada berkah dalam berorganisasi,"ucapnya sambil memberikan motivasi kepada Kader Ansor Kerinci dan Sungai Penuh.

Sementara itu Dewan Penasehat GP Ansor Kerinci yang juta Rektor IAIN Kerinci, Prof. Dr. Asa'ari, M. Ag, dalam nasehat menyampaikan kepada GP Ansor bahwa sudah berdiri dari tahun 1934 hingga tahun 2024, umur GP Ansor sudah masuk usia ke 90 tahun.

Ketua PC GP Ansor Kerinci M. Hanil, S.Pdi,M.M

"Selamat Hari Lahir GP Ansor ke 90, karena Pasukan GP Ansor di Indonesia terus berkembang sudah lebih kurang 7 juta,"jelasnya.

"Jaga kekompakan kebersamaan dan persatuan, kemudian tingkatkan kualitas kader dan berikan kontribusi dan bermanfaat bagi masyarakat,"tandasnya.

Terakhir dilaksanakan Doa bersama seluruh kader Ansor Kerinci dan Sungai Penuh, yang dipimpin Ustadz Roben.(adz)

Abu Bakar Ba'asyir Titip Salam untuk Gus Ipul: Semoga Sehat Selalu

Abu Bakar Ba'asyir

Solo, Merdekapost.com - Pendiri pondok pesantren Al-Mukmin, Abu Bakar Ba'asyir menitipkan salam untuk Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Salam itu diungkapkan langsung oleh putra Abu Bakar Ba'asyir, yakni Abdul Rochim.

Abdul Rochim mengatakan, Abu Bakar Ba'asyir mengirimkan salam untuk Gus Ipul yang sempat membuat pernyataan agar tidak memilih paslon yang dipilih oleh Abu Bakar Ba'asyir.

"Dari Ustaz Abu Bakar Ba'asyir kirim salam buat Gus Ipul, Semoga sehat selalu," kata pria yang akrab disapa Iim itu kepada detikJateng, Rabu (17/1/2024).

Saat dihubungi, Iim mengaku bahwa dirinya sedang bersama dengan Abu Bakar Ba'asyir. 

"Ini (kami) perjalanan pulang dari kunjungan pesantren di Lereng Gunung Lawu," ungkapnya.

Iim mengatakan bahwa sang ayah juga telah mengetahui mengenai rekaman yang viral di media sosial soal dukungan kepada Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.

"Ya beliau sudah saya beri tahu, rekamannya tersebar. Beliau biasa saja, yaudah," ungkapnya.

Ia mengatakan, Pilpres 2024 akan menjadi momen pertama Abu Bakar Ba'asyir mengikuti pencoblosan. Ia mengaku selama berada di Lapas Gunung Sindur, sang ayah tidak pernah memilih calon presiden.

"Iya pertama. Selama ini kan berada di dalam penjara meski ada TPS beliau tidak bebas mengamati informasi program Capres tidak pernah, juga tidak bisa menilai, jadi lebih memilih tawakuf," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, dilansir detikNews, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul meminta seluruh warga NU agar tak pilih paslon yang didukung Abu Bakar Ba'asyir. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto setuju dengan Gus Ipul.

BACA JUGA:

Gus Salam Sentil Balik Gus Ipul: Dia Lupa Sedang Jabat Sekjen PBNU

"Iya itu setuju dengan gus Ipul. Top itu Gus Ipul," kata Hasto saat ditanya terkait pernyataan Gus Ipul usai jumpa pers di Media Center TPN Ganjar Mahfud, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2024).

Gus Ipul sebelumnya mengingatkan kepada warga NU agar tak sembarangan pilih presiden di 2024. Dia juga menegaskan lagi agar tak pilih paslon yang didukung Abu Bakar Ba'asyir karena beberapa alasan.

"Pertama, saya berharap warga NU datang ke TPS pada tanggal 14 Februari itu untuk menggunakan hak pilihnya dalam rangka untuk memilih pemimpin Indonesia di masa yang akan datang," kata Gus Ipul saat mengawali pesannya kepada warga NU, dilansir detikJatim, Rabu (17/1/2024).

Lalu, Gus Ipul membeberkan alasannya mengapa meminta warga NU tak memilih paslon yang didukung Abu Bakar Ba'asyir.

"Nah, melihat rekaman Ustaz Abu Bakar Ba'asyir tentang alasan memilih presiden, itu menurut saya berbeda dengan cara kita warga NU sesuai para kiai untuk memilih seorang pemimpin," ungkap Gus Ipul.

Gus Ipul mengatakan, memang, warga NU merupakan umat Islam. Namun, muslim di Indonesia hidup berdampingan dengan agama lain. Untuk itu, Gus Ipul tak sependapat dengan pernyataan Abu Bakar Ba'asyir.(HZA)

Gus Salam Sentil Balik Gus Ipul: Dia Lupa Sedang Jabat Sekjen PBNU

Dewan Penasihat Timnas AMIN Abdusalam Shohib atau Gus Salam mengkritisi Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul  (Dok. istimewa / arsip NU Jawa Timur)

Jakarta, Merdekapost.com - Anggota Dewan Penasihat Timnas Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Abdusalam Shohib atau Gus Salam menganggap Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memiliki syahwat politik yang tak tersalurkan dengan baik buntut pernyataannya meminta warga NU tak memilih calon yang didukung oleh Abu Bakar Ba'asyir dan Amien Rais di Pilpres 2024.

"Kalau saya jawabnya simpel, Gus Ipul syahwat politiknya 'kegedean' dan tidak tersalurkan dengan baik," kata Gus Salam ketika dikonfirmasi, Rabu (17/1).

