Gempa Berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 guncang Venezuela: 920 orang tewas

Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 guncang Venezuela, 920 orang dilaporkan tewas.(BBC)

MERDEKAPOST.COM - Jumlah korban tewas akibat gempa di Venezuela kini meningkat menjadi 920 orang, menurut Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez.Sumber gambar,Reuters

Jumlah korban tewas akibat gempa di Venezuela kini meningkat menjadi 920 orang, dengan 3.360 lainnya dilaporkan terluka, menurut Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez.

Tim SAR juga masih berupaya mencari korban selamat di antara puing-puing setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang negara tersebut.

Di sisi lain, Rodríguez mengatakan puluhan orang telah berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup.

Keterangan gambar: Banyak keluarga kehilangan kerabat mereka akibat dua gempa dahsyat di Venezuela.

"Ini membawa kebahagiaan bagi kami karena mereka bisa kembali memeluk keluarga dan orang-orang tercinta," ujarnya pada Jumat (26/06).

Dia juga menyebutkan bahwa hingga kini telah terjadi 214 gempa susulan, setelah dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5.

Rodríguez menambahkan bahwa wilayah La Guaira akan "dimiliterisasi" untuk membantu penanganan darurat.

La Guaira merupakan salah satu daerah yang paling parah terdampak oleh dua gempa tersebut.

Sedikitnya 2.927 keluarga telah kehilangan rumah mereka akibat gempa, kata Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez.

Upaya bantuan internasional juga mulai berdatangan. Sebuah tim penyelamat dari Belanda telah berangkat dari Eindhoven Air Base menuju Venezuela untuk membantu proses evakuasi dan pemulihan. Tim tersebut terdiri dari 65 personel dan delapan anjing pelacak, menurut European Press Agency.

Tim bantuan dari El Salvador juga telah tiba di negara tersebut, bersama personel penyelamat dari Meksiko dan Swiss.

Koordinator kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, mengatakan bencana ini membutuhkan respons global yang terkoordinasi.

"Kita memerlukan respons internasional, dan kami akan mengoordinasikannya serta memastikan bantuan tersalurkan," ujarnya pada BBC Radio 4. "Saya ingin masyarakat di Venezuela tahu bahwa bantuan sedang dalam perjalanan."

Rodríguez sebelumnya menyatakan bahwa dana sebesar US$200 juta (Rp3,26 triliun) telah dikucurkan dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu pembangunan kembali infrastruktur dan rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan.

Baik Palang Merah maupun PBB kini telah memobilisasi bantuan untuk Venezuela pasca-gempa.

Pihak Palang Merah menyatakan bahwa cabang Palang Merah di Venezuela saat ini telah "beroperasi dan bergerak memberikan respons."

Dalam sebuah pernyataan daring, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebutkan bahwa "kebutuhan paling mendesak yang diantisipasi" adalah pencarian orang, penyelamatan, serta tempat penampungan darurat, dan layanan kesehatan.

Gempa di Caracas, Venezuela, pada 24 Juni 2026. (Sumber gambar:AFP via Getty Images)

Keterangan gambar,Tim SAR mengevakuasi korban gempa dari dalam reruntuhan sebuah bangunan di Caracas, Venezuela, pada 24 Juni 2026.

Air bersih dan sanitasi, bersama dengan kebutuhan pokok rumah tangga, diperkirakan akan menjadi prioritas dalam beberapa hari ke depan.

Tom Fletcher sebelumnya menyampaikan bahwa sebuah tim gerak cepat sedang dipersiapkan untuk mendukung tim PBB yang sudah ada di Venezuela.

Ia menambahkan bahwa bencana ini "berisiko memperparah kerentanan yang sudah ada sebelumnya".

Fletcher mengatakan bahwa delapan juta orang sebenarnya sudah membutuhkan bantuan kemanusiaan di negara tersebut sebelum gempa terjadi, dan ia mendesak adanya "upaya kolektif masif" untuk mendukung penanggulangan yang dipimpin oleh pemerintah.


Polisi menolong seorang perempuan di antara reruntuhan bangunan di Caracas.(Sumber:Getty Images)

Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela, menurut laporan Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).

Gempa pertama terjadi pada pukul 18:04 waktu setempat dan berpusat di dekat Kota San Felipe, sekitar 280 km di sebelah barat Ibu Kota Caracas.

USGS melaporkan adanya gempa susulan yang lebih kuat sesaat setelah gempa pertama, dengan magnitudo 7,5.

Pusat gempa kedua berada dekat kawasan Yumare, sedikit lebih ke utara dari gempa pertama.

USGS mengatakan ada 44% kemungkinan bahwa jumlah korban jiwa melebihi 10.000 orang.

"Bencana ini kemungkinan meluas" dan gempa susulan dengan guncangan kuat dapat terjadi, kata USGS.

Selain itu, terdapat juga risiko terjadinya tanah longsor dan likuifaksi di permukaan tanah.

Bantuan dari berbagai negara akan segera berdatangan

"Dua gempa besar yang baru saja melanda masyarakat Venezuela berskala sangat besar dan telah menyebabkan jumlah korban tewas yang menghancurkan," tulis Presiden AS Donald Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

"Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu membantu!"

Trump mengatakan ia telah "menginstruksikan semua lembaga pemerintah kami untuk bersiap bergerak dengan cepat.

"Kami akan ada untuk sahabat baru dan hebat kami. Laporan awal tidak baik!!!"

Tim SAR mencari korban di antara reruntuhan bangunan di Caracas.(Getty images)

Jeremy Lewin, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di bidang Bantuan Luar Negeri, mengatakan AS akan mengirimkan tim SAR, pasokan medis, dan bantuan kemanusiaan ke Venezuela.

Departemen Luar Negeri AS punya tim bantuan bencana yang sedang bekerja sama dengan pemerintahan sementara Venezuela, kata Lewin.

Negara-negara di Amerika Latin juga telah menawarkan bantuan.

Presiden El Salvador, Nayib Bukele, mengatakan negaranya telah menyiapkan 50 ton peralatan dan logistik, serta 300 anggota tim SAR yang "siap diberangkatkan ke Caracas".

Ekuador juga telah mengatur bantuan untuk segera dikirim ke Venezuela, kata Presiden Daniel Noboa Azin.

Sementara itu, Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mengatakan negaranya akan menilai langkah bantuan yang dapat diambil untuk mendukung "negara saudara" tersebut.

Menteri Luar Negeri Meksiko, Roberto Velasco Álvarez, juga menawarkan kepada Venezuela "seluruh solidaritas dan dukungan yang dibutuhkan".

Semua WNI dalam keadaan selamat

Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengonfirmasi dalam pernyataan melalui siaran televisi pemerintah bahwa sejumlah rumah dan gedung runtuh akibat gempa.

Dia menambahkan bahwa "semua badan keamanan dan bantuan, perlindungan sipil, relawan, pemadam kebakaran, polisi" telah dikerahkan.

Cabello mendesak semua warga Venezuela di daerah terdampak untuk meninggalkan bangunan.

Layanan gas alam yang memasok ribuan rumah di kota-kota Venezuela, dihentikan sebagai langkah pencegahan untuk menghindari "jenis kecelakaan apa pun", kata Menteri Cabello.

Layanan listrik dan sinyal internet terputus setelah gempa di beberapa bagian kota.

Gempa terjadi pada hari libur di Venezuela, sehingga lebih banyak orang berada di rumah dibandingkan hari kerja biasa.

Tanggal 24 Juni merupakan hari peringatan Pertempuran Carabobo pada 1821.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat puluhan orang berteriak dan berlari di dalam Bandara Internasional Maiquetía ketika terjadi kerusakan signifikan.

Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar RI di Caracas telah memastikan seluruh WNI yang terdata di Venezuela, yakni sebanyak tiga orang, dalam kondisi aman, selamat, dan sehat.

"Gedung Kantor KBRI Caracas beserta Wisma Duta tidak mengalami kerusakan struktural yang berarti dan seluruh staf dalam keadaan selamat," kata Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah.

KBRI Caracas, menurut Heni, telah melakukan koordinasi dan komunikasi cepat pascagempa. Jalur komunikasi darurat telah dibuka untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan pemutakhiran kondisi WNI secara berkala.

'Ini adalah gempa terkuat seumur hidup'

Jurnalis dan kontributor BBC Mundo, Nicole Koster, merasakan gempa di lantai 7 apartemennya di pusat Caracas.

"Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan seumur hidup," katanya.

"Saya melihat jendela-jendela besar bergerak. Yang terpikir oleh saya adalah berdiri di antara pintu masuk dan dinding batu, yang menurut saya cukup kuat, untuk mencoba melindungi diri," ujarnya.

"Guncangannya begitu kuat hingga saya pikir bangunan itu akan runtuh menimpa saya," katanya.

Nicole menambahkan dirinya bisa mendengar suara orang-orang meminta pertolongan di antara reruntuhan sebuah bangunan.

"'Tolong, kami di sini'. Itu yang saya dengar," kata Nicole.

Setelah gempa, sambungnya, warga diminta menunggu di luar bangunan untuk mengantisipasi jika terjadi gempa susulan.

Keterangan Foto: Bangunan runtuh di Caracas akibat gempa.

Maria Elise, warga lain di kawasan pusat Caracas, mengatakan: "Beberapa dinding apartemen kami retak. Ada tiang listrik yang tumbang, kami tidak memiliki listrik, tidak ada sinyal."

Seorang perempuan berusia 80 tahun yang tinggal di selatan Caracas mengatakan kepada kantor berita Reuters: "Bangunan tempat tinggal saya bergoyang. Polisi membantu saya turun karena saya tidak bisa."

Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat memperingatkan bahwa gempa susulan dapat terjadi.

Apa penyebab gempa di Venezuela?

Venezuela terletak di zona aktif seismik, tempat dua lempeng tektonik—Karibia dan Amerika Selatan—bertemu.

Menurut Lembaga Survei Geologi AS (USGS), gempa kedua dengan kekuatan lebih besar terjadi akibat "pergeseran patahan mendatar yang dangkal" di dekat batas kedua lempeng tersebut.

Hal ini terjadi ketika patahan, atau retakan di antara lempeng, bergerak secara horisontal. Gempa bumi terjadi ketika pergerakan ini berlangsung dengan cepat.

"Meski sering digambarkan sebagai titik pada peta, gempa sebesar ini lebih tepat dijelaskan sebagai pergeseran pada area patahan yang lebih luas," lapor USGS.

Dua gempa hari ini "kemungkinan menunjukkan proses interaksi patahan yang kompleks," kata lembaga tersebut.

Gempa susulan, termasuk yang "berpotensi menimbulkan guncangan kuat", masih mungkin terjadi, tambah USGS.(Adz/BBC)

Kronologis Lengkap, Taufik Hidayat Pria yang 'Sekap dan Aniaya' Kekasih Selama 3 tahun Bakal dituntut Pasal Berlapis

 

Keterangan gambar: Tersangka Taufik Hidayat saat dihadirkan Polda Jabar kehadapan publik.(Ist/Ant)

Laporan Peristiwa Sadis:

Taufik Hidayat, Pria yang 'menyekap dan menganiaya' Kekasih selama 3 tahun dituntut pasal berlapis Bagaimana kronologinya?

Kepolisian Daerah Jawa Barat akan menerapkan pasal berlapis terhadap Taufik Hidayat, tersangka kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR, perempuan berusia 29 tahun asal Rancaekek, Kabupaten Bandung. Kasus ini dinilai sebagai bentuk kekerasan ekstrem.

Polisi memberikan kesempatan biacara bagi tersangka kasus penyekapan dan penganiayaan berat Taufik Hidayat (kedua kanan) saat konferensi pers di Mapolda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026). (Sumber: ANTARA FOTO)

"Kalau dilihat dari peristiwanya dan perbuatannya, tersangka ini termasuk sesuatu yang tidak wajar, sadis, kekerasan yang kita kutuk bersama," kata Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Rudi Setiawan, saat jumpa pers di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Jumat (26/06).

"Untuk itu, kami Polda Jabar semaksimal mungkin akan mempersangkakan tersangka dengan pasal yang seberat-beratnya," tambahnya.

Menurut Rudi, pasal pertama yang disangkakan pada Taufik adalah Pasal 466 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2023 tentang KUHP. Pasal ini terkait tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan luka berat dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Berikutnya, Pasal 451 tentang penyanderaan dengan ancaman hukuman paling lama 12 tahun.

Ketiga, Pasal 446 ayat 2 tentang perampasan kemerdekaan yang ancaman hukumannya paling lama 9 tahun penjara. Pasal-pasal tersebut akan dijuntokan dengan Pasal 126 ayat 2 dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara.

Rudi menyebut, pasal-pasal tersebut akan diterapkan secara kumulatif dengan menggabungkan sejumlah persangkaan pidana terhadap Taufik dalam perkara tersebut.

Lebih lanjut, Polda Jabar juga mengungkap bahwa Taufik sebelumnya pernah terlibat kasus kekerasan terhadap perempuan, dan telah divonis satu tahun delapan bulan penjara.

Status residivis ini, kata Rudi, akan juga diterapkan kepada tersangka guna memperberat hukumannya.

"Ada empat pasal dan kami lapis lagi dengan pasal residivis untuk lebih memperberat lagi dan kami pasalkan dengan kumulatif. Jadi nanti dikumpulkan semua itu. Hukuman pasal satu dan berikutnya sehingga dapat dikumpulkan [hukumannya], " ujar Rudi.

Keterangan gambar:Tersangka Taufik Hidayat

Diketahui, sebelumnya, Kepolisian Daerah Jawa Barat telah menangkap Taufik di sebuah komplek perumahan di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, pada Selasa (23/06).

Taufik disebut sempat kabur dan bersembunyi di Tangerang, Banten. Namun kemudian kembali ke kawasan Bandung Raya karena merasa tidak aman.

Di Kabupaten Bandung, Taufik juga sempat berada di Kecamatan Majalaya.

Setelah ditangkap pada Selasa (23/6) malam, Taufik Hidayat langsung menjalani serangkaian pemeriksaan di Mapolda Jawa Barat. Saat ini dia ditahan di sel khusus.

"Kami akan lakukan penahanan di sel khusus yang sudah kita pasang CCTV dan berada sendiri dan dalam pengawasan kami semua," ujar Kapolda Jabar, Irjen Polisi Rudi Setiawan, di Mapolda Jabar, Selasa (23/06) malam.

Polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain dua buah helm, senjata tajam, benda seperti senjata api, dan dua buah botol infus.

Bagaimana kronologi kasus?

Menurut keterangan polisi, tersangka Taufik Hidayat dan YTR disebut berkenalan melalui aplikasi kencan pada 2024. Korban, yang kala itu bekerja di sebuah pabrik makanan di Bandung, kemudian tinggal bersama Taufik di sebuah kamar kos.

Kepada keluarga, korban sempat mengaku pindah kerja ke Majalengka untuk mendapatkan upah yang lebih besar. Keluarga mencoba mengecek keberadaan korban sesuai informasi yang diberikan, tapi tidak pernah berhasil menemui YTR.

Korban juga sempat mengaku bekerja di sebuah perusahaan media di Jakarta.

Keluarga, yang merasa kehilangan korban, kemudian mencoba menghubungi korban melalui Facebook karena nomor telepon seluler korban tidak bisa dihubungi.

"Dan direspon sama korban bahwa pihak keluarga jangan mengurus yang bersangkutan karena yang bersangkutan sudah dewasa atau merasa besar," beberapa Rudi.

Tersangka dan Korban Berpindah-Pindah Tempat Kos

Tersangka dan korban diketahui berpindah-pindah tempat kos sebanyak empat kali dalam rentang waktu sejak Mei 2024 hingga Juni 2026. Pertama, di Cicaheum, Kota Bandung, kemudian Krisna Jaya, Kota Bandung. Keduanya kemudian pindah ke Cilengkrang, Kabupaten Bandung, dan terakhir di Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Keberadaan korban akhirnya diketahui keluarga pada 10 Juni 2026. Keluarga mendapat informasi bahwa korban berasa di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dengan kondisi luka berat.

Korban berada di RSHS dibawa oleh tersangka dengan diantar penjaga kos. Awalnya korban dibawa ke RSUD Ujung Berung, Kota Bandung. Namun, dia kemudian dirujuk ke RSHS karena kondisi luka parah.

Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan (tengah) bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi (kiri) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (kanan) menyampaikan keterangan pers saat pengungkapan kasus penyekapan dan penganiayaan berat di Mapolda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/06). (Sumber: ANTARA FOTO)

Melihat kondisi korban yang terluka parah, keluarga kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polda Jabar, pada Jumat (12/06).

Lebih lanjut, Rudi menjelaskan, selama bersama tersangka, korban kerap mengalami penganiayaan. Kekerasan itu dialami korban di empat tempat kos, yang kini telah ditetapkan sebagai Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh polisi.

Di tempat kos pertama, kata Rudi, korban mengalami pukulan dan sundutan rokok di tubuhnya. Kondisi itu terjadi dalam kurun waktu 15 Mei 2024 hingga 15 September 2024.

"Di TKP kedua, terjadilah pemukulan terhadap mata kiri dengan besi. Itu yang menyebabkan (korban) tidak bisa melihat, " ujar Rudi.

Di TKP ketiga, mata kanan korban dipukul menggunakan helm sehingga kondisi korban tidak bisa melihat melalui dua matanya. Kekerasan ini terjadi pada bulan Februari 2025 sampai Desember 2025.

"Ini juga terjadi kekerasan di lutut, ditebas dengan benda tajam sehingga korban sulit berjalan, " imbuh Rudi.

Di TKP keempat, penganiayaan berlanjut hingga korban dibawa ke RSHS.

Bagaimana kondisi YTR?

Direktur Utama RSHS, Rahim Dinata Marsudi, menyatakan kondisi luka korban sudah infeksi berat.

"Boleh diatakan belatung sudah ada. Kami segera melakukan operasi pembersihan lukanya. Dan kami temukan ada bakteri, yang memang cukup berat," ungkap Rahim pada jumpa pers.

Rahim juga menambahkan telah membentuk tim yang beranggotakan 40 orang dokter dengan berbagai spesialisasi untuk menangani korban.

Sebelumnya, Kapolda Rudi Setiawan mengungkapkan, YTR mengalami luka berat di sekujur tubuhnya. Untuk keperluan penyelidikan, kata Rudi, dokter forensik telah mengidentifikasi organ-organ tubuh yang rusak.

"[Organ-organ tubuh] yang tidak berfungsi di antaranya adalah mata, kemudian bibir, ada bekas sayatan di kaki. Ini benda tajam. Kemudian ada sundutan rokok dan sebagainya. Tentunya, ini menjadi bukti dari apa yang telah terjadi atau dilakukan tersangka," kata Rudi.

Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung membentuk tim dokter untuk menangani kondisi luka yang dialami YTR. Tim itu berisi sejumlah dokter, antara lain dokter spesialis bedah plastik, spesialis mata, dan spesialis penyakit dalam.

Saat ini, kondisi YTR disebut mulai membaik dan bisa berkomunikasi.

"Kondisi pasien saat ini sudah mengalami perbaikan. Alhamdulillah sudah bisa berbicara, " ungkap Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSHS, Fitra Hergyana, kepada wartawan, Selasa (23/06).

Seiring membaiknya kondisi YTR, tim penyidik Polda Jabar melakukan pemeriksaan terhadap perempuan itu guna mendalami kasus.

Lebih lanjut, Irjen Polisi Rudi Setiawan menjelaskan, pihaknya telah bekerja sama dengan Lembaga Pelindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk melindungi YTR dan saksi.

Kuasa hukum korban, Januar Solehuddin menyatakan, kondisi korban yang sudah membaik akan membantu proses penyidikan tim Polda Jabar.

Adapun pihak keluarga, imbuh Januar, berharap ingin mengembalikan kemerdekaan dan hak-hak korban yang sudah dirampas.

"[Keluarga ingin] benar-benar mendapatkan keadilan seadil-adilnya terkait pasal-pasal 466, 469. Tetapi, kami juga ingin pasalnya yang relevan dengan perkara ini, " kata Januar.

Apa alasan tersangka?

Menurut Irjen Polisi Rudi Setiawan, Taufik Hidayat mengaku terbiasa mengonsumsi minuman keras setiap hari. Taufik, kata Rudi, mengklaim penganiayaan terhadap YTR dilakukan dalam keadaan mabuk.

"Semua [perbuatan] yang dia [tersangka] lakukan, dia mengakui dan sempat menyatakan bahwa dia menyesal karena ini dilakukannya di bawah kesadaran akibat konsumsi alkohol," papar Rudi.

"Setiap hari dia konsumsi alkohol dan selalu bercekcok dengan kekasihnya dan terjadilah penganiayaan," sambungnya.

Polisi menduga YTR disekap dan dianiaya Taufik Hidayat menggunakan tangan, benda tumpul, dan senjata tajam selama tiga tahun. Barang berharga YTR juga hilang.

"Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka berat, di antaranya mata tidak bisa melihat secara normal, bibir sumbing, sulit berbicara, tidak bisa berjalan, serta megalami kerugian materil sebesar Rp52 juta," sebut laporan kepolisian.

Kepolisian menyebut terduga pelaku bernama Taufik Hidayat yang diketahui sebagai kekasih korban. Menurut polisi, Taufik merupakan warga Nagreg, Kabupaten Bandung, dan berprofesi sebagai penagih utang.

Bagaimana respons keluarga?

Pada jumpa pers Jumat (26/06), keluarga menyebut menolak permintaan maaf tersangka.

Tersangka Taufik Hidayat, pada kesempatan itu, mengaku bersalah dan meminta maaf.

"Saya mohon maaf atas semua yang saya lakukan. Saya salah. Saya menyesal, saya minta maaf, " kata Taufik, yang dihadirkan saat jumpa pers.

Menanggapi permintaan maaf tersebut, kakak korban, Afif Shandy Shandely, menyatakan, pihak keluarga tidak akan memaafkan Taufik.

"Dari keluarga gak ada kata maaf. Dia enteng ngomong maaf, sedang adik saya sudah kayak gini, dia baru minta maaf. Gak ada kata maaf, " ucap Afif.

Afif bahkan menyatakan, keluarga ingin menghakimi sendiri si pelaku.

"Harapannya dari saya pribadi untuk pelaku, saya gak mau pelaku dihukum mati. Saya pengin dia diserahkan ke keluarga biar saya yang menghakimi dia atas perbuatan dia terhadap adik saya, " kata Afif dengan suara tercekat.

Bagaimana respons pemerintah dan Komnas Perempuan?

Kasus ini memantik kemarahan masyarakat serta sorotan dari pemerintah.

Komisioner Komnas Perempuan, Rr Sri Agustini, menilai, korban mengalami perlakuan kejam dan tidak manusiawi berupa penyekapan dan penganiayaan berat. Sri menegaskan, keselamatan, pemulihan, dan perlindungan korban harus menjadi prioritas utama.

"Komnas Perempuan juga mengecam keras tindakan yang dilakukan pelaku dan menegaskan bahwa peristiwa ini kekerasan berbasis gender dalam relasi personal. Dan Komnas Perempuan juga melihat ini sebagai bentuk kekerasan berbasis gender yang sangat ekstrim. Apabila kasus ini tidak diketahui oleh masyarakat, bisa berujung pada kematian," kata Sri, dalam jumpa pers hari Jumat (26/06).

"Ini sangat jelas indikator-indikator eskalasi kekerasan itu, salah satu indikator femisida atau pembunuhan terhadap perempuan di dalam relasi yang sangat panjang."

Kalau melihat dalam konteks femisida, Sri menjelaskan, ada spektrum kekerasan yang eskalasinya berlanjut dan berjalan terus menerus, mulai dari Mei 2024 hingga Juni 2026. Jika tidak terselamatkan, kata Sri, korban bisa kehilangan nyawa.

Terkait femisida, Sri menjelaskan, Komnas Perempuan melakukan pendataan dan sejauh ini menemukan 10 kasus femisida, yang terdiri dari tujuh kasus femisida intim dan tiga kasus nonintim.

"Kalau melihat polanya, kekerasan yang terjadi hampir sama dengan kasus yang dialami YTR. Kekerasan bertingkat, mulai dari di kontrakan pertama mengalami kekerasan satu, dua, tiga, hingga mengakibatkan disabilitas permanen. Ini salah satu bentuk dari indikator-indikator femisida," tambah Sri.

Keterangan gambar: Komisioner Komnas Perempuan, Sri Agustin

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengaku prihatin dengan kasus yang dialami korban. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran pers yang dilansir di situs Kementerian PPPA, Senin (22/06).

"Kami sangat prihatin atas kondisi korban yang mengalami kekerasan keji dalam waktu yang sangat panjang hingga menimbulkan luka fisik dan psikis yang serius. Korban harus memperoleh perlindungan, pendampingan hukum, serta pemulihan yang maksimal. Kami mendorong agar pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku," ujar Arifah.

Arifah menyampaikan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Jawa Barat telah melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari koordinasi dengan pihak rumah sakit, kepolisian, hingga pengajuan perlindungan kepada LPSK.

UPTD PPA juga mendampingi keluarga korban dalam proses pelaporan kepada Polda Jawa Barat terkait dugaan tindak pidana penganiayaan berat.

"Sebagai tindak lanjut, Kementerian PPPA bersama UPTD PPA Jawa Barat akan terus berkoordinasi dengan penyidik Polda Jawa Barat, tim medis RSUP Dr. Hasan Sadikin, LPSK, dan pihak terkait lainnya guna memastikan proses hukum dan pemulihan korban berjalan optimal. Pendampingan hukum juga akan dilakukan melalui koordinasi dengan Tim Hukum Jabar Istimewa," kata Arifah.

Kepala Kanwil Kementerian HAM Jabar, Hasbullah Fudail menilai, perbuatan tersangka sudah termasuk dalam pelanggaran HAM berat.

"Saya melihat bahwa pelanggaran HAM yang dilakukan ini, bagi saya sistematis. Karena tidak mungkin dilakukan hanya dalam waktu yang singkat. Ini kan dua tahun," kata Hasbullah.(*)

(Adz/BBC/Berbagai Sumber)

Pasca Pengakuan Ketua BEM FH UBK Abdi cs Terima Rp20 Juta, Istana Selidiki Dugaan Dana Suap Aksi Mahasiswa

Pengakuan Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdimaludin, yang mengaku menerima uang Rp20 juta setelah aksi demonstrasi mahasiswa dan pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, memicu polemik baru.(Ist) 

MERDEKAPOST.COM - Pengakuan Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdimaludin, yang mengaku menerima uang Rp20 juta setelah aksi demonstrasi mahasiswa dan pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, memicu polemik baru.

Isu tersebut kini menjadi perhatian publik setelah pihak Istana Negara menyatakan akan menelusuri informasi yang beredar.

Wakil Menteri Sekretaris Negara, Bambang Eko Suhariyanto, mengaku belum mengikuti secara detail perkembangan kasus tersebut. Namun ia memastikan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.

"Coba nanti saya monitor dulu ya. Saya enggak mengikuti yang kemarin berita terakhir itu. Nanti saya akan cek lagi ya," ujar Bambang kepada wartawan, Selasa (23/6/2026).

Pengakuan Terungkap dalam Forum Mahasiswa

Kasus ini mencuat setelah digelarnya forum mahasiswa UBK pada Senin (22/6/2026).

Dalam forum tersebut, Abdimaludin mengakui menerima dana Rp20 juta yang disebut berkaitan dengan aksi demonstrasi mahasiswa.

Menurut keterangan peserta forum, Na'ilah Panrita Hartono, Abdi menjelaskan bahwa dana tersebut diberikan dengan tujuan agar titik aksi mahasiswa dipindahkan dari kawasan Istana Negara ke Gedung DPR RI.

Namun rencana tersebut tidak pernah terlaksana karena mahasiswa tetap menggelar demonstrasi di sekitar Istana.

Pengakuan itu memicu kekecewaan di kalangan mahasiswa UBK yang menilai tindakan tersebut mencederai independensi gerakan mahasiswa.

Muncul Perbedaan Keterangan Soal Sumber Dana

Perdebatan semakin berkembang karena muncul perbedaan informasi mengenai asal-usul uang Rp20 juta tersebut.

Dalam penjelasan awal forum, dana disebut berasal dari seseorang yang meminta lokasi aksi dipindahkan.

Namun menjelang akhir forum, Abdimaludin menyebut uang tersebut berasal dari seorang oknum polisi bernama A'an.

Perbedaan keterangan itu membuat mahasiswa mendesak adanya investigasi menyeluruh agar sumber dana dan pihak yang terlibat dapat diungkap secara transparan.

Mahasiswa Tuntut Investigasi Independen

Sebagai respons atas kasus tersebut, mahasiswa UBK mengajukan sejumlah tuntutan kepada pihak kampus.

Mereka meminta pembentukan tim investigasi independen yang melibatkan unsur mahasiswa untuk mengusut dugaan penerimaan dana tersebut.

Selain itu, mahasiswa juga mendesak seluruh pihak yang menerima dana memberikan klarifikasi terbuka kepada publik.

Mereka bahkan meminta pengurus organisasi kemahasiswaan yang terbukti menerima aliran dana agar mengundurkan diri dari jabatannya.

Forum tersebut turut dihadiri jajaran kampus, mulai dari Wakil Rektor III, Dekan Fakultas Hukum, Ketua Program Studi, staf kemahasiswaan, hingga para dosen.

Daftar Nama Penerima Dana Rp20 Juta

Berdasarkan pengakuan yang disampaikan dalam forum mahasiswa, dana Rp20 juta tersebut dibagikan kepada tujuh orang dengan rincian sebagai berikut:

Muhammad Abdimaludin (Ketua BEM FH UBK): Rp6 juta

Rafli Maulana Akbar (Wakil Ketua BEM FH UBK): Rp2,5 juta

Pujiono (Ketua BEM FE UBK): Rp2 juta

Rafli Bastian (Wakil Ketua BEM FE UBK): Rp2 juta

Mubarak Fosamu (Mahasiswa UBK): Rp2,5 juta

Amiruddin Emon (Senior HMI): Rp2,5 juta

Syafruddin Eno (Senior HMI): Rp2,5 juta

Pengungkapan aliran dana tersebut semakin memicu pertanyaan mengenai independensi gerakan mahasiswa dan kemungkinan adanya intervensi terhadap aksi demonstrasi.

Prabowo Singgung Demo Bayaran Rp200 Ribu

Di tengah polemik tersebut, Presiden Prabowo Subianto turut menyinggung fenomena demonstrasi berbayar saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Prabowo mengaku mengetahui adanya peserta demonstrasi yang menerima bayaran namun tidak memahami substansi tuntutan yang mereka suarakan.

"Ditanya anak-anak demo, enggak ngerti. Mau demo apa? Kami dibayar Rp200 ribu," ujar Prabowo menirukan jawaban peserta aksi.

Presiden juga mengaku mengetahui pihak yang berada di balik pendanaan demonstrasi tersebut.

"Saya tahu siapa yang bayar-bayar demo. Saya tahu itu," tegasnya.

Prabowo kemudian mengingatkan agar masyarakat tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh kepentingan kelompok tertentu.

Menurutnya, kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar, namun harus dilakukan secara jujur dan tidak melalui praktik manipulasi massa.

Kasus dugaan aliran dana kepada pengurus BEM UBK kini menjadi sorotan luas karena dinilai menyangkut integritas gerakan mahasiswa, transparansi demokrasi, dan potensi intervensi terhadap kebebasan menyampaikan pendapat di ruang publik.(ADZ)

Al Haris: 10 Muharram Mengajarkan Kami untuk Memuliakan Anak Yatim, Menebar Kasih Sayang dan Menguatkan Kepedulian Sosial di Jambi

Al Haris: 10 Muharram Mengajarkan Kami untuk Memuliakan Anak Yatim, Menebar Kasih Sayang, dan Menguatkan Kepedulian Sosial di Jambi

Bismillahirrahmanirrahim. Setiap datangnya bulan Muharram, hati saya selalu diingatkan bahwa pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan hanya tentang bergantinya angka, tetapi juga tentang memperbarui niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama. Di antara hari-hari istimewa pada bulan ini, 10 Muharram memiliki makna yang sangat dalam karena menjadi momentum untuk lebih dekat dengan anak-anak yatim, mereka yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan uluran tangan kita bersama.

Bagi saya, kebahagiaan seorang pemimpin bukan hanya ketika melihat pembangunan fisik berjalan dengan baik atau roda pemerintahan bergerak sesuai rencana. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika saya dapat menyaksikan senyum anak-anak yang merasa diperhatikan, dipedulikan, dan diyakinkan bahwa mereka tidak pernah sendiri dalam menjalani kehidupan.

Pada peringatan 10 Muharram 1448 Hijriah tahun ini, Pemerintah Provinsi Jambi kembali menggelar kegiatan santunan kepada 2.000 anak yatim dan penyandang disabilitas di Lapangan Kantor Gubernur Jambi. Kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, mulai dari BAZNAS Provinsi Jambi, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, Korpri, dunia usaha, perbankan, hingga para dermawan yang memiliki kepedulian yang sama.

Saya meyakini bahwa kebaikan akan terasa lebih besar ketika dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah tentu memiliki peran sebagai penggerak, tetapi keberhasilan sebuah gerakan sosial tidak mungkin tercapai tanpa dukungan masyarakat, lembaga keagamaan, organisasi sosial, pelaku usaha, serta seluruh elemen yang memiliki semangat berbagi.

Saya sangat bersyukur karena semangat gotong royong di Provinsi Jambi masih tumbuh dengan baik. Banyak pihak hadir tanpa diminta, membawa bantuan sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang memberikan santunan, ada yang menyediakan makanan, ada pula yang ikut melayani dan mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung. Semua itu menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat kita.

Momentum ini juga menjadi bagian dari kegiatan nasional bertajuk “Lebaran Yatim dan Disabilitas” yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dan diikuti secara serentak oleh berbagai daerah melalui konferensi daring. Kehadiran Jambi dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen kami untuk terus memperkuat kepedulian kepada anak-anak yatim dan penyandang disabilitas.

Saya merasa bersyukur ketika Provinsi Jambi memperoleh apresiasi dari Menteri Agama karena dinilai mampu mengoordinasikan berbagai potensi untuk memberikan santunan kepada sekitar 6.700 anak yatim dan penyandang disabilitas yang terdata di seluruh kabupaten dan kota. Namun bagi saya, penghargaan tersebut bukanlah tujuan utama. Yang paling penting adalah memastikan bahwa semakin banyak anak-anak yang merasakan perhatian dan kasih sayang dari lingkungan sekitarnya.

Saya selalu mengatakan bahwa anak-anak yatim adalah anak-anak kita semua. Mereka mungkin kehilangan sosok ayah, tetapi mereka tidak boleh kehilangan harapan. Mereka harus tumbuh dengan keyakinan bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap masa depan mereka.

Karena itulah saya mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menjadikan kepedulian kepada anak yatim hanya sebagai kegiatan seremonial yang dilakukan setiap 10 Muharram. Semangat berbagi seharusnya menjadi budaya yang terus hidup sepanjang tahun. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan, apabila dilakukan dengan tulus, insyaallah akan menjadi amal yang sangat bernilai di sisi Allah SWT.

Saya juga merasa terharu melihat keterlibatan para pelaku UMKM, pemilik hotel, restoran, serta berbagai instansi yang ikut menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak. Ada yang menyediakan ribuan paket makanan, ada yang membuka layanan gratis, dan ada yang memberikan berbagai bentuk dukungan lainnya. Semua itu menunjukkan bahwa pembangunan karakter masyarakat yang peduli jauh lebih penting daripada sekadar pembangunan fisik semata.

Sebagai pemerintah, kami akan terus berupaya menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak yatim dan penyandang disabilitas. Mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, perlindungan sosial, dan kesempatan berkembang agar mampu menjadi generasi yang mandiri.

Saya percaya bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau panjangnya jalan yang dibangun. Keberhasilan juga dapat dilihat dari seberapa besar kepedulian masyarakat terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Muharram mengajarkan kepada kita bahwa berbagi bukan berarti mengurangi apa yang kita miliki. Sebaliknya, berbagi justru memperkaya hati, mempererat persaudaraan, dan memperkuat persatuan. Ketika masyarakat saling membantu, maka berbagai persoalan akan terasa lebih ringan untuk dihadapi bersama.

Harapan saya, semangat yang lahir dari peringatan 10 Muharram ini terus tumbuh di seluruh pelosok Provinsi Jambi. Saya ingin budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan kasih sayang terhadap sesama menjadi identitas masyarakat Jambi yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Saya juga mengajak seluruh orang tua untuk terus menanamkan nilai empati kepada anak-anak sejak dini. Mengajak mereka berbagi kepada sesama bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga membentuk karakter yang penuh kasih sayang dan rasa syukur.

Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini. Semoga setiap bantuan yang diberikan menjadi amal jariyah, setiap senyum anak-anak menjadi keberkahan, dan setiap langkah kebaikan yang kita lakukan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.

Mari kita jadikan bulan Muharram sebagai awal untuk memperkuat kepedulian, memperbanyak berbagi, dan terus menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Insyaallah, dengan kebersamaan dan keikhlasan, kita dapat mewujudkan Jambi yang semakin maju, harmonis, dan penuh keberkahan bagi seluruh masyarakat. Aamiin. (*)

* Al Haris, Gubernur Jambi

Wako Alfin dan Ketua PKK Sungai Penuh Hadiri Malam Pergelaran Seni Budaya Kenduri Sko Enam Luhah

Wako Alfin dan Ketua PKK Hadiri Malam Pergelaran Seni Budaya Kenduri Sko Enam Luhah.(Ist)

SUNGAI PENUH – Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, SH, didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Sungai Penuh, Sri Kartini Alfin, S.Kep., Ns, menghadiri Malam Pergelaran Seni Budaya yang digelar di Luhah Rio Mangku Bumi, Kamis malam (25/6).

Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh Tahun 2026 ini mengusung tema “Membudayakan Masyarakat Adat yang Beradab”. Acara dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni tradisional seperti pencak silat, tari iyo Iyo, tari rangguk, tari sekapur sirih, dan tari asoak. 

Wako Sungai Penuh Alfin beserta Isteri saat menerima persembahan sekapur sirih pada acara penyambutan. (Ist)

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Sungai Penuh Alfin menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat dan seluruh pihak yang terus menjaga serta melestarikan budaya warisan leluhur.

Dalam sambutannya, "kegiatan seni budaya menjadi sarana penting untuk memperkuat identitas daerah, mempererat silaturahmi, dan menanamkan nilai-nilai adat kepada generasi muda. " Ujar Wako Alfin 

Pergelaran berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat yang hadir. Kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian adat dan budaya sebagai kekayaan serta jati diri Kota Sungai Penuh.(Ali) 

Ayah Tiri Ancam Sakiti Ibu Jika Anak Tak Mau Turuti Maunya Saat di Sungai Gelam

 

DILIMPAHKAN - Aparat Polres Batang Hari melimpahkan berkas perkara asusila ayah tiri terhadap anak ke Polres Muaro Jambi, Kamis (25/6). Pelimpahan ini dilakukan karena lokasi kejadian berada di wilayah hukum Polres Muaro Jambi.(Istimewa) 

BATANGHARI – Tindak kekerasan seksual yang dialami anak perempuan berusia 9 tahun di Batang Hari berdampak pada kondisi mentalnya.

Kasus ini berkaitan dengan pengepungan rumah di Desa Sungai Ruan Ilir, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batang Hari pada Selasa (23/6/2026) malam.

Seorang pria berinisial S (51) diamankan malam itu, dan dibawa ke Polres Batang Hari setelah sempat diamankan aparat desa ke rumah kades setempat.

UPTD PPA Kabupaten Batang Hari memberikan pendampingan psikologis kepada anak yang diduga menjadi korban tindakan asusila ayah tirinya.

Baca Juga: Bupati Fadhil Arief Resmikan Pencanangan Sensus Ekonomi 2026, Dorong Pembangunan Berbasis Data di Batang Hari

Pendampingan ini dilakukan setelah laporan diterima pada Selasa (23/6/2026) malam.

Kepala UPTD PPA Kabupaten Batang Hari, Neneng Eva Anggraeni, mengatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan kepolisian setelah menerima laporan untuk memastikan kondisi korban.

Secara fisik, korban disebut dalam keadaan baik. Namun secara psikologis, korban mengalami tekanan emosional dan kecemasan yang cukup berat sejak kasus tersebut terungkap.

"Korban saat ini mengalami rasa cemas dan kekecewaan yang cukup besar. Kondisi seperti ini perlu mendapatkan perhatian serius karena dapat berdampak pada kesehatan mental anak apabila tidak segera ditangani," jelasnya.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Ada Demo Bayaran, Massa Dibayar Rp200 Ribu: Hati-Hati! Saya Tahu Siapa yang Membiayai

Neneng menjelaskan, proses pemulihan kini tengah didampingi psikolog dari UPTD PPA.

Tidak hanya korban, pihak keluarga terutama ibu korban juga ikut mendapatkan pendampingan karena masih mengalami syok.

Dari hasil keterangan awal, korban mengaku tidak mampu melawan karena adanya ancaman dari terduga pelaku.

"Anak mengaku merasa takut karena ada ancaman, Jika tidak menuruti keinginan pelaku, korban mengaku ibunya akan disakiti," katanya.

Tindakan asusila itu diduga dilakukan S saat mereka tinggal di Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.

Kini, korban yang masih berusia 9 tahun butuh pendampingan.

Neneng menilai dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan korban.

Karena itu, UPTD PPA berkomitmen untuk terus mendampingi korban hingga kondisinya membaik.

Neneng juga menyebut seluruh dugaan kejadian yang dilaporkan korban terjadi di wilayah Kabupaten Muaro Jambi, bukan di Batang Hari.

Meski demikian, pihaknya masih mendalami rentang waktu kejadian karena korban belum mampu menjelaskan secara detail kapan peristiwa tersebut berlangsung.

"Kami masih mendalami keterangan korban. Untuk waktu kejadian belum bisa dipastikan apakah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir atau sudah lebih lama," katanya.

Baca Juga: Pengakuan Bocah Kelas 3 SD Dilecehkan Ayah Tiri, Kronologis Hingga Pelaku Diamuk Massa

Ia mengimbau masyarakat agar tetap menyerahkan proses hukum kepada aparat, sementara pendampingan terhadap korban terus berjalan.

"Anak-anak perlu diberikan ruang yang aman untuk bercerita. Peran keluarga dan lingkungan sangat penting agar kasus-kasus seperti ini dapat terungkap lebih cepat dan korban segera mendapatkan perlindungan," tutupnya. 

Penanganan Kasus Dilimpahkan ke Polres Muaro Jambi

Penanganan kasus dugaan tindakan asusila yang dilakukan seorang ayah tiri berinisial S (51) terhadap anak tirinya kini memasuki tahap baru.

Perkara tersebut resmi dilimpahkan dari Polres Batang Hari ke Polres Muaro Jambi pada Kamis (25/6/2026), setelah dipastikan lokasi kejadian berada di wilayah hukum Muaro Jambi.

Pelimpahan itu meliputi berkas perkara, saksi korban, hingga terduga pelaku.

Langkah tersebut diambil usai aparat kepolisian memastikan titik lokasi kejadian secara langsung di lapangan.

Kanit PPA Polres Batang Hari, Ipda Wahyudi, menjelaskan kepastian lokasi diperoleh setelah pihaknya bersama unsur terkait melakukan pengecekan langsung ke tempat kejadian perkara (TKP).

"Sekira pukul 07.00 malam kami tiba di TKP di Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.

"Kami bersama-sama dengan pihak terkait langsung melaksanakan olah TKP," ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Informasi yang diperoleh, tindakan asusila itu diduga dilakukan tiga kali di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Gelam saat korban tinggal bersama pelaku.

Menurut Wahyudi, penentuan koordinat lokasi menjadi dasar penting dalam pengalihan penanganan perkara agar proses hukum berjalan sesuai yurisdiksi.

"Jadi setelah kami tentukan titik koordinatnya, dan memang benar TKP tersebut masuk dalam wilayah hukum Polres Muaro Jambi.

"Setelah kami melaksanakan olah TKP, kami langsung membawa korban, dan terduga pelaku ke Polres Muaro Jambi," jelasnya.

Setelah status wilayah hukum dipastikan, petugas segera membawa seluruh pihak yang terlibat ke Mapolres Muaro Jambi guna kepentingan keamanan dan pemeriksaan lanjutan.

"Setelah sampai di Polres Muaro Jambi sekira pukul 11.00 malam, kami langsung serah terima," ungkapnya.

Wahyudi menambahkan, seluruh administrasi awal yang diperlukan untuk proses penyidikan lanjutan telah diserahkan kepada Unit PPA Polres Muaro Jambi pada dini hari.

"Serta administrasi awal untuk penyidikan langsung dengan Kanit PPA Polres Muaro Jambi. Untuk sekira pukul jam 02.00 malam dini hari pelimpahannya diserahkan di Polres Muaro Jambi," jelasnya.

Pelimpahan perkara ini turut diperkuat oleh pengakuan korban yang menyatakan dugaan pencabulan memang terjadi di wilayah Muaro Jambi.

"Menurut pengakuan korban bahwa untuk TKP dugaan pencabulan ini di Muaro Jambi," sebutnya.

Berbelit-belit

Dalam proses pemeriksaan awal, Wahyudi menyebut terduga pelaku belum bersikap terbuka dan masih berupaya menghindari pengakuan.

"Kalau pelaku sampai saat ini masih berbelit-belit dan tidak mau mengakui," katanya.

Meski demikian, proses hukum tetap berjalan dan penyidik akan mendalami seluruh keterangan serta alat bukti yang ada.

"Kalau ancaman hukuman itu sekira 15 tahun penjara," tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Sungai Ruan Ilir, Ferry, juga mengungkapkan bahwa S tidak mengakui dugaan perbuatan tersebut.

"Saat dimintai keterangan, diduga pelaku ini memang tidak mengakui perbuatannya, sedangkan keterangan dari anak ini mengaku sudah pernah dicabuli," jelas Ferry, kemarin.

Penangkapan Viral

Penangkapan S sempat viral di media sosial pada Selasa (23/6/2026) malam.

Saat itu, S yang baru datang ke Desa Sungai Ruan Ilir langsung dikepung warga setelah korban bercerita pada kerabat terkait tindakan asusila yang dilakukan S saat mereka tinggal di Desa Mekar jaya, Kecamatan Sungai Gelam, Muaro Jambi.

Kabar itu dengan cepat tersebar ke warga desa lainnya.

Bacaan Lainnya: Kasus Korupsi Alat Praktik SMK Jambi Rp120 M: Jaksa Kembalikan Lagi Berkas Eks Kadisdik Ke Penyidik Polda

Kepala desa bersama linmas segera mengamankan S sebelum massa semakin ramai.

Rumah kepala desa pun sempat dikepung, bahkan S pun harus mengenakan helm pelindung.

Pelimpahan Perkara Asusila

- Terduga pelaku S (51) ditangkap, Selasa (23/6)

- Polres Batang Hari lakukan olah TKP, Rabu (24/6)

- Tindakan asusila terjadi di Sungai Gelam, Muaro Jambi

- Polres Batang Hari limpahkan perkara ke Polres Muaro Jambi, Kamis (25/6)

- Hingga kini keterangan S masih berbelit-belit

- Korban masih pemulihan

(Red)

Ribuan Massa Kepung DPRD Jambi: "Jika MBG di STOP di Jambi akan Banyak Pengangguran"

Ribuan Massa Kepung DPRD Jambi, Jika MBG di STOP maka akan Banyak Pengangguran di Jambi.(ist)

JAMBI - Ribuan massa yang mengatasnamakan Masyarakat Jambi mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi, Jumat (19/06/2026). 

Mereka menyuarakan aspirasi agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan dan tidak dihentikan oleh pemerintah.

Dalam aksi tersebut, masyarakat menilai program MBG tidak hanya memberikan manfaat bagi pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat, khususnya bagi para pekerja yang terlibat dalam operasional dapur MBG.

Salah satu peserta aksi, Mak Erni menyampaikan bahwa keberadaan program tersebut telah membuka peluang kerja bagi banyak masyarakat yang sebelumnya kesulitan memperoleh penghasilan tetap.

“Program ini bukan hanya memberikan makanan bergizi kepada anak-anak, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Banyak ibu rumah tangga, janda, dan warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini bisa memperoleh penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga,” katanya saat menyampaikan orasi.

Selain itu, Mukhlis juga memaparkan bahwa keberlangsungan program MBG sangat penting bagi masyarakat kecil yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas dapur MBG di berbagai daerah.

“Dengan adanya MBG kami para janda dan ibu rumah tangga juga bisa bekerja sekaligus membantu perekonomian yang stabil untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kata Deni.

Baca Juga: Tersangka Baru, Jual Titik Dapur SPPG Rp100 Juta per lokasi

Senada dengan itu, Mukhlis menegaskan bahwa penghentian program MBG berpotensi menambah angka pengangguran di Provinsi Jambi. Ia berharap pemerintah tetap mempertahankan program tersebut demi menjaga keberlangsungan pekerjaan masyarakat.

Menurutnya, efek ekonomi dari program MBG sangat besar karena melibatkan banyak tenaga kerja mulai dari tenaga masak, distribusi, administrasi hingga kebutuhan bahan pangan yang disuplai oleh pelaku usaha lokal.

“Jika MBG di-stop, akan banyak pengangguran di Provinsi Jambi. Bayangkan, sikok dapur biso mempekerjakan sekitar 50 karyawan, sedangkan di provinsi ini lebih dari seratus hampir tigo ratusan dapur,” kata mukhlis dengan tegas dan lantang. (Red/*) 

Tersangka Baru, Jual Titik Dapur SPPG Rp100 Juta per lokasi

Jakarta - Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review Glory Harimas Sihombing (GHS) diduga menjual titik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kepada calon mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan harga sekitar Rp 100 juta per lokasi.

Dugaan tersebut diungkap Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah menetapkan GHS sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG periode 2025-2026.

"Kurang lebih dulu ya. Karena mungkin masih bisa bergulir ya berikutnya ya, masih bisa bergulir. Tapi, yang kita lihat sekarang sekitar kurang lebih sekitar Rp 100 juta," kata Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi, dalam konferensi pers di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta, Kamis (18/6/2026) malam.

Syarief mengatakan, harga yang dipatok untuk memperoleh titik SPPG bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Menurut dia, penyidik menemukan adanya sejumlah yayasan yang diduga digunakan untuk memperoleh dan mengelola titik-titik dapur MBG.

Salah satunya adalah Yayasan Indonesia Food Security Review yang dipimpin GHS.

"Jadi, yayasannya ada banyak. Ada banyak, memang salah satunya adalah yayasan itu. Tapi ada banyak," ungkap Syarief.

Dalam konstruksi perkara, GHS diduga memperoleh akses titik dapur SPPG dari mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (DH) melalui yayasan yang dimilikinya.

"Bahwa saudara DH secara melawan hukum memberikan akses kepada saudara GHS untuk memperoleh titik dapur SPPG kepada yayasan yang dimiliki oleh saudara GHS," kata Syarief.

Setelah mendapatkan titik dapur tersebut, yayasan milik GHS diduga menjual titik-titik itu kepada pihak lain yang ingin menjadi mitra program MBG.

Atas perbuatannya, GHS ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan Salemba Cabang Kejaksaan Agung.

(Aldie Prasetyo / Sumber:kompascom) 

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs