Air Danau Semakin Menyusut, Ekomoni Masyarakat Sekitar Semakin Mengkhawatirkan

Air Danau Semakin Menyusut Ekomoni Masyarakat Sekitar Semakin Mengkhawatirkan

Kerinci – Kondisi Danau Kerinci, Jambi, saat ini tengah berada dalam status waspada. Dalam beberapa pekan terakhir, permukaan air di danau kebanggaan masyarakat Kerinci ini terpantau mengalami penurunan debit secara drastis. Fenomena ini mulai berdampak serius pada sektor perikanan dan aktivitas transportasi air warga setempat (28/01/2026).

Penyusutan air terlihat jelas di sepanjang bibir danau. Wilayah yang biasanya terendam air kini berubah menjadi hamparan lumpur yang mengering dan retak-retak. Di beberapa titik dermaga, kapal-kapal nelayan tampak kandas karena air telah menjauh hingga puluhan meter dari garis pantai semula.

Baca Juga: Air Danau Kerinci Surut Drastis: Antara Uji PLTA dan Ancaman bagi Ekonomi Warga Sekitar

Tokoh muda Kerinci, Zalmianto atau yang biasa dipanggil Anto Black mengatakan ” Karna uji coba turbin PLTA yg sumber air nya dari danau, Secara ekonomi nelayan semakin susah cari ikan otomatis Rumah makan makin susah cari penjual ikan, Kemudian Sungai yg jadi penyuplai air Danau akan cepat tersedot dan mengering . Bagi petani yg mengandalkan air sungai untuk bersawah akan kesulitan memanfaatkan air dari aliran sungai. Seumuran saya yg sudah 45 thn hidup di pinggir danau kerinci baru kali ini melihat danau air nya sekecil ini”.

Menurut Salah satu aktivis kerinci Ilham juga mengatakan “penurunan ini merupakan salah satu yang tercepat dalam beberapa tahun terakhir. Faktor cuaca ekstrem dan berkurangnya intensitas hujan di wilayah hulu dituding menjadi penyebab utama hilangnya volume air secara masif”.

Bacaan Lainnya: Kasus Guru dan Siswa, Polda Jambi Audiensi dengan PGRI Provinsi dan Dorong Jalur Mediasi

Dampak dari fenomena ini mulai dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat:

1. Mengeluhkan kematian bibit ikan akibat suhu air yang meningkat dan kadar oksigen yang menurun seiring dangkalnya air.

2. Petani di sekitar danau mulai khawatir pasokan air untuk sawah mereka akan terhenti jika tren penurunan ini terus berlanjut.

3. Nelayan tangkap tidak bisa melaut .

4. Investasi pakan dan bibit hilang begitu saja karena kondisi alam yang tidak mendukung.

Pemerintah daerah bersama dinas terkait diharapkan segera turun tangan untuk melakukan kajian mendalam terkait fenomena ini, serta menyiapkan langkah mitigasi bagi warga yang mata pencahariannya bergantung sepenuhnya pada Danau Kerinci. (*adz)

Air Danau Kerinci Surut Drastis: Antara Uji PLTA dan Ancaman bagi Ekonomi Warga Sekitar

KERINCI – Surutnya air Danau Kerinci dalam beberapa pekan terakhir bukan hanya memunculkan kekhawatiran soal lingkungan, tetapi juga langsung menghantam denyut ekonomi warga yang hidup di sekeliling danau. Bagi nelayan, pencari kerang, hingga pelaku wisata, penurunan muka air danau berarti hilangnya sumber penghasilan harian.

Uji coba operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci yang baru mengaktifkan satu turbin saja, disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyusutan air danau.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Aktivitas ekonomi berbasis perairan lumpuh secara perlahan, memaksa warga beradaptasi di tengah ketidakpastian.

Baca Juga: Uji Coba Pengaliran Air PLTA Disebut Jadi Penyebab Air Danau Kerinci Menyusut Drastis

Nelayan Kehilangan Tangkapan

Karim (40), nelayan tradisional di kawasan Koto Petai, mengaku pendapatannya turun drastis sejak air danau surut. Sebelum kondisi ini terjadi, ia bisa membawa pulang ikan 8 hingga 10 kilogram per hari. Hasil tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anaknya.

“Kalau air masih normal, sehari bisa dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Sekarang paling dapat Rp30 ribu, itu pun kalau ada ikan,” ujarnya.

Surutnya air membuat jalur ikan berpindah, sementara sebagian perangkap ikan tidak lagi berfungsi. Perahu kecil milik Karim bahkan harus ditarik cukup jauh karena air di tepian danau tidak lagi cukup dalam.

Pencari Kerang Kehilangan Mata Pencaharian

Kondisi serupa dialami warga yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari mencari kerang di Danau Kerinci. Biasanya, dalam sehari ia mampu mengumpulkan 15 hingga 20 kilogram kerang untuk dijual ke pengepul.

“Dulu kerang mudah didapat. Sekarang airnya terlalu kering, lumpurnya keras, kerangnya hampir tidak ada,” katanya.

Jika sebelumnya ia bisa membawa pulang penghasilan sekitar Rp100 ribu per hari, kini ia pulang dengan tangan kosong. Bagi keluarga kecilnya, kehilangan penghasilan harian berarti ancaman langsung terhadap dapur rumah tangga.

Ahan Tak Bisa Digunakan, Ikan Tak Masuk

Selain nelayan dan pencari kerang, warga yang mengandalkan alat tangkap tradisional ahan juga terdampak. Ahan, yang dipasang di jalur perairan dangkal, tidak lagi bisa digunakan karena ketinggian air tidak mencukupi.

“Kalau air surut begini, ahan mati total. Tidak ada air, ikan tidak mau masuk,” kata Sebri, warga setempat.

Ia menilai kondisi ini belum pernah terjadi separah sekarang. Menurutnya, meski Danau Kerinci pernah mengalami surut saat musim kemarau, namun tidak sampai melumpuhkan hampir seluruh aktivitas ekonomi perairan.(**)

Uji Coba Pengaliran Air PLTA Disebut Jadi Penyebab Air Danau Kerinci Menyusut Drastis

Uji Coba Pengaliran Air PLTA Disebut-sebut  Jadi Penyebab utama Air Danau Kerinci Menyusut Drastis beberapa minggu terakhir.(mpc)

Kerinci Merdekapost.com - Fenomena penurunan muka air Danau Kerinci dalam beberapa minggu terakhir membuat warga di Kabupaten Kerinci, Jambi, terkejut.

Air yang biasanya memenuhi badan danau kini surut cukup jauh hingga menampakkan area dasar yang jarang terlihat sebelumnya.

Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra, menyebut perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas uji coba Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dikelola PT Kerinci Merangin Hidro (KMH).

Ia menjelaskan bahwa sejak awal Januari, terjadi pengaliran air dari danau menuju turbin pembangkit.

“Mulai tanggal 1 sampai 16 Januari 2026 itu dilakukan pengaliran air ke turbin. Dari tiga pintu air, satu pintu dibuka sekitar 20 sentimeter untuk proses uji coba,” ujar Joni, Selasa (27/1/2026).

Menurutnya, tahap ini masih merupakan rangkaian percobaan sebelum PLTA beroperasi penuh. Pihak perusahaan, kata Joni, juga berjanji meninjau semua dampak yang muncul selama proses uji coba berlangsung.

Bacaan Lainnya: Pastikan Penyebab Meninggalnya Rafi Pemuda Koto Tebat Kerinci, Keluarga Setuju Jenazah Diotopsi

“Pengaliran ini masih tahap percobaan. Pihak PT KMH menyampaikan bahwa setiap dampak yang muncul akan menjadi dasar perbaikan sebelum operasional permanen diterapkan,” jelasnya.

BWSS mencatat bahwa dalam 16 hari masa pengaliran, volume air Danau Kerinci menunjukkan penurunan signifikan. Warga pun merasakan langsung efeknya.

Sebagian masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga, sementara petani khawatir terhadap pasokan irigasi untuk sawah mereka.

PT KMH, menurut Joni, telah menyatakan kesiapan untuk mendata wilayah yang terdampak sekaligus menyiapkan bantuan darurat jika kondisi semakin kritis.

“Informasinya, mereka akan menyediakan tandon air sebagai langkah sementara apabila dibutuhkan,” ujarnya.

Penampakan air danau Kerinci yang susut drastis.(adz)

Terkait legalitas uji coba tersebut, Joni menegaskan bahwa izin pengaliran dikeluarkan langsung pemerintah pusat melalui sistem perizinan nasional. BWS Sumatera VI baru dilibatkan setelah pelaksanaan uji coba berjalan.

“Kewenangannya ada di pusat. Kami diundang untuk pembahasan setelah proses uji coba berlangsung, mengikuti agenda dari pemerintah pusat,” katanya.

Selain faktor PLTA, kondisi cuaca kering juga memperburuk penurunan volume air danau. Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Kerinci hampir tidak diguyur hujan dan suhu udara relatif panas.

“Cuaca yang panas dan minim hujan sangat mungkin ikut mendorong turunnya muka air danau dalam waktu singkat,” ungkap Joni.

Baca Juga: Gaungkan Penguatan Ekoteologi, Kemenag Kerinci H Pahrizal Aksi Nyata Tanam Pohon di Kayu Aro

Fenomena penyusutan air ini kembali memunculkan perdebatan publik mengenai pentingnya keseimbangan antara pengembangan energi terbarukan dan keberlanjutan lingkungan.

Meskipun PLTA termasuk energi ramah lingkungan, pengelolaan debit air harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat sekitar.

Sebagai salah satu ikon daerah, Danau Kerinci berperan penting bagi pertanian, perikanan, pariwisata, dan kebutuhan air warga.

Penurunan drastis permukaannya dikhawatirkan akan menimbulkan dampak jangka panjang jika tidak ditangani dengan kebijakan yang sensitif terhadap kondisi lokal.(adz)

Pengurus Pramuka Ranting Sekabupaten Kerinci Ajukan MUSCABLUB Kepada Kwarcab Kerinci



 Merdekapost.com | Kerinci, Sejumlah pengurus kwartir ranting Gerakan Pramuka di Kabupaten Kerinci sepakat mengajukan Musyawarah Cabang Luar Biasa (MUSCABLUB) kepada Kwartir Cabang (Kwarcab) Kerinci. Langkah ini diambil sebagai bentuk ketidakpuasan atas beberapa masalah yang dianggap perlu segera diselesaikan oleh Kwarcab. Surat permohonan tersebut telah ditandatangani oleh pengurus dari beberapa kwartir ranting, termasuk Kwarran Batang Merangin, Bukit Kerman, Danau Kerinci, Sitinjau Laut, Tanah Cogok, Danau Kerinci Barat, dan Air Hangat Timur.

Hasan, S.E., salah satu pengurus dari Kwartir Ranting Danau Kerinci, mengungkapkan bahwa inisiatif untuk mengajukan MUSCABLUB muncul sebagai respons terhadap situasi di Kwarcab Kerinci yang dianggap tidak stabil dan kurang transparan. "Surat ini merupakan respons dari kwartir ranting yang merasa bahwa Kwarcab Kerinci tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jika tidak ada tanggapan dari pimpinan Kwarcab, kami akan bertindak lebih agresif lagi," ujar Hasan melalui pesan WhatsApp.

Masalah ketidaktransparanan dalam pembahasan anggaran Pramuka menjadi salah satu sorotan utama. Menurut surat permohonan tersebut, pengurus ranting juga meminta pergantian Ketua Kwarcab Kerinci. Saat ini, posisi tersebut dipegang oleh Edminudin, yang baru saja terpilih sebagai anggota legislatif pada pemilu Februari lalu dan saat ini menetap di Jambi. Pengurus ranting menilai bahwa kondisi ini telah menyebabkan kurangnya perhatian terhadap masalah-masalah yang dihadapi Pramuka di Kerinci.

Selain itu, ketidaktanggapan Kwarcab terhadap berbagai permasalahan yang muncul menjadi alasan tambahan bagi pengurus ranting untuk mendesak perubahan. Mereka berharap melalui MUSCABLUB, Kwarcab Kerinci dapat lebih transparan dan responsif terhadap aspirasi dari kwartir ranting serta mampu memajukan Gerakan Pramuka di Kabupaten Kerinci secara lebih efektif. (*)

Peserta Paduan Suara MTQ Ke-53 Tingkat Provinsi Jambi di Kerinci Keluhkan Ketidaksesuaian Pencairan Honor

Peserta Paduan Suara Mars MTQ Provinsi Jambi ke 53

Merdekapost.com | Kerinci – Peserta paduan suara yang tampil dalam acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-53 Tingkat Provinsi Jambi yang berlokasi di Dermaga Danau Kerinci Kabupaten Kerinci mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap ketidaksesuaian tanda terima uang saku yang diterima. Meskipun telah menjalani latihan intensif selama lebih dari satu bulan, tanda terima yang diberikan hanya mencatat kehadiran selama lima hari.

Menurut salah satu peserta, mereka merasa tidak dihargai atas usaha yang telah dilakukan dalam persiapan dan penampilan mereka.

“Kami telah berlatih setiap hari selama lebih dari satu bulan, tetapi tanda terima uang saku yang diberikan hanya untuk lima hari. Ini sangat tidak adil,” ujar salah satu peserta yang tidak ingin disebutkan namanya.

Selain ketidaksesuaian tersebut, para peserta juga mengeluhkan kesulitan dalam proses pencairan uang saku. Menurut mereka, prosedur yang rumit membuat pencairan uang saku menjadi terhambat, bahkan beberapa di antaranya belum menerima uang saku mereka hingga saat ini.

Para peserta berharap pihak penyelenggara MTQ dapat segera menindaklanjuti permasalahan ini dan memberikan solusi yang adil serta transparan.

“Kami berharap ke depannya pihak penyelenggara dapat lebih memperhatikan kesejahteraan peserta, agar kami dapat fokus berlatih dan memberikan penampilan terbaik tanpa harus memikirkan hal-hal seperti ini,” tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak penyelenggara MTQ ke-53 Tingkat Provinsi Jambi belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan ini. (*)

Terungkap, Mayat yang ditemukan di Pulau Tengah adalah Warga Sumur Anyir Kota Sungai Penuh

Merdekapost, Kerinci – Sempat di kabarkan hilang pada Rabu 18/9/2024, Ilham (24th) seorang warga desa sumur anyir kota sungai penuh, ditemukan warga dalam keadaan sudah tidak bernyawa di pinggiran danau Kerinci Desa Dusun baru, Pulau Tengah.

Adapun Kronologis kejadiannya, Pada hari Rabu tanggal 25 September 2024, Sekitar jam 13.00 wib seorang saksi ayah ma’eng beserta istri pergi menjenguk sawah setiba di sawah istri mencium bau busuk dan meminta suami mengecek bau busuk bersumber dari mana.

Setelah di cek ayah ma’eng terkejut bahwa bau busuk tersebut berasal dari mayat, setelah tau itu mayat ayah ma’eng beserta istri langsung pulang melaporkan ke kepala desa dusun baru dan kepala desa dusun baru menelpon babinkamtibmas untuk memberi info adanya penemuan mayat. 

Baca Juga: Penemuan Mayat Tanpa Identitas di Pulau Tengah, Adakah Kaitan dengan Info Warga Sumur Anyir yang Hilang? 

Setelah mendengar info dari kades bhabin beserta perangkat desa cek tkp dan benar adanya bahwa di persawahan ayah ma’eng ada mayat.

Gerak cepat, Unit identifikasi bersama piket reskrim serta anggota Polsek dan bhabinkamtibmas Danau Kerinci melaksanakan cek TKP.

Perihal penemuan mayat tersebut dan mengidentifikasi serta mengumpulkan keterangan para saksi di sekitar lokasi penemuan mayat.

Dan setelah dilakukan identifikasi terkait mayat yang ditemukan maka dapat dipastikan bahwa mayat tersebut benar merupakan pemuda desa sumur anyir bernama M Ilham (24 th) warga Jln Husni Thamrin dusun Koto Pinang Desa Sumur Anyir Kota Sungai Penuh yang sempat dinyatakan meninggalkan rumah pada Rabu (18/09) lalu. dan sebagaimana diinformasikan Almarhum memiliki keterbatasan khusus dan sulit dalam berkomunikasi

Selanjutnya dari pihak korban A.n Resi Sufiardi dan pihak keluarga korban lainnya telah membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa telah menerima musibah atas kematian alm tersebut dan tidak akan menuntut secara hukum di kepolisian Republik Indonesia maupun di instansi lainnya.

Pihak keluarga juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada pihak Kepolisian Kerinci serta semua pihak yang telah ikut membantu proses evakuasi jenazah Almarhum.(*)

Desa Pentagen Gelar Tradisi Kenduri Sudah Tuai dan Kenduri Turun Sko serta Pelantikan Depati Ninik Mamak Periode 2024 - 2029

Acara Tradisi Adat Desa Pentagen

Merdekapost.com
| Kerinci, Desa Pentagen kembali menggelar acara adat besar yaitu Kenduri Sudah Tuai dan Kenduri Turun Sko, sekaligus melaksanakan prosesi pelantikan Depati Ninik Mamak untuk periode 2024-2029. Acara yang berlangsung meriah ini diawali dengan perarakan keliling kampung, di mana Depati Ninik Mamak yang lama dan yang baru diarak bersama-sama. 08/09/2024.

Perarakan ini dipimpin oleh Kepala Desa Pentagen, Usman, yang mendampingi para Depati Ninik Mamak. Perjalanan keliling kampung berlangsung khidmat, dengan diiringi lantunan doa dan syair adat serta musik Hadroh dari Pondok Pesantren Darul Qur'an Pentagen, mencerminkan nilai kebersamaan serta penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Koordinator acara, Hatim, yang juga merupakan Sekretaris Desa Pentagen, dalam sambutannya menyatakan rasa syukur atas kelancaran acara ini.

"Alhamdulillah, acara berjalan dengan sukses. Kenduri Sudah Tuai dan Turun Sko serta pelantikan Depati Ninik Mamak telah berlangsung tanpa hambatan, dan ini semua berkat dukungan penuh dari seluruh masyarakat Desa Pentagen," ujar Hatim.

Prosesi pelantikan Depati Ninik Mamak dilakukan secara sakral dengan tradisi yang khas, yaitu di atas kepala sapi yang disumbangkan oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Pentagen. Sapi tersebut merupakan simbol kekuatan dan kemakmuran bagi masyarakat desa, dan tradisi pelantikan di atasnya menjadi simbol tanggung jawab besar yang diemban oleh Depati Ninik Mamak dalam menjaga adat istiadat serta memimpin masyarakat.

Acara Kenduri Sudah Tuai dan Turun Sko sendiri merupakan tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang melimpah dan permohonan berkah di masa mendatang. Kenduri Sudah Tuai menandai berakhirnya musim panen, sedangkan Turun Sko adalah kenduri adat yang dilakukan sebagai tanda hormat kepada leluhur dan para pemangku adat.

Karang Taruna dalam menyelenggarakan acara ini dari awal hingga akhir mendapatkan apresiasi luas. Ketua Karang Taruna, Kuswandi, menyatakan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan budaya adat serta mengajak generasi muda agar lebih peduli terhadap nilai-nilai tradisional yang menjadi identitas desa.

Dalam acara tersebut, masyarakat Desa Pentagen juga turut menyumbangkan hasil panen mereka dalam bentuk makanan khas desa melalui pengajian adat klob yang lima sebagai wujud syukur yang kemudian dibagikan kepada seluruh warga desa. Suasana kebersamaan sangat terasa, dengan berbagai rangkaian acara adat yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Depati Ninik Mamak yang baru diharapkan dapat memimpin masyarakat Desa Pentagen dengan bijaksana dan melestarikan adat serta budaya desa yang telah diwariskan turun temurun. (rdp)


Jejak Pengaruh Hindu-Budha di Kerinci

 

Jejak Pengaruh Hindu-Budha di Kerinci

Editor: Suhardiman Rusdi

Sejak abad ke-7-14 Masehi Sumatera termasyur dengan Kerajaan melayu dan Sriwijaya yang pernah beribukota di Jambi dan Palembang. Secara geografis Kerinci letaknya tidak jauh dari pusat-pusat Kerajaan Melayu di Muara jambi (Jambi), Dharmasraya dan Pagaruyung (Sumatera Barat) yang telah mendapat pengaruh budaya dari India. Pada masa itu, Kerinci merupakan sumber komoditi dagang bagi kedua kerajaan tersebut (McKinnon, 1992: 134-135; Dobbin, 1983: 61;Kozok, 2006: 28-29).

Adanya hubungan Kerinci dengan kedua daerah tersebut dibuktikan dengan ditemukannya surat-surat (piagam) dari sultan Jambi dan sultan Inderapura (Sumatera Barat) kepada para depati di Kerinci pada masa Islam. 

 Indikasi adanya pengaruh Hindu-Budha di Kerinci dapat terlihat pada pahatan yang terdapat pada arca batu berbentuk bulat yang ditemukan di Muak-kerinci. Arca batu ini memiliki pahatan manusia yang mirip dengan yang terdapat pada megalit di Benik-kerinci (Bakels, 2009: 377). 

Pada batu ini dipahatkan dua ekor kuda, yang salah satu di antaranya digambarkan dengan penunggangnya. Selain itu juga terdapat pahatan dua manusia, yang satu laki-laki di antaranya digambarkan dengan mengenakan topi panjang dan mengendarai gajah (Bakels, 2009: 378).

 Menurut Govindarajanar Deivanayagam, tokoh ini dapat diidentifikasikan sebagai Muruga (Sevvel), yaitu dewa pemburu dalam pantheon Hindu di Tamil (Chola). Penggambaran topi dan anjing pemburu dalam arca batu di Muak memperkuat identifikasi tokoh tersebut (Bakels, 2009: 379). 

Adanya pengaruh Tamil di Kerinci bukan merupakan hal yang aneh, mengingat nama kerinci, yang kemungkinan juga berasal dari kata kurintji, yaitu sejenis bunga yang secara khusus dikenal dalam ikonografi Tamil sebagai simbol area hutan pegunungan dan yang secara langsung dapat merujuk kepada Muruga (Bakels, 2009: 379).

Adanya pengaruh Hindu-Budha di Kerinci, selain tampak pada tinggalan megalit dan arca batu di Muak, juga tampak dari adanya pemujaan kepada para leluhur para penguasa Kerinci yang disebut dengan Batara Guru. Nama ini dapat dihubungkan dengan Dewa Siwa dalam agama Hindu (Bakels,2009: 377).

Selain arca dari pantheon Hindu, di Kerinci juga pernah ditemukan dua arca yang berasal dari agama Budha, yaitu arca Padmapani dan arca Awalokiteswara. Kedua arca tersebut sekarang menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta. Dalam buku inventaris Museum Nasional tidak disebutkan lokasi penemuannya, selain hanya informasi bahwa kedua arca tersebut berasal dari Kerinci (Utomo, 2011:84-86).

Indikasi adanya pengaruh budaya Hindu-Budha (Klasik) di Kerinci juga ditandai dengan ditemukannya dua arca yang berlatar belakang agama Budha, yaitu arca Padmapani dan arca Awalokiteswara. Arca Padmapani sudah dalam keadaan tidak utuh, karena bagian kaki kirinya hilang. Arca ini digambarkan dalam posisi berdiri dan memiliki dua tangan. Tangan kanan dalam sikap waramudra dan tangan kiri memegang lotus. Rambut disanggul ke atas membentuk mahkota yang biasa dikenal dengan istilah jatamakuta. Rambut-rambut ikal tampak menjuntai di bagian pundak kanan dan kiri.

 Arca ini digambarkan mengenakan jamang yang tampak di bawah mahkota. Pakaian yang dikenakan berupa kain tipis panjang sampai sebatas mata kaki. Pakaian tersebut menutupi bagian pinggang ke bawah. Sementara itu, bagian atas tubuh dibiarkan terbuka. Sebagai pengikat kain digunakan ikat pinggang berupa untaian manik-manik berhias bunga dan sebuah sampur menjuntai di bagian perut. Tali kasta (upavita) berupa pita dengan ukuran agak lebar. Perhiasan yang dipakai, yaitu kalung dan sepasang gelang lengan berhiasakan bunga. (Utomo, 2011: 84). 

Arca Padmapani dari Kerinci ini sekarang menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris 6042. Arca ini dibuat dari perunggu dengan ukuran tinggi 16 cm. Menurut Nik Hassan Shuhaimi dilihat dari penggambaran ikat pinggang yang dikenakan arca Padmapani yang ditemukan di Kerinci memperlihatkan adanya kemiripan dengan penggambaran ikat pinggang pada arca-arca yang berasal dari Candi Sari, Yogyakarta (Shuhaimi, 1982: 166-7).

Disebutkan pula bahwa gaya tatanan rambut arca Padmapani dari Kerinci seperti gaya tatanan rambut arca-arca Awalokiteswara yang memakai kulit harimau. Sementara itu, Sulaiman mengatakan bahwa arca Padmapani dari Kerinci tampil dalam gaya seperti arca Padmapani di Thailand (Sulaiman, 1981: 44; Diskul 1972: 12; Diskul, 1980: 1 dan 23). 

Bila diperhatikan pada penggambaran gaya pakaiannya, arca Padmapani dari Kerinci memperlihatkan adanya pengaruh gaya seni Jawa Tengah (gaya Sailendra). Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa arca Padmapani dari Kerinci ini berasal dari abad ke-8-9 Masehi. 

Arca Awalokiteswara dengan nomor inventaris 833 yang menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta ini disebutkan berasal dari Kerinci, meskipun tidak diketahui lokasi penemuannya. Arca ini berukuran tinggi 24,5 cm dan dibuat dari perunggu. 

Seperti arca Padmapani, arca Awalokiteswara dari Kerinci ini juga sudah dalam keadaan rusak, terutama kedua bagian tangannya yang patah mulai dari siku hingga ke jari-jari yang hilang. Arca digambarkan dalam posisi berdiri di atas lapik berbentuk padmasana ganda dengan kaki lurus sejajar (samabhayoga). Bagian tubuh terdapat tali kasta (upawita) yang disampirkan dari pundak sebelah kiri ke bagian atas pinggul kanan, dan memakai perhiasan kalung. Pada telinganya tidak mengenakan anting. 

Mahkotanya berupa pilinan rambut (jatamakuta) yang agak tinggi. Di bagian depan mahkota terdapat relung yang berisi gambar tokoh Amitābha. Kain yang dikenakan merupakan kain panjang (dhoti) dari pinggang hingga bagian atas mata kaki. Kain panjang ini diikat dengan tali. Kain ini memiliki wiru di bagian tengah di antara kedua kaki. Gaya kain panjang dengan wiru ini biasa dikenakan pada arca-arca dari Situlpavuva yang berkembang pada sekitar abad ke-7 Masehi (Utomo, 2011: 85-86).

Pengaruh Hindu-Budha di Kerinci dapat diketahui juga dari sumber tertulis dalam bentuk naskah kuno Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah (KUUTT). Naskah ini disimpan di sebuah Rumah Gedang yang merupakan pusaka Leluhur Luhah-kalbu  Tatala (Depati Talam), Desa Tanjung Tanah Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.(Suhardiman,R.2024). 

Teks pada naskah ditulis di atas daluang (Broussonetia papyrifera Vent) dengan menggunakan dua aksara, yaitu aksara Pasca Pallawa (aksara Melayu) dan aksara incung (rencong) (Kozok, 2006). 

Bahasa yang digunakan untuk menulis naskah ini ada dua, yaitu bahasa Sansekerta yang menjadi awal dan akhir naskah. Isi naskah KUUTT berkaitan dengan undang-undang kejahatan dan hukuman denda yang diberlakukan di Kerinci. Dalam naskah ini juga ditekankan akan arti penting peranan para dipati di Kerinci, sehingga ditetapkan bahwa “barang siapa tidak taat pada dipati didenda dua perempat tahil. (Kozok,2006). 

Pemakaian bahasa Sansekerta dan aksara Pasca Palawa menunjukkan adanya pengaruh India dalam naskah yang ditemukan di Desa Tanjung Tanah, Kecamatan Danau Kerinci. Naskah berbahasa Sansekerta terletak di bagian awal dan akhir naskah. Adapun kalimat di awal naskah yaitu:

(2) (Aum) (bé?) (...) swasti seri saka (warsa) tita (...)Masa wésaka (...) Om Jyasta masa titi keresnapaksa

Di wase(b)an peduka seri maharaja karetabesa seri gandawangsa Maredana, maga-(...) karetabesa (...) (.)

Terjemahan:

Om. Pada tahun Saka yang baru lalu, pada bulan Vaisakha. Om. Pada bulan Jyaista, di fase bulan mati Di Waseban paduka Sri Maharaja Yang Menyembuhkan Segala Jenis Racun (?), Yang Lahir Dalam Dinasti Harum, Yang Pertama Antara Para Pegawai Tinggi dan Panglima, Yang Menyembuhkan Segala Jenis Racun (?), yang mulia...

Kalimat berbahasa Sansekerta di bagian akhir yaitu: Pranemya diwang sirsa (a) maléswarang Seloka Dipati Aum Pranemya a serisa diwam, terilukya dipati stutim, nana-seteru  deretang wak(eti) Nitri satria-samuksayam.

Terjemahan:

Sembah dengan (menundukkan) kepala kepada Sang Dewa Suci Seloka Dipati. Om, sembah dengan (menundukkan) kepala kepada Sang Dewa. Pujaan kepada Sang Dipati di tiga buana, (ialah) surga, dunia, dan pretala. Sang pembela (negeri) terhadap aneka musuh, yang berkata tegas. Pemimpin para satriya

Penyebutan kata “Om” dan “Dewa” di bagian akhir naskah berbahasa Sansekerta menunjukkan unsur pemujaan kepada dewa, yang umum digunakan bagi para pemeluk agama Hindu atau Budha. Begitupun dengan “tiga buana” menunjukkan adanya pembagian tiga dunia yang dikenal di dalam agama Hindu dan Budha, yaitu bhurloka yang dapat disamakan dengan pretala; bhwarloka yang identik dengan dunia; dan swarloka yang dapat disamakan dengan surga.Yang menarik dari naskah ini adalah disebutnya nama raja Dharmasraya sebanyak dua kali. 

Kerajaan Dharmasraya dalam sejarah Melayu dikenal dalam prasasti Amoghapasa dari Rambahan, Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Arca yang dikirim oleh Kertanegara dari Singasari dari abad ke-13 ini dipersembahkan pada raja Melayu Sri Mauliwarmadewa, yang beribukota di Dharmasraya. Nama Dharmasraya kembali muncul pada abad ke-14 Masehi saat Adityawarman menjadi raja di Kerajaan Melayu. 

Namun, saat itu pusat pemerintahan sudah berpindah ke daerah Suruaso, di Pagarruyung. Dalam prasasti-prasastinya, Adityawarman menyebut dirinya sebagai “maharajadiraja”. Dalam naskah KUUTT, hanya disebut “raja Dharmasraya” sehingga, saat itu Kerinci ada di bawah kekuasaan raja Dharmasraya, bukan di bawah kekuasaan Kerajaan Melayu yang berpusat di Suruaso. Fakta ini didukung dari hasil pertanggalan radio karbon terhadap sampel daluang naskah yang menghasilkan angka 553 + 40 BP (1397 + 40 tahun) atau 1357-1437 Masehi (Kozok, 2006: 78-81).Selain pengaruh India, tampaknyapada masa klasik di Kerinci juga mendapat pengaruh dari Tamil. Selain arca Muruga, yang telah disebutkan di atas.

 Nama Kerinci dalam naskah KUUTT disebut dengan nama “Kurinci, yaitu nama bunga (strobilanthes) yang hanya ditemukan di pegunungan dan hanya berkembang sekali dalam kurun waktu dua belas tahun. Menurut kosmologi orang Tamil, bumi Tamil dibagi menjadi lima daerah, dan salah satu di antaranya, yaitu daerah pegunungan yang dinamakan Kurinci sesuai dengan nama bunga yang khas di Pegunungan Tamil. (MCKinnon, 1984). 


Bagian teks yang berbahasa Sansekerta tersebut diterjemahkan oleh I Kuntara Wiryamartana dan Thomas Hunter. Setelah kalimat awal dalam naskah berbahasa Sansekerta menyebutkan “anugerah titah Sanghyang Kemitan kepada penguasa di Bumi Kerinci” dengan peringatan agar penduduknya“jangan tidak taat kepada dipatinya masing-masing.” Setelah kalimat berbahasa Sansekerta ini kemudian diikuti dengan kalimat berbahasa Melayu.

Bahasa Sansekerta digunakan kembali di bagian terakhir alinea yang menyebut bahwa undang-undang disusun atas perintah maharaja Dharmasraya dan bahwa “para pembesar bumi Kerinci (...) memberi perhatian sepenuhnya.” Semua yang terjadi pada sidang besar “ditulis dengan lengkap oleh Kuja Ali, Dipati, di balai kerapatan, di Palimbang, dihadapan maharaja Dharmasraya” (Kozok, 2006: 58-59).

Menurut Kozok (2006: XV-XVI) ada lima alasan untuk menyatakan bahwaa KUUTT merupakan naskah Melayu tertua:

1. Di dalam teks naskah tidak terdapat kata serapan dari bahasa Arab.

2. Maharaja Dharmasraya dua kali disebut dalam KUUTT, sementara kerajaan Dharmasraya hanya disebut pada sumber-sumber sejarah dari abad ke-13 dan ke-14.

3. Sebagian besar naskah ditulis dalam bahasa Melayu, namun terdapat juga kata pengantar serta penutup yang berbahasa Sansekerta, yang memuja Maharaja Dharmasraya. Hal itu sangat berbeda dengan konvensi yang biasa terdapat pada teks yang berasal dari zaman Islam. 

4. Pada naskah KUUTT, selain teks beraksara pasca-Palawa, terdapat satu lagi teks yang beraksara incung. Jenis aksara yang digunakan di sini jelas lebih tua daripada semua naskah Kerinci yang selama ini diketahui.

5. Naskah KUUTT tertanggal dengan menggunakan penanggalan tahun Saka, namun tahunnya tidak terbaca. Penggunaan tahun Saka dan bukan tahun Hijrah jelas menunjukkan bahwa KUUTT berasal dari zaman pra-Islam.(adz)

[Editor    :  Suhardiman Rusdi ; Sumber :  Kerinci Pada Masa Klasik ; Retno Purwanti Balai,  Arkeologi Sumatera Selatan]

Copyright © Merdekapost.com. All rights reserved.
Redaksi | Pedoman Media Cyber | Network | Disclaimer | Karir | Peta Situs