Gus Salam melihat ada tindakan inkonsistensi dari Gus Ipul lewat pernyataannya tersebut. Gus Ipul, kata dia, sempat mewanti-wanti supaya struktur NU harus netral dan tak ikut-ikutan kontestasi politik.

"Hari ini dia ikut celometan terkait Pilpres, ini merupakan tindakan yang inkonsisten, mungkin dia sedang lupa diri dan amnesia kalau sedang menjabat Sekjen PBNU," kata dia.

Lihat Juga : Kabar Duka, Ulama Karismatik Buya Syakur Yasin dari Indramayu Meninggal Dunia

Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang ini menilai Gus Ipul justru sedang merendahkan NU lantaran mengedepankan politik partisan. Padahal, lanjutnya, NU sudah kembali pada Khitah NU 1926 yang disepakati pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984.

"Silakan pilih calon yang di dukung Gus Ipul, tapi ingat jagonya sering kalah, hehe," kata Gus Salam sambil berkelakar.

Sebelumnya Gus Ipul meminta seluruh warga NU menggunakan hak pilihnya di Pilpres 2024 dengan memilih calon yang sesuai dengan kaidah ke-NU-an.

Namun, secara spesifik ia meminta warga NU tak memilih paslon yang didukung oleh Abu Bakar Baasyir.

"Jangan kita mendukung pasangan yang didukung oleh orang-orang yang berseberangan dengan cara berpikirnya orang NU. Seperti calon yang didukung Abu Bakar Ba'asyir misalnya, apalagi ada Amien Raisnya juga," kata Gus Ipul melalui keterangannya, Selasa (16/1).

Lihat Juga: Profil KH Marzuki Mustamar yang Dicopot PBNU, Dia Tokoh NU yang Baiat Ustadz Hanan Attaki

"Kita harus waspada pada kelompok lain yang berseberangan dengan NU apalagi cuma diiming-iming posisi wakil presiden. Jangan mau pilih kelompok ini," kata dia.

Gus Ipul tidak menyebut secara gamblang siapa capres-cawapres yang didukung Abu Bakar Ba'asyir dan Amin Rais. Namun keduanya belakangan ini telah mendukung pasangan AMIN.(*)

*Aldie Prasetya | Sumber: CNN Indonesia 

Jubir AMIN: Anies-Cak Imin Dipersatukan Ulama, Gus Ipul Langgar Khitah NU

Paslon Capres-cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, pada acara Deklarasi Dukungan Keluarga Besar HMI kepada Anies- Cak Imin, di Lippo Kuningan, Jakarta Selatan. [Foto: Ist]

Merdekapost.com - Juru Bicara Timnas Calon Presiden Anies Baswedan dan Calon Wakil Presiden Gus Muhaimin Iskandar atau AMIN bidang santri dan pesantren, Muhammad Husnil menyayangkan pernyataan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf Atau Gus Ipul agar tidak mendukung calon yang didukung oleh Abu Bakar Ba'asyir.

Selain menggunakan metode kampanye fear mongering dan menyebar disinformasi, pernyataan Saifullah Yusuf secara jelas telah melanggar prinsip khittah NU.

BACA JUGA: Profil KH Marzuki Mustamar yang Dicopot PBNU, Dia Tokoh NU yang Baiat Ustadz Hanan Attaki

“PBNU yang telah menggariskan diri sebagai jam’iyah diniyyah dan tak terlibat politik praktis, kini malah diseret ke dalam politik praktis oleh sekjennya langsung, Saifullah Yusuf,” kata Muhammad Husnil, Rabu 17 Januari 2024.

Mestinya, kata dia, Gus Ipul bijak dalam menyampaikan pesannya sebagai tokoh kedua tertinggi di PBNU setelah Ketua Umum, KH Yahya Cholil Staquf.

“Bila memang beliau terlibat dalam pemenangan salah satu calon presiden, sebaiknya mundur saja dari kepengurusan. Jangan sampai memanfaatkan posisinya sebagai Sekjen PBNU untuk kepentingan kampanye,” kata Husnil.

Memang tampak seperti netral, kata dia, tetapi sesungguhnya pernyataan itu untuk memberikan kampanye negatif terhadap salah satu paslon.

BERITA DUKA: Kabar Duka, Ulama Karismatik Buya Syakur Yasin dari Indramayu Meninggal Dunia  

“Jelas sekali bahwa yang dia maksud adalah pasangan Anies-Muhaimin. Padahal, pasangan Calon Presiden dan Calon Presiden Anies Baswedan dan Abdul Muhaimin Iskandar ini dipersatukan oleh ulama-ulama khos NU, seperti Lora Kholil As’ad Syamsul Arifin, Mbah Thoifur Mawardi, Gus Badawi Kudus, Gus Munif Zuhri, atau Mbah Amin Cilacap,” ujar Husnil.

Jubir Timnas AMIN  bidang santri dan pesantren, Muhammad Husnil. [Foto: Dok/ Ist]

Husnil menyatakan bahwa Gus Ipul telah lupa terhadap sembilan pedoman berpolitik NU yang didasarkan pada khitah NU. 

“Pada poin ketujuh disebutkan bahwa ‘Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apa pun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah.’ Apa yang Gus Ipul katakan itu jelas-jelas mau memecah belah bangsa,” kata Husnil.

Husnil memastikan bahwa justru Anies dan Muhaiminlah yang benar-benar sesuai dengan kriteria NU sebagai seorang pemimpin.

“Kaidah ushul fiqh almuhafadhah alal qadimi ash-sholih wal akhdzu bil jadidi al-ashlah (mempertahankan yang lama dan mengambil yang baru yang lebih baik). Anies ketika di Jakarta itu justru meningkatkan program-program yang sudah dirintis gubernur-gubernur sebelumnya, seperti MRT atau Transjakarta dan membuat program baru yang lebih bagus, seperti memberikan beasiswa kepada santri dan siswa madrasah lewat KJP plus," tegasnya.

BACA JUGA: JK Salut Polisi Cepat Menangkap Pengancam Tembak Anies

"Gus Muhaimin itu mempertahankan dan membawa PKB sebagai salah satu partai besar di Indonesia dan membawa kontribusi konkret terhadap santri dan pesantren, seperti memperjuangkan Hari Santri dan UU Pesantren,” tegasnya.

Dibanding menyebarkan isu dan membawa PBNU ke dalam arena politik praktis, Husnil menyarankan kepada Gus Ipul untuk menguji secara langsung ketiga pasangan itu untuk melihat mana yang lebih pas dalam soal amaliah atau cara berpikir NU.

“Kalau mau menguji rekam jejak kinerja, Pak Anies dan Gus Muhaimin lebih siap dibanding siapa pun. Kalau mau menguji amaliah NU, silakan juga," ucapnya.

Wakil Walikota Solo: Sejumlah Perda Jalan di Tempat karena Nunggu Gibran

"Saya kira, kita sebagai Nahdliyin akan sangat senang sekali bila dibuka di publik bagaimana bacaan kunut Pak Prabowo, Mas Gibran, atau Pak Anies, dan Gus Muhaimin. Atau Pak Ganjar dan Pak Mahfud. Atau bila dirasa masih kurang, bisa juga dilihat mana yang sekiranya bisa memimpin tahlil atau diminta untuk memimpin selawatan di hadapan publik," sambungnya.

"Pak Anies dan Gus Muhaimin sudah teruji di publik, tapi saya kira tidak akan keberatan bila ada forum khusus untuk menguji amaliah NU mereka berdua,” pungkasnya. (hza)

Kabar Duka, Ulama Karismatik Buya Syakur Yasin dari Indramayu Meninggal Dunia

Buya Syakur Yasin. Foto: Youtube/Buya Syakur Yasin 

MERDEKAPOST.COM - Ulama karismatik KH Syakur Yasin meninggal dunia, Rabu (17/1). Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan, Kertasemaya, Indramayu, Jabar, tutup usia di rumah sakit dini hari tadi.

Kabar ini langsung menyebar. Capres 03, Ganjar Pranowo juga memberikan ucapan duka atas wafatnya Buya Syakur yang dikenal sebagai ulama moderat, teman diskusi Gus Dur (alm) dan Cak Nur (alm).

Saya menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Buya Syakur, Innalillahi wa innailaihiroji'un. Sosok ulama sekaligus cendekiawan bersahaja yang pemikirannya melintasi zaman.

Kita berdoa semoga seluruh amal ibadahnya diterima dan mudah-mudahan seluruh kebaikan beliau bisa mengantarkan beliau husnul khatimah. Selamat jalan Buya, terima kasih atas semua ilmu yang engkau sebarkan dalam setiap ceramahmu

--tulis Ganjar Pranowo lewat akun X @ganjarpranowo

Menimba Ilmu dari Mesir hingga Inggris

Buya Syakur meninggal dalam usia 75 tahun. Pria kelahiran 2 Februari 1948 itu dikenal jadi salah satu ulama karismatik di Indramayu dan sekitarnya. 

Buya Syakur menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. Studi berlanjut dengan di sejumlah negera, seperti Irak, Suriah, Libya, Tunisia, hingga Mesir. Bahkan, Buya Syakur sempat menempun pendidikan di Oxford, Inggris.

Pengajiannya biasa digelar secara langsung di Pondok Pesantren Cadangpinggan, Kertasemaya, Indramayu. Ceramahnya juga bisa dinikmati lewat media sosial.

Sejumlah tokoh turut berbelasungkawa. Seperti anggota DPD RI sekaligus mantan Ketua MK, Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie. 

"Prof. KH. Buya Abdus-Syakur Yasin, pengasuh Ponpes Cadangpinggan yg terkenal kedalaman ilmunya telah meninggal dunia, hari ini 17 Jan 2024 di Indramayu, mari kita doakan almarhum husnulkhotimah, diterima segala amalnya & diberi tempat terbaik oleh Allah swt. Alfatihah," tulis Jimly di X.

(HZA | MPC) 

Profil KH Marzuki Mustamar yang Dicopot PBNU, Dia Tokoh NU yang Baiat Ustadz Hanan Attaki

KH Marzuki Mustamar saat ini tengah jadi sorotan buntut polemik pencopotannya dari jabatan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. (Foto: Detik.com)

Surabaya - KH Marzuki Mustamar saat ini tengah jadi sorotan buntut polemik pencopotannya dari jabatan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Ada pihak yang menyebut pencopotan itu kental dengan kepentingan politik. Sementara Pengurus Besar NU (PBNU) menyebut pemberhentian Kiai Marzuki tersebut adalah masalah internal biasa yang tak perlu dibesar-besarkan.

Marzuki adalah salah satu kiai senior di NU. Dia lahir di Blitar, 22 September 1966. Abahnya adalah Kiai Mustamar, sementara ibunya Nyai Siti Jainab. Dari keluarga ini, dia mulai belajar Al Quran dan dasar-dasar ilmu agama.

Semasa kecil, Marzuki belajar ilmu agama di Madrasah Ibtidaiyah. Anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih kepada Kiai Ridwan dan kiai-kiai lain di Blitar. Menginjak SMP, dia sudah diminta mengajar Quran dan kitab-kitab kecil kepada anak-anak tetangga.

Marzuki muda sudah mendalami ilmu agama ke beberapa kiai di Blitar. Di antaranya, mendalami ilmu balaghoh dan ilmu mantek kepada Kiai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kiai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kepada Kiai Hasbullah Ridwan.

Setamat dari MAN Tlogo pada 1985, Marzuki melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN Malang yang kini jadi UIN Maulana Malik Ibrahim pada 1990. Dia juga nyantri kepada KH A Masduqi Machfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono. Dia juga diminta mengajar di usianya yang masih 19 tahun.

Selain di IAIN Malang, Marzuki juga tercatat pernah menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam and Arab (LIPIA) Jakarta, hingga menuntaskan program master atau S2 nya di Universitas Islam Lamongan (Unisla) pada tahun 2004.

Marzuki menikah dengan seorang santriwati Pondok Nurul Huda sekaligus putri Kiai Ahmad Nur,yang bernama Saidah pada tahun 1994. Dari perkawinannya itu mereka dikaruniai tujuh orang anak.

Di awal pernikahan, Marzuki dan istri memutuskan pindah ke rumah kontrakan di wilayah Gasek, Malang. Dia kemudian membesarkan Yayasan Sabillurosyad yang sudah lebih dulu ada, dengan mendirikan Pondok Pesantren Sabillurosyad.

Selain jadi Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Marzuki juga aktif sebagai Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang 2 periode, Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang, Dosen Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, hingga jadi Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang.

Pada 2010, Marzuki menerbitkan satu karya dari tulisan, yaitu Al-Muqtathafat li ahl al-Bidayat. Buku ini berisi sanggahan kepada beberapa kelompok terutama salafi wahabi yang suka membid'ahkan amaliah kaum Nahdliyyin. Buku ini masih diperuntukkan untuk kalangan terbatas karena masih berbahasa Arab.

Semasa aktif jadi Ketua PWNU Jatim Marzuki Mustamar pernah masuk dalam bursa calon Ketum PBNU untuk periode 2021-2026. Namanya berada di urutan teratas hasil survei kandidat Caketum PBNU 2021-2026 yang dilakukan oleh lembaga survei Indostrategic.

Marzuki mendapatkan dukungan tertinggi sekitar 24,7 persen. Posisi kedua diduduki Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Hasan Mutawakkil Alallah dengan raihan 22,2 persen. Dalam survei itu, Said Aqil selaku petahana duduk di urutan ketiga dengan 14,8 persen.

"Kalau masyayikh menghendaki saya jadi ketua ranting saya siap, masyayikh menghendaki jadi ketua TPQ saya siap, masyayikh menghendaki saya 'Marzuki sampean istirahat' ngajar pondok yang serius untuk mengkader para ulama saya juga siap. Saya sebagai kader NU senantiasa siap kalau memang itu [mencalonkan Ketum PBNU] diinginkan masyayikh," kata Marzuki kepada CNNIndonesia.com, Senin 11 Oktober 2021.

Nama Marzuki juga pernah mencuat usai membaiat Ustaz Hanan Attaki masuk ke NU. Pasalnya pendakwah muda itu kerap dikaitkan dengan kelompok yang berlawanan dengan ajaran Ahlussunah Wal Jamaah. Ceramahnya juga ditolak di mana-mana.

Marzuki menyebut, pertemuan pertamanya dengan Hanan berlangsung saat Hari Raya Idulfitri 1444 H lalu. Pembicaraan keduanya pun berlangsung dengan Bahasa Arab.

"Hari Raya seperti umumnya tamu Hari Raya sowan ke saya. Kemudian saya sedikit banyak tahu masalah [Hanan] kena portal di Madura, di mana, lalu saya memberi nasihat pakai Bahasa Arab. Dia kan alumni Mesir Al Azhar," kata Marzuki, Rabu, 17 Mei 2023.

Marzuki menyebut, selama 3 jam dirinya memberi nasihat dan berbincang dengan Hanan, banyak hal yang keduanya bahas. Mulai cara berdakwah dan membimbing umat, sampai upaya menjaga keutuhan bangsa dan rasa nasionalisme.

Tapi baiat Hanan tak terjadi di hari itu. Marzuki kemudian memberi tahu dan mempersilakan Hanan untuk datang di acara halal bi halal dan haul di Malang, 11 Mei 2023. Acara itu dihadiri KH Anwar Zahid dan Prof Nadirsyah Hosen.

"Akhirnya dia rawuh, nah melihat acara pengajian kayak begitu, ada istigasah kebangsaan kayak begitu, kami enggak tahu apa yang terjadi dalam hatinya," ucapnya.

Di tengah acara, Hanan lalu tiba-tiba meminta agar dibaiat menjadi anggota NU. Marzuki mengatakan hal itu berjalan alamiah tanpa paksaan apapun.

"Terus lewat Mas Halim, lurah pondok kami, pas saya di panggung dia [Halim] sampaikan 'Kiai, Ustaz Hanan pengin dibaiat masuk NU', itu aja jadi. Semuanya alami enggak ada yang dipaksakan," katanya. 

(hza/mpc)


Warnai HUT RI ke-78, Ratusan Kader GP Ansor Kerinci Gelar Pawai

Ratusan anggota Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) cabang Kerinci dan Sungai Penuh melaksanakan pawai keliling dan syukuran pada Kamis (17/08/2023). (doc/ist)

KERINCI | MERDEKAPOST.COM - Dalam Rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 tahun 2023, Ratusan anggota Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) cabang Kerinci dan Sungai Penuh melaksanakan pawai keliling dan syukuran pada Kamis (17/08/2023).

Sebelum melaksanakan syukuran bersama, ratusan anggota GP Ansor Kerinci dan Sungai Penuh melakukan Pawai dengan menggunakan kendaraan bermotor di kota Sungai Penuh, dikawal oleh petugas kepolisian dari Polres Kerinci.

Ketua GP Ansor Kerinci, M.Hanil, M.Pd, mengatakan, pada HUT Kemerdekaan ke-78, GP Ansor Kerinci melaksanakan Pawai Keliling dengan menggunakan motor. Kegiatan itu merupakan salah satu bentuk partispasi GP Ansor Kerinci dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.

"Pada Hari Kemerdekaan RI ke-78, GP Ansor Kerinci ikut memeriahkan dengan Pawai Keliling dan Melaksanakan Syukuran pemotongan Tumpeng di Sekretariat,"jelasnya.

Kenurut M. Hanil, dalam Kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari Perjuangan dari para Ulama Nahdatul Ulama (NU). Makanya GP Ansor adalah bagian dari NU, hari ini merupakan bentuk partispasi dan mengingatkan jasa para Ulama.

"Maka untuk mengenangkan jasa para pejuang NU yang ikut berjuang demi mempertahankan NKRI, kita melaksanakan syukuran dan Pawai Keliling,"ujarnya.

Selain itu, kegiatan hari ini sekaligus silaturahmi dengan sesama Kader GP Ansor kabupaten Kerinci. "Semoga kedepannya selalu Kompak dan menjaga persatuan dan kesatuan,"ingatnya.

Selanjutnya Anggota GP Ansor, Kerinci melaksanakan pemotongan Tumpeng, sebagai bentuk syukuran HUT kemerdekaan RI ke-78 tahun 2023, dengan dihadiri Rektor IAIN Kerinci, Wakil Rektor IAIN Kerinci dan Kabora IAIN Kerinci.(hza)

Said Aqil Tak Masalah Bila Anies Dekati NU Cari Calon wapres

KH Said Aqil Siradj 

Jakarta, Merdekapost.com - Ketua DPP Partai NasDem Effendy Choiri atau Gus Choi mengaku memiliki pertimbangan sendiri soal calon waki/l presiden untuk Anies Baswedan dari kalangan NU. Mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj merasa tak masalah jika Anies mencoba mendekati kalangan PBNU.

"Ya boleh-boleh saja, masa nggak boleh, mau dekat siapa dekat siapa?" kata Said Aqil kepada wartawan di Hotel Royal Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (25/3/2023).

Baca juga:Gus Muhaimin Resmikan Masjid al-Istiqomah Kemang, Puji Semangat Masyarakat

Said Aqil tak banyak komentar terkait isu cawapres Anies Baswedan dari kalangan NU. Menurutnya, tak ada masalah jika Anies dekat dengan tokoh-tokoh di PBNU.

"Itu masalah politik saya nggak bisa jawab," ujar Said saat ditanya apakah dirinya setuju cawapres Anies dari kalangan PBNU.

Baca juga:Women`s Day, Gus Muhaimin Komitmen Rangkul Kesetaraan dan Inklusi

Sebelumnya, Ketua DPP Partai NasDem Effendy Choirie atau Gus Choi berbicara soal calon wakil presiden untuk Anies Baswedan ke depannya. Gus Choi menilai semua usulan ditampung untuk kemudian dipilih yang terbaik.

"Nggak apa-apa (Demokrat dorong AHY, PKS Aher), semua usulan kan harus ditampung dibicarakan bersama dan ujungnya siapapun harus diterima asal memang cawapresnya itu bisa mendongkrak suara," kata Gus Choi kepada wartawan, Kamis (12/1) lalu.

Baca juga:Gus Muhaimin Teteskan Air Mata saat Didoakan Ribuan Santri Istana Yatim

Gus Choi menilai saat ini belum ada nama khusus yang pasti bakal mendampingi Anies Baswedan di Pemilu 2024. Hanya saja, ia memiliki pertimbangan sendiri dengan beberapa nama dari kalangan NU.

Khofifah Indar Parawangsa

"Belum. Tapi, nama-nama yang mungkin pantas untuk dipertimbangkan untuk jadi Cawapres Anies dari kalangan NU, misalnya ada Khofifah, ada Saifullah Yusuf Sekjen PBNU, ada Yenny Wahid, ada Gus Yasin. Gus Yasin itu Wakil Gubernur Jawa Tengah," ujarnya.

Saifullah Yusuf (Sekjen PBNU)

Gus Choi menjelaskan jika nama-nama tersebut merupakan pertimbangan pribadi. Meski demikian, ia tak menampik jika ada dari daftar itu yang diperbincangkan di internal NasDem.

Gus Yasin (Wagub Jateng)

"Ini wacana bebas, saya yang berwacana ini. Di dalam NasDem-nya dari nama itu ada juga yang disebut. Cuma saya menambahkan," tutur Gus Choi.

Yenny Wahid (Putri Gusdur)

"Kalau dari teknokrat ada Ilham Habibie. Jadi Ilham Habibie itu menarik juga kan, ini anaknya Habibie kan intelektual luar biasa itu, teknokrat kan. Itu menurut saya perlu juga diwacanakan ke publik. Nanti bagaimana respons publik, kan begitu," lanjutnya.

Ilham Habibie

Ia belum mengetahui pembahasan di internal seperti apa. Hanya menurut Gus Choi pengurus menyuguhkan cawapres dari kalangan NU yang belum berpolitik praktis seperti Khofifah, Syaiful Yusuf, Yenny Wahid, hingga Gus Yasin.

"Kalau obrolan-obrolan di pengurus NasDem ya, level-level bawah, level menengah, sampai level atas yah intinya antara lain ya dari lingkungan NU," imbuhnya.(*)

Aklamasi, Gus Fatkhullah Pimpin PW Pagar Nusa Jambi Periode 2023-2028

KH.Fatkhullah SH MH terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Provinsi Jambi. (doc/ist)

JAMBI | MERDEKAPOST.COM - KH.Fatkhullah SH MH terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Provinsi Jambi. Ia terpilih secara aklamasi yang didukung 7 PC dalam Konferensi Wilayah ke-1 di Aston Jambi Hotel, pada Jumat (17/02/2023) kemarin.

Gus Fat sapaan akrabnya KH Fatkhullah menjadi satu-satunya calon tunggal yang diusung sebagai ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Provinsi Jambi oleh 7 Pimpinan Cabang yang hadir.

“Sesuai dengan tatib, kita tetapkan Gus Fatkhullah sebagai ketua PW Pagar Nusa Jambi 2023-2028.” Kata pimpinan sidang pleno kongres dari PP Pagar Nusa Indrawan Husairi yang didampingi Muktaruddin. Tepuk tangan peserta kongres pun gemuruh.

Pria yang juga pengasuh Ponpes Muhajirin Tembesi Batanghari itu lalu disilahkan memberi sambutan. Ia mengungkapkan, akan membenahi kepengurusan dan kader pagar nusa hingga bawah.

” Kwalitas SDM para pendekar Pagar Nusa akan kita benahi mulai dari kepelatihan hingga keorganisaan, sehingga tidak dalam puncaknya saja tapi juga organisasi dan SDMnya,” ungkapnya.

Ia berpesan, agar anggota Pagar Nusa tetap solid dan konsisten dalam menjaga kerohanian, kedamaian dan menjunjung tinggi NKRI. Sebab, organisasi ini dibentuk oleh Nahdlatul Ulama yang melahirkan santri-santri pilihan.

“Mari kita junjung tinggi kedamaian organisasi dan junjung tinggi NKRI,” tutupnya.

Gus Fatkhullah terpilih menjadi Ketua PW Pagar Nusa menggantikan H.Herman,S.Ag, M.PdI yang telah memimpin PW Pagar Nusa periode 2017-2022.(*)

Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Sungaipenuh Gelar LKD Ke-1 Se-Provinsi Jambi


MERDEKAPOST.COM – Sungai Penuh. Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Sungaipenuh melaksanakan Latihan Kader Dasar (LKD) angkatan pertama pada Jumat - Sabtu 30 - 31 Desember 2022 di Aula Ma’had IAIN Kerinci. 

Ketua PC Fatayat NU Sungaipenuh Eka Mutia mengatakan, LKD bertema “Membentuk Kader Fatayat NU yang Militan, Bermartabat dan Bermanfaat bagi Umat” ini adalah program internal untuk menciptakan kader militan. Tak hanya itu, tapi visioner, memahami ajaran, nilai-nilai, cara pikir dan karakter NU, Aswaja dan Fatayat, serta jadilah pengurus yang mau mengurus jangan mintak di urus apalagi menjadi urusan. 

Hadir dalam LKD tersebut Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Provinsi Jambi Sri Rahayu, M.Pd. Ketua Nahdlatul Ulama Kota Sungaipenuh Nasrun Farut, S.PD,Dpt, serta Danramil Kota Sungaipenuh Kapten Firman dari Kodim 0417/Kerinci.

Dalam sambutannya, Sri Rahayu menyampaikan agar Fatayat NU memahami tentang jati diri Fatayat sebagai perempuan dan kader, dimana sebagai perempuan juga mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk saling mengasihi, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar (QS Attaubah:71). 

Sedangkan sebagai kader organisasi, kata dia, Fatayat NU Sungaipenuh juga harus selalu memahami aturan dan kode etik organisasi, selalu berkoordinasi antara tingkatan pengurus serta pentingnya kader Fatayat selalu menebar kebaikan dimana pun dan kepada siapa pun.

Sri Rahayu juga mengajak peserta LKD untuk senantiasa menjadikan fikrah nahdliyyah di atas dijadikan pedoman dalam kehidupan berorganisasi, sehingga kader Fatayat dapat memberikan manfaat yang luas dan besar bagi umat dan bangsa. 

LKD ini juga diselingi dengan penyerahan bantuan usaha produktif Baznas propinsi Jambi oleh ketua Baznas Propinsi Jambi Sri Rahayu kepada 11 penerima bantuan.

Sri Rahayu juga mengharapkan kedepan dalam menjalankan roda organisasi seluruh pengurus mengedepankan -sebagaimana ajaran qoidah fiqhiyah- “Tasharrufual Imam ‘alarroiyah manutun bilmaslahah” bahwa kebijakan pemimpin hendaknya bertumpu pada kemasalahatan umatnya atau yang dipimpinnya”.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Nahdlatul Ulama Kota Sungaipenuh Nasrun Farut juga menyampaikan sejarah NU, serta pola pikir dan karakter  NU yang terdiri dari pertama, pola pikir (fikrah Tawasutthiyyah) artinya NU selalu bersikap seimbang (tawazun) dan moderat (I’tidal) dalam menyikapi berbagai persoalan. (rdp)

Melepas Jebakan Khittah, Kembali ke Spirit Walisongo; Saatnya NU Move On!


Ketum PBNU Said Aqil Siradj (kanan), Wapres (tengah) dan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (kiri). (doc/ist) 

Melepas Jebakan Khittah, Kembali ke Spirit Walisongo; Saatnya NU Move On !

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

MERDEKAPOST.COM - Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas yang paling bangga mewarisi spirit dakwah Islamiah ala Walisongo. Setiap figur dari sembilan waliyullah menjadi road maps perjuangan membela agama, bangsa dan negara. Sementara itu tidak ada guideline yang tegas bagaimana menentukan posisi masing-masing para wali; siapa yang pertama dan siapa yang terakhir.

Generasi muda Nahdliyyin terpaksa menjadi terbelah. Mereka yang memilih jalur khittah menemukan pijakannya pada figur-figur anggota Walisongo yang tidak berada di pucuk kepemimpinan politik. Bagi golongan ini, NU sebagai sebuah organisasi modern lebih baik bergerak di ranah politik kebangsaan dari pada terjun ke ranah politik kekuasaan.

Warga Nahdliyyin yang lain memilih jalur tafsir yang berbeda. Mereka menemukan pijakan pemikirannya pada figur-figur waliyullah seperti Sunan Giri Kedaton yang pertama dan Sunan Gunung Jati yang terakhir. Atau, figur Raden Fattah yang melepas statusnya sebagai anggota Walisongo sebelum diangkat secara mufakat untuk menjadi Raja Demak. Kelompok Nahdliyyin ini memandang politik kekuasaan jauh lebih penting daripada politik kebangsaan.

Logo Nahdlatul Ulama

Perdebatan antara pendukung politik kebangsaan dan politik kekuasaan sudah pasti tidak akan selesai sampai kapanpun. Bahkan, Muktamar NU ke-34 di Lampung nanti tidak menjamin dua kubu ini sepakat satu suara tentang hermeneutika tafsir atas peran Walisongo. Sebab, figur para wali memang beragam sejak awal. Sejarah tidak bisa diubah, walaupun tafsir atas sejarah bisa terus berkembang.

Memang benar ada satu upaya yang mencoba untuk memadukan dua paradigma berpikir umat Islam di Nusantara kala itu. Misalnya Sultan Agung dari Mataram Islam melakukan profanisasi atas konsep teologis Manunggaling Kawulo-Gusti, yang semula bermakna spiritual (manusia dan Tuhan) menjadi politis (rakyat dan raja). Pengaruhnya berupa perubahan status seorang raja, yang sekaligus adalah waliyullah.

Konsep baru Sultan Agung Mataram Islam ini secara substansial tidak cukup baru, karena masih menyimpan aspek ortodoksi Islam Nusantara itu sendiri, yang bisa dirujuk pada figur Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, dan Raden Fatah. Tiga figur ini bukan saja waliyullah melainkan juga raja; bukan saja raja tetapi juga waliyullah. Raja dan Wali manunggal dalam satu figur.

Penyatuan konsep Raja dan Wali adalah konsep paling matang yang bisa kita nikmati sebagai warisan agung dari Mataram Islam. Hal ini harus terus dipertahankan sebagai wujud kecintaan kita pada bentuk interpretasi Islam versi Nusantara. Walaupun Islam Nusantara semacam ini juga mengandung sisi ortodoksi, yaitu sebuah pemahaman keislaman yang sudah eksis sejarah era Rasulullah dan Khalafaurrasyidin.

BACA JUGA: Potensi dan Peluang Duet Kyai Said - Cak Imin di Muktamar NU 

Warga Nahdliyyin tidak satupun yang akan menolak kenyataan sejarah bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Utusan Allah sekaligus penguasa politik Madinah. Sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib adalah penguasa politik sekaligus sahabat terpilih yang dijamin masuk surga. Artinya, kombinasi agama dan politik kekuasaan bertahan sejak awal Islam sampai wujud terbarunya di Nusantara.

Adalah kenyataan yang cukup sulit diterima dalam konteks mutakhir perkembangan kebangsaan kita hari ini untuk memisahkan Nahdlatul Ulama dari politik. Sebab, atmosfer politik hari ini adalah atmosfer demokrasi yang berbeda total dari demokrasi ala orde lama. Kepimpinan Soeharto memang sangat represif. Jika saat itu ada wacana khittah maka sangat rasional. Karena di bawah otoritarianisme hanya sentralisasi yang mungkin hidup. Kebebasan direpresi sedemikian mengerikan.

Konsep NU kembali ke Khittah, yakni meninggalkan politik kekuasaan dan memilih politik kebangsaan, hari ini tidak relevan. Hari ini bukan lagi zaman Orde Baru yang otoriter represif. Mempertahankan produk pemikiran yang tidak kontekstual adalah bentuk kejumudan yang logis. Karena konsekuensinya adalah menganggap era reformasi hari ini masih serupa dengan era orde baru Soeharto. Hanya dengan meninggalkan produk pemikiran era orde baru kita bisa sepenuhnya masuk ke era reformasi, termasuk meninggalkan Khittah itu sendiri.

Meninggalkan Khittah bukan berarti menyalahi jalan dakwah Islamiah ala Walisongo. Tetapi, kita sedang mencontoh beberapa figur Walisongo dengan meninggalkan figur yang lain. Kita mencontoh anggota Walisongo yang memilih jalur politik kekuasaan dengan meninggalkan anggota Walisongo lain yang memilih jalur politik kebangsaan. Ini modal konseptual yang perlu dibahas pada muktamar 34 nanti.

Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Gus AMI) bersama Ketum PBNU Kiyai Said Aqil Sirodj 

Dengan demikian, hemat penulis, PBNU yang baru harus lahir dari muktamar 34 nanti, yaitu berorientasi pada kekuasaan bukan sekedar kebangsaan, Kepemimpinan PBNU yang baru harus terlepas dari Jebakan Khittah yang secara nyata telah merugikan NU secara politik, Khittah adalah "masa lalu" dan saat ini NU membutuhkan masa depan, muktamar adalah momentum NU untuk move on bahkan NU membutuhkan kepemimpinan baru yaitu PBNU yang Ketua Umum Tanfidziah dipimpin oleh politisi ulung kader terbaik Nahdliyyin. Sedangkan Rais 'Amm dipimpin oleh ulama, keduannya menyatu sebagai kepemimpinan konsep era walisongo seperti Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Raden Fatah. Tidak ada pilihan yang lebih baik, karena berdasarkan pengalaman NU paling mutakhir; ada upaya menjadikan warga Nahdliyyin sebagai objek politik kekuasaan bukan subjek politik kekuasaan. Wallahu a'lam bis shawab.

*Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.*

Ketum PKB: Jokowi Hebat, Indonesia Jadi Leader G20


Potensi dan Peluang Duet Kyai Said - Cak Imin di Muktamar NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj (kedua kiri) bersama Wakil Ketua MPR sekaligus Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (ketiga kiri) dan para pejuang NU menghadiri acara Haul Para Pejuang NU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (10/4/2019). Kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara PBNU dan MPR RI yang bermaksud untuk mendoakan para pejuang NU yang telah wafat. (foto:Tribunnews) 

MERDEKAPOST.COM – Figur atau tokoh-tokoh yang pantas menduduki posisi nomor satu di Nahdlatul Ulama (NU) terus mengemuka meski mulai mengerucut pada dua calon Ketua Umum PBNU yakni KH. Said Aqil Siradj dan KH. Yahya Cholil Staquf.

Namun mengaca dari setiap muktamar jam’iyyah berlambang Bintang Sembilan ini selalu saja ada dinamika yang berkembang jelang pelaksanaan muktamar yang pada tahun ini akan digelar di Lampung pada 23-25 Desember mendatang.

Termasuk juga dinamika kemungkinan majunya figur tak terduga seperti Abdul Muhaimin Iskandar berduet dengan KH. Said Aqil Siradj. Hal ini bisa saja terjadi, Muhaimin yang juga dipanggil Cak Imin berada di posisi Rois Tanfidziyah dan Said Aqil di posisi Rois Syuriah.

Cak Imin yang saat ini sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bisa saja tiba-tiba memutar haluan merangsek masuk ke PBNU bila melihat skenario PKB yang dipimpinnya terganggu jika yang jadi Ketua Umum PBNU nantinya adalah Gus Yahya.

BACA JUGA: Gus Muhaimin Ditetapkan Jadi Wakil Presiden Centrist Democrat International

Meski NU selama ini secara tegas telah menyatakan memisahkan diri dari politik praktis namun harus diakui bahwa juga sel-sel PKB memiliki irisan yang kuat dengan NU. Bisa jadi juga Muktamar NU ke-34 kali ini jadi pintu dibukanya kembali pembahasan Khittah NU ketika para elite NU membahas bab politik dimana yang hadir di muktamar nanti beberapa anggota NU yang aktif di PKB.

Kenyataan ini bisa saja terjadi berdasarkan atas pernyataan Direktur Eksekutif Indostrategic, A. Khoirul Umam yang menilai bahwa salah satu faktor kemenangan calon ketua umum PBNU akan ditentukan oleh keberpihakan politik Abdul Muhaimin Iskandar lewat manuver sel-sel politik PKB di daerah.

Umam berpendapat memang sekilas ini tidak memiliki kaitan. Namun dalam kalkulasi politik praktis, perubahan status quo di elit PBNU ini bisa berimplikasi serius pada dominasi kepemimpinan dan stabilitas politik internal PKB

“Jika kita petakan, Kiai Yahya Cholil Staquf merupakan kakak kandung Menteri Agama Gus Yaqut, yang notabene berada di gerbong tersendiri dalam dinamika internal PKB. Jika Kiai Yahya menang di Muktamar NU nanti, maka hal itu berpotensi mengonsolidasikan kekuatan politik yang mengancam dominasi politik Cak Imin yang mampu bertahan sekitar 20 tahun di pucuk kepemimpinan PKB ”. katanya seperti dilansir Antara. 

Sementara itu, KH. Imam Jazuli, Pimpinan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, berpendapat berbeda. Antara PKB dan NU menurutnya seharusnya bersatu jika ingin menjadi sebuah kekuatan politik yang disegani.

“Saya kira sudah saatnya PKB dan NU bersatu lewat Muktamar ini. NU dan PKB akan sama-sama mendapatkan keuntungan dan menjadi kekuatan politik besar,” kata Kyai Imam.

Untuk itu menurut Kyai Imam ide menduetkan Cak Imin dengan Kyai Said sangat memungkinkan di PBNU. Cak Imin yang sudah malang melintang di dunia politik praktis menduduki posisi Tanfidziyah sementara Kyai Said yang lebih senior menempati posisi Rois Syuriah.

“Saya kira jika duet ini benar-benar terwujud akan sangat dahsyat dampaknya bagi warga Nahdliyyin meski akan ada resistensi terkait dengan khittoh NU. Tapi selama komunikasi politik terjalin dengan baik apapun bisa terjadi,” kata Kyai Imam. (Sumber : Tribunnews.com)


Berita Terpopuler


Copyright © MERDEKAPOST.COM. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